Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Terlambat


__ADS_3

Rayhan sedang menciumi bahu Amanda sambil memeluk tubuh telan*angnya, saat tiba-tiba suara ponselnya berbunyi.


"Mengganggu saja," gerutu Rayhan.


"Lebih baik kau angkat saja Ray, siapa tahu penting."


"Biarkan saja, aku masih ingin bersamamu, kita tidur saja sekarang."


"Iya."


Sementara di ujung sambungan telepon, Abimana tampak begitu kesal.


"Bagaimana Abi?"


"Dia tidak menjawab panggilan teleponku, Ghea."


"Mungkin dia sudah tidur."


"Mungkin, lebih baik kuhubungi besok pagi saja."


"Iya, Abi bagaimana kalau besok kita pergi ke mall saja, sayang. Aku juga ingin membeli baju baru untuk serah terima jabatanmu sebagai CEO."


"GHEAAAAA!! APA KAU TIDAK BISA BERFIKIR JERNIH, GARA-GARA KAU YANG TIDAK BISA MENGEREM NAFSU BELANJAMU AKU JADI MENJUAL MOBIL MEWAHKU DAN MENAIKI MOBIL KALENG ITU!!!" bentak Abimana yang membuat Ghea tertunduk.


🍒🍒🍒


Sebuah mobil sedan warna biru tampak berhenti di depan gerbang sebuah rumah dua lantai. Seorang wanita yang ada di dalam mobil tersebut tampak mengambil sebuah kaca di dalam tasnya kemudian merapikan riasannya.


"Sudah dua bulan kita tidak bertemu mas, semoga waktu dua bulan itu cukup untuk menenangkan perasaanmu dan bisa memaafkan kesalahan yang telah kuperbuat padamu. Sekarang aku telah berubah, aku sudah mulai bisa sedikit mengendalikan ego dan keegoisanku, semoga kau bisa melihat perubahan pada diriku saat ini dan mau kembali bersamaku lagi, mas," kata wanita itu sambil tersenyum, dia lalu keluar dari dalam mobilnya kemudian berjalan ke arah pintu rumah tersebut. Namun sebelum wanita itu mengetuk pintu rumah, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut, senyum pun kemudian tersungging di bibirnya saat melihat tamu yang kini sudah berdiri di depannya.


"Inara," sapa wanita paruh baya tersebut yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki berusia tujuh bulan, di belakang wanita paruh baya tersebut ada seorang baby sitter yang membawa perlengkapan bayi tersebut dengan sebuah stroller di sampingnya.


"Tante Ela, apa kabar?"


"Baik Inara, bagaimana kabarmu dan kedua orang tuamu?"


"Baik tante, mereka semuanya sehat."


"Syukurlah."


"Tante mau kemana? Lalu siapa bayi laki-laki ini?"


Mendengar pertanyaan Inara, Ela pun terlihat sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"Bayi ini namanya Kenzo, tante mau mengantarkan Kenzo pulang ke tempat orang tuanya."


"Oh, memang Kenzo ini anak siapa tante? Apa dia anak dari kerabat tante?"


"Oh Kenzo ini cucu tante, dia putranya Rayhan. Inara, Rayhan sudah menikah lagi, istri baru Rayhan sudah memiliki seorang putra yaitu Kenzo, dan tante mau mengantarkan Kenzo pulang karena tadi malam Kenzo menginap di rumah tante."


Mendengar perkataan Ela, seketika perasaan Inara pun begitu hancur, hatinya terasa remuk redam, seluruh tubuhnya bergetar menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Namun Inara tetap berusaha tegar, menahan air mata yang seakan sudah tidak bisa ditampungnya lagi.


"Oh, jadi Mas Rayhan sudah menikah lagi, tante?"


"Iya Inara."


"Semoga Mas Rayhan bahagia dengan istri barunya, tante. Maaf jika Inara mengganggu, Inara pamit pulang dulu tante. Kapan-kapan Inara berkunjung ke sini lagi."


"Kau tidak menggangu Inara, tante bisa mengantarkan Kenzo kapanpun tante mau, hanya saja besok istri Rayhan mulai bekerja kembali di kantornya, mereka mungkin sedikit kerepotan dan membutuhkan persiapan jadi tante akan berkunjung ke apartemen mereka untuk membantu mereka mengurus Kenzo dan apartemen mereka."


"Oh iya tante, tidak apa-apa. Inara pulang dulu."


"Iya Inara, hati-hati di jalan."


"Iya tante," jawab Inara kemudian membalikkan tubuhnya lalu bergegas berjalan ke arah mobilnya untuk menutupi air mata yang kini sudah mengalir deras membasahi wajahnya. Dia pun bergegas masuk ke dalam mobil lalu menangis sejadi-jadinya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mas, ternyata memang benar, sudah ada wanita lain yang kau cintai, kupikir saat kau mengatakan seperti itu karena kau sedang marah padaku, kenapa kau melewatkanku begitu saja mas? Padahal aku terlebih dulu hadir dalam hidupmu dan pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Saat ini aku benar-benar sudah berubah, aku bukan lagi Inara yang egois, tapi ternyata aku terlambat. Terkadang, aku menyadari kebodohanku yang tidak pernah bisa berhenti mencintaimu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku jika sampai saat ini hanya kau satu-satunya laki-laki yang kucintai dalam hidupku," ucap Inara sambil terisak. Dia kemudian membuka tangan yang menutup wajahnya lalu melihat mobil Ela yang keluar dari rumahnya. Bergegas Inara menghapus air matanya.


Inara kemudian mengendarai mobilnya di belakang mobil Ela dengan hati-hati agar Ela tidak mengetahuinya.


🍒🍒🍒


"Rayhan, lepaskan pelukanmu. Ponselmu sejak tadi terus menerus berbunyi, Ray."


"Mengganggu saja," gerutu Rayhan kemudian mengambil ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Rayhan lalu melihat sebuah nama yang ada di layar ponselnya.


"Abimana," kata Rayhan, dia kemudian mengangkat panggilan itu.


[Halo Abimana.]


[Hai pengacara bodoh, bukankah kau sudah berjanji untuk memberikan hak waris semua kekayaan milik Amanda pada putri kami, Sharen? Ini sudah enam bulan sajak kematian Amanda, kau harus menepati janjimu dan jangan coba-coba untuk terus menerus mengulur waktu!]


[Aku tidak mengulur-ulur waktu Abimana, besok akan ada pergantian CEO di kantor, pukul delapan pagi kita akan mengadakan rapat besar di aula kantor.]


[Jadi benar besok akan ada pergantian CEO di kantor? Kau tidak bohong kan?]


[Tentu saja tidak, kau bahkan boleh membawanya seluruh keluargamu karena acara ini pasti menjadi hari paling penting dan hari paling bersejarah sepanjang hidupmu.]

__ADS_1


[Bagus, sepertinya kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik.]


[Tentu saja, sampai bertemu besok Abimana persiapkan dirimu sebaik mungkin.]


[Aku akan mempersiapkan diriku sebaik mungkin.] jawab Abimana sambil terkekeh.


Mendengar perkataan Abimana, Rayhan lalu tersenyum kemudian menutup teleponnya dan mendekatkan tubuhnya pada Amanda yang sedari tadi sudah tersenyum saat mendengar percakapan Rayhan dengan Abimana.


"Hahahaha, aku sudah sangat tersiksa dan buru-buru menutup teleponku karena aku sudah tidak bisa menahan tawaku, dia bahkan terlihat begitu percaya diri, Amanda. Hahahaha."


"Aku juga sudah tidak sabar melihat wajah pucatnya, semoga besok dia dan wanita jala*g itu tidak pingsan saat melihat kedatanganku," kata Amanda sambil tersenyum kecut.


"Kau jangan jauh-jauh denganku, aku tidak mau ada orang yang terpikat padamu."


"Hahahaha, tentu saja."


Di saat itulah tiba-tiba ponsel Rayhan kembali berbunyi kembali. "Jangan-jangan Abimana meneleponku lagi," gerutu Rayhan kemudian mengambil ponselnya lagi.


"Mama," kata Rayhan kemudian mengangkat panggilan itu.


[RAYHANNNN KENAPA KAU SULIT SEKALI DIHUBUNGI, MAMA SUDAH MENUNGGU DI BASEMEN SEJAK TADI, MAMA TIDAK TAHU DIMANA KAU TINGGAL! SEKARANG JEMPUT MAMA DI BASEMEN!]


[Oh, iya ma, sebentar.]


Rayhan kemudian menutup teleponnya.


"Amanda, mama sudah menunggu di basemen, ayo kita jemput mereka," kata Rayhan sambil bangun dari tempat tidurnya.


"Iya Ray, tapi tunggu dulu."


"Ada apa lagi Amanda?"


"Pakai bajumu dulu Rayhan!!"


"Astaga!"


NOTE:


Makasih buat yang udah mampir, yang tetep setia & selalu kasih semangat ke othor. Wajib tinggalin jejak, komen yang rame ya biar tetep populer 😂😂🤭


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


Love you dear 🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2