
❣️ Satu minggu kemudian ❣️
Abimana menurunkan sebuah kursi roda dari mobilnya lalu dia kembali masuk ke mobil tersebut untuk membantu Vera turun dari dalam mobil.
"Hati-hati, ma," kata Abimana sambil membantu Vera turun dari dalam mobil lalu naik ke atas kursi rodanya. Tak berselang lama, seorang wanita cantik terlihat berjalan keluar dari rumah sambil mendorong stroller Sharen.
"Abi, apa maksud dari semua ini? Kenapa wanita itu ada di rumah ini?"
"Ma, mengertilah. Sharen membutuhkan seorang ibu, begitupula dengan diriku yang juga membutuhkan seorang istri."
"Maksudmu, kau akan menikah dengan wanita itu?"
"Tentu saja, Abi sangat mencintai Ghea, ma."
"Dasar, kau benar-benar tidak waras, Abimana! Istrimu baru saja meninggal, dan kau kini sudah merencanakan untuk menikah dengan wanita lain!"
"Memangnya dimana kesalahan, Abimana ma? Bukankah seorang laki-laki diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu orang? Apalagi saat ini Amanda sudah meninggal, Abi benar-benar memerlukan seorang istri, ma!"
"Dasar, apa yang ada di otakmu itu hanya cara untuk memenuhi nafsumu saja!"
"Tolonglah ma, tolonglah mengerti keadaan Abimana sedikit saja."
"Bukan mama tapi kau yang selalu berbuat sesukamu tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain, Abimana! Sayangnya mama terlambat menyadarinya, jika mama tahu ternyata kau sangat licik dan tidak pernah benar-benar menyayangi Amanda, mama tidak akan membiarkan Amanda menikah dengan laki-laki seperti dirimu!!"
"Cukup ma, Abi tidak ingin berdebat dengan mama."
Ghea dan Sharen pun kini sudah ada di depan Abimana.
"Abi, kita jadi pergi berbelanja kan?"
"Tentu saja, Ghea, sebentar ya."
"Biiiii... Bibiiii!!" Panggil Abimana.
Seorang asisten rumah tangga lalu mendekat ke arah mereka.
"Iya Tuan."
"Tolong bawa mama masuk ke dalam rumah."
"Baik Tuan." Asisten rumah tangga tersebut lalu mulai mendorong kursi roda Vera masuk ke dalam rumah, sementara Vera yang duduk di atas kursi roda tersebut, hanya bisa menatap Abimana dengan tatapan tajam.
'Abimana, saat ini kau boleh merasa menang, tapi aku yakin, suatu saat Amanda pasti akan kembali dan membalas semua yang telah kau lakukan padanya. Aku yakin Amanda masih hidup. Rayhan pasti tidak bodoh, malam itu pasti Rayhan berhasil menyelamatkan Amanda, itulah alasannya pada saat acara pemakaman dia tampak begitu tenang, dan aku yakin wanita yang menangis di balik pintu rumah sakit itu adalah dirimu, Amanda,"
🍒🍒🍒
Rayhan menutup panggilan di ponselnya.
"Kau sudah siap, Amanda? Kak David baru saja menelponku, dia sudah memastikan keamanan di rumah sakit ini, kita bisa keluar sekarang."
"Ya."
"Ayo kita keluar sekarang, jangan lupa kau pakai maskermu, kita harus tetap berhati-hati meskipun ini sudah malam."
"Iya, Rayhan."
__ADS_1
Rayhan lalu mendorong kursi roda Amanda keluar dari kamar perawatan tersebut lalu berjalan keluar dari rumah sakit kemudian bergegas memapah Amanda masuk ke dalam mobilnya setelah mengembalikan kursi roda milik rumah sakit tersebut.
"Kau siap, Amanda."
"Ya." Rayhan lalu melajukan mobilnya menuju ke apartemen miliknya.
Amanda lalu melirik pada Rayhan yang tampak serius mengendarai mobilnya.
"Kita mau kemana Ray?"
"Apartemenku."
"Apartemenmu?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, apartemenku. Kita berdua akan tinggal di apartemenku, gedung apartemen yang sama dengan Vallen dan Firman agar memudahkan pekerjaan kita." Raut kecemasan pun kini timbul di wajah Amanda. Rayhan yang melihat raut wajah Amanda yang berubah lalu tersenyum.
"Kau tenang saja, aku tidak akan berbuat sesuatu hal yang buruk padamu, kita akan tidur di kamar yang berbeda, tolong percayalah padaku karena untuk saat ini tidak ada orang lain yang kupercaya untuk melindungi dirimu kecuali diriku sendiri. Aku takut jika kau tinggal sendiri, sesuatu hal bisa saja terjadi padamu. Lagipula kita tinggal di apartemen yang sama dengan Vallen, jika aku berbuat jahat padamu kau bisa menghubungi mereka. Tolong percayalah padaku, Amanda."
Amanda lalu memandang Rayhan sambil tersenyum. "Iya Ray, aku percaya padamu. Jika kau ingin berbuat jahat padaku, kau bisa saja melakukannya saat aku sedang koma, tapi kau sudah begitu baik padaku."
"Terimakasih atas kepercayaanmu, Amanda."
"Ya."
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di apartemen. Rayhan kemudian membantu Amanda keluar dari mobil lalu berjalan keluar dari basemen, namun saat sedang berjalan, tiba-tiba Amanda terdiam.
"Kau kenapa, Amanda?"
"Tidak apa-apa."
"Tidak Ray, aku ha..." Belum sempat Amanda menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Rayhan sudah mendekat ke arahnya lalu membopong tubuh Amanda.
"Maafkan aku sudah lancang padamu, tapi aku harus melakukan ini. Aku hanya tidak ingin kau merasakan sakit."
"Iya, tidak apa-apa. Terimakasih banyak Ray."
"Ya."
Rayhan lalu membawa Amanda berjalan ke arah lift, namun saat pintu lift terbuka, tampak Vallen dan Firman ada di dalam lift tersebut.
"AAAAAAA APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRI ORANG, RAYHAN!!! KAU CA*UL SEKALI!! JANGAN-JANGAN KAU PENJAHAT KELA*IN!!"
Mendengar teriakkan Vallen, Rayhan lalu menurunkan tubuh Amanda. Sedangkan Firman kemudian membungkam mulut Vallen. "Jangan bicara sembarangan, Vallen. Rayhan pasti memiliki alasan kenapa dia sampai menggendong Amanda. Benar kan Ray?"
"Ya, tadi saat Amanda berjalan di basemen dia sedikit kesakitan jadi aku membopong tubuhnya."
"Kau dengar sendiri kan Vallen?" gerutu Firman.
"Maafkan aku Ray," kata Vallen sambil terkekeh.
"Amanda perkenalkan, dia Firman. Dia suami Dokter Vallen dan salah satu manager di perusahaanmu, dia sangat pintar, kau besok bisa mulai belajar dengannya."
Amanda kemudian tersenyum. "Terimakasih banyak karena sudah menyelamatkan perusahaanku dari tangan jahat Abimana, Firman."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya Amanda."
__ADS_1
"Amanda saja."
"Ya."
"Besok aku minta tolong kau ajari aku tentang semua hal yang berhubungan dengan perusahaan kita."
"Ya, tentu saja saya akan mengajari semua hal yang saya tahu pada anda."
"Terimakasih."
"Emh Rayhan, Amanda, kami pergi dulu. Aku sedang ingin makan makanan asam."
"Kau sedang hamil Dok?"
"Iya Amanda, aku sedang hamil. Akhirnya Firman bisa menghamiliku, hahahahaaa."
"VALLEN!!" kata Firman sambil memelototkan matanya.
"Hahahaha, maaf. Sampai bertemu besok, Amanda, Rayhan, kami pergi dulu."
"Ya."
"Firman, gendong aku!!" teriak Vallen saat membalikkan tubuhnya.
Amanda dan Rayhan lalu mengangguk sambil melihat Firman dan Vallen yang berjalan meninggalkan mereka. Amanda lalu melirik Rayhan yang kini sedang tersenyum kecut disertai mata yang mulai berembun.
'Rayhan menangis?' gumam Amanda.
"Rayhan, ayo kita masuk. Liftnya sudah terbuka."
"Oh... E.. Iya Amanda," ucap Rayhan sambil mengucek matanya. Mereka kemudian masuk ke dalam lift.
"Kau menangis?"
"Tidak, mataku hanya terkena debu,"
"Oh."
"Bagaimana dengan dadamu? Apa perlu kugendong lagi?" tanya Rayhan saat pintu lift terbuka.
"Tidak, sudah tidak sakit. Aku bisa berjalan sendiri, Ray."
"Oh baiklah."
Mereka kemudian berjalan keluar dari lift. 'Rayhan, apakah wanita di masa lalumu itu Dokter Vallen?' gumam Amanda sambil melirik Rayhan.
Note:
Yang belum terbiasa sama tingkah bar-barnya Vallen harap dibiasakan, tokoh yang satu ini emang paling sulit dikendalikan 😌
Wajib tinggalin jejak ya dear 😘🥰❤️
Tolong add akun ig sama fb akun nya othor juga ya, mulai hari Kamis mau ada promo dari othor dan juga GA Ramadhan.
IG : queenweny
__ADS_1
FB : Weny Hida