Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Rumah Sakit


__ADS_3

"GHEAAAAA!!" teriak Abimana sambil mencari Ghea ke sekelilingnya. Tiba-tiba sebuah kerumunan di sebuah persimpangan di dekat fly over itu menarik perhatiannya. Abimana pun bergegas menuju kerumunan tersebut, dan melihat Ghea yang terkapar tidak sadarkan diri di atas aspal disertai beberapa luka pada tubuhnya, darah pun mengalir deras di pelipisnya.


"Astaga, Ghea!!" teriak Abimana lalu mendekat pada tubuh Ghea. Beberapa orang anak buah Rayhan lalu mendekat padanya.


"Ayo kami antarkan ke rumah sakit, tadi istrimu mencoba melarikan diri dan dia terserempet mobil ketika kami mengejarnya."


Abimana lalu menganggukkan kepalanya kemudian mengangkat tubuh Ghea ke dalam mobil anak buah Rayhan.


"Maafkan aku, Ghea," ucap Abimana saat melihat wajah pucat Ghea yang kini ada di pangkuannya, pakaian Abimana pun kini bersimbah darah. Dia kemudian mengambil ponselnya mencoba menghubungi seseorang tapi panggilan itu tidak dijawabnya.


🍒🍒🍒


"Selamat pagi, ma," kata Amanda dan Rayhan bersamaan saat duduk di meja makan untuk sarapan.


"Selamat pagi."


"Rayhan, Amanda. Sebenarnya ada yang ingin mama katakan pada kalian berdua.


"Ada apa ma?"


"Apa tidak sebaiknya kalian membeli rumah saja? Mama tahu apartemen ini sangatlah nyaman dan memiliki banyak kenangan bagi kalian tapi saat ini kalian memiliki dua orang anak, belum lagi jika Amanda hamil anakmu, Ray. Hidup di apartemen sedikit kurang cocok untuk anak-anak karena anak-anak tidak bisa bermain dengan bebas."


"Iya benar apa yang dikatakan oleh Bu Ela, sebaiknya kalian membeli sebuah rumah saja. Tinggal di apartemen memang kurang cocok untuk anak-anak karena anak-anak tidak bisa bermain dengan bebas, bukannya mama tidak percaya pada pengasuh Sharen dan Kenzo tapi kita juga perlu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan mereka berdua, mereka masih kecil. Mereka bahkan tidak tahu apa yang mereka perbuat itu berbahaya bagi dirinya atau tidak, kau sering melihat kan ada anak kecil yang terjatuh dari apartemen mereka, padahal orang tua mereka sudah mengawasi mereka dengan sebaik mungkin."


"Mama dan Tante Vera tenang saja, Rayhan sudah memikirkan semua itu, kami tidak mungkin tinggal di apartemen ini selamanya. Rayhan sebenarnya ingin mengajak Amanda kembali ke rumah yang ditinggali oleh Tante Vera tapi Rayhan tahu jika Amanda tidak mau tinggal di rumah itu lagi karena menurutnya banyak kenangan bersama Abimana yang tidak ingin dia ingat, jadi kemarin saat sudah menjual rumah itu, Rayhan langsung membeli rumah baru di sebuah komplek perumahan yang tidak jauh dari apartemen ini, karena sampai kapanpun apartemen ini tidak akan Rayhan jual karena tempat ini penuh kenangan bagi kami berdua. Iya kan sayang?"


Amanda kemudian tersenyum.


"Tapi Ray, aku masih ingin tinggal dekat dengan Vallen karena dialah satu-satunya temanku saat ini yang benar-benar bisa mengerti keadaanku."

__ADS_1


"Kau tenang saja sayang karena rumah kita akan bersebelahan dengan rumah Firman dan Vallen, beberapa hari yang lalu aku dan Firman sudah mencari komplek perumahan yang cocok untuk kami berdua dan kami sudah menemukan komplek perumahan yang tidak jauh dari sini. Kau tahu sendiri kan sebentar lagi Vallen akan melahirkan, jadi Firman pun memutuskan untuk mencari rumah secepatnya sebelum Vallen melahirkan."


"Jadi rumah kita akan bersebelahan dengan Vallen?"


Rayhan kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sharen, Kenzo, dan anak Vallen akan menjadi teman yang baik."


"Yaaa, terimakasih banyak Ray. Kau selalu memikirkan semuanya dengan baik."


"Sama-sama, karena aku tahu kau tidak mungkin bisa jauh dari mereka."


"Iya."


"Putraku memang sangat pintar," ucap Ela pada Vera sambil terkekeh yang dibalas dengan senyuman.


"Iya, Amanda sangat beruntung bisa bertemu dengan Rayhan, entah apa yang terjadi jika Amanda


Di saat itulah ponsel Rayhan pun berdering, Rayhan kemudian mengangkat panggilan itu. Amanda pun mengerutkan keningnya saat melihat Rayhan yang raut wajahnya kini menggambarkan kecemasan.


"Ada apa Ray?" tanya Amanda saat melihat Rayhan menutup teleponnya.


"Ghea mencoba melarikan diri, lalu dia terserempet mobil, lukanya cukup parah dan saat ini dia sedang dibawa ke rumah sakit."


"Astaga."


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, Amanda."


"Iya."

__ADS_1


"Mama ikut." kata Vera.


"Bu Ela, bisakah saya titip Sharen sebentar?"


"Tentu saja, ada dua baby sitter yang ada di sini, selesaikan saja urusan anda Bu Vera."


"Terimakasih banyak, ayo kita pergi sekarang Amanda. Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Abimana."


"Iya ma."


Mereka kemudian keluar dari rumah lalu bergegas pergi ke rumah sakit. Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang UGD tempat Ghea mendapat perawatan saat ini. Abimana yang kini duduk di depan ruang UGD pun tersenyum melihat Vera yang kini berjalan menghampirinya, di belakangnya tampak Amanda dan Rayhan yang terlihat panik.


"Mama," ucap Abimana saat Vera sudah berdiri di depannya. Namun Vera hanya menatap Abimana dengan tatapan tajam disertai nafas yang begitu tersengal-sengal.


"Bagaimana keadaan Ghea, Abi?" tanya Amanda saat berdiri di depan Abimana.


"Entahlah dokter yang menanganinya belum keluar dari ruang UGD, tadi pelipisnya sobek dan darah yang dikeluarkan pun cukup banyak, lalu banyak luka memar dan lecet di seluruh tubuhnya."


"Semoga dia baik-baik saja."


"Iya terimaksih, Amanda."


Abimana lalu mengarahkan pandangannya pada Vera.


"Mama, mama baik-baik saja kan? Amanda bisa menjaga Amanda dengan baik kan?"


Vera kemudian mendekat pada Abimana.


PLAK PLAK PLAK

__ADS_1


"AAAABIMMMAAANNNAAAAA!!"


"Mama," kata Abimana sambil memegang pipinya.


__ADS_2