
Abimana kemudian menelepon salah satu anak buahnya.
[Halo, Reza.]
[Iya bos.]
[Tolong kau cari tahu dimana tempat tinggal pengacara sialan yang bernama Rayhan itu, laki-laki itu pengacara yang sering datang ke kantor kita.]
[Ya, saya tahu dia bos.]
[Bagus, lakukan pekerjaanmu sekarang juga, besok kau sudah harus tahu dimana alamat pengacara sialan itu!]
[Baik bos.]
"Awas kau Rayhan, akan kubuat perhitungan denganmu karena kau sudah berani macam-macam denganku." kata Abimana sambil mer*mas perutnya menahan sakit yang kini semakin menyiksanya. Keringat dinginnya pun semakin banyak keluar dari tubuhnya.
"Dimana Ghea?" kata Abimana sambil melihat sekelilingnya.
"GHEAAAA... GHEAAAAA!!!" panggil Abimana.
Mendengar teriakkan Abimana, Ghea pun keluar dari kamar Sharen.
"Dasar, laki-laki kurang ajar! Tadi saat dia menggoda wanita lain dia melupakanku begitu saja, sekarang saat dia kena batunya, dia baru mengingatku! Dasar, memangnya dia pikir aku pembantunya, dasar laki-laki buaya darat yang tidak tahu diri! Sama saja dengan wanita itu, wanita bodoh dan tidak punya harga diri!" gerutu Ghea yang tanpa sengaja didengar oleh Vera saat akan memasuki kamar Sharen.
"Apa yang tadi kau katakan, Ghea?" tanya Vera saat berpapasan dengan Ghea di depan pintu kamar Sharen.
"Tidak ma, aku tidak mengatakan apapun."
"Telingaku masih bisa mendengar dengan jelas semua yang kau ucapkan, Ghea. Tadi kau bilang Abimana menggoda wanita lain? Lalu kau cemburu?"
"Iya ma, tentu saja aku cemburu. Saat ini Abimana adalah suamiku, tentu saja aku cemburu jika dia berdekatan dengan wanita lain."
"Kau berkata begitu seperti tidak melihat bagaimana dirimu. Dimana perasaanmu sebagai seorang wanita? kau tega sekali menyakiti sesama wanita hanya untuk kepentingan egomu saja!"
__ADS_1
"Apa maksud mama? Kenapa tiba-tiba mama berkata seperti itu padaku?"
"Ya, coba kau lihat dirimu sendiri, Ghea. Kau dulu juga menjadi selingkuhan Abimana kan? Lalu sekarang saat Abimana menggoda wanita lain kau juga marah? Apa kau tidak sadar jika apa yang dilakukan oleh wanita yang menggoda Abimana adalah cerminan dirimu di masa lalu? Kau tadi mengatakan jika wanita itu bodoh dan tidak punya harga diri kan? Itulah dirimu, bodoh dan tidak punya harga diri!!"
"Mama! Kenapa mama berkata seperti itu? Bukankah anak laki-laki mama juga bersalah karena dia begitu flamboyan hingga dengan mudahnya tertarik pada wanita lain!"
"Ghea, kau juga seharusnya memahami konsekwensi menikah dengan laki-laki buaya darat seperti Abimana, bukankah dia berselingkuh denganmu di belakang Amanda, hal itu pun bisa saja dia lakukan di belakangmu. Ingat Ghea, jika kau merebut laki-laki yang sudah memiliki istri, kau juga harus siap jika suatu saat laki-laki itu menghianatimu karena laki-laki seperti itu tidak akan pernah bisa setia dengan satu wanita. Apa kau mengerti?" kata Vera sambil berjalan meninggalkan Ghea yang kini tampak begitu marah padanya.
🍒🍒🍒
TOK TOK TOK
"Amanda, apa kau sudah bangun?"
"Amanda, ayo kita sarapan, aku sudah memesan sarapan untuk kita."
Setelah menunggu di depan pintu selama lima menit, akhirnya pintu kamar Amanda pun terbuka. Namun betapa terkejutnya Amanda saat membuka pintu kamarnya, yang dia lihat bukanlah Rayhan melainkan sebuket bunga mawar merah berukuran besar.
"Apa-apaan ini?"
"Taruh saja di meja." kata Amanda lalu berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Rayhan begitu saja ke arah meja makan. Rayhan pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya kemudian menaruh bunga tersebut di kamar Amanda lalu berjalan keluar dari kamar ke arah meja makan. Rayhan kemudian duduk di samping Amanda yang kini sedang menikmati sarapannya.
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Memangnya kenapa? Kau keberatan jika aku terlebih dulu menyantap sarapanku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu padaku?"
"Pagi ini aku hanya ingin menyuapimu."
"Menyuapiku? Aku bisa sendiri."
__ADS_1
"Amanda, aku rindu saat-saat kau baru saja dioperasi dulu, apa kau lupa bagaimana saat-saat aku merawatmu dulu, aku merindukan itu, Amanda."
"Jadi kau ingin aku kembali masuk ke rumah sakit lagi?"
"Tidak Amanda, aku hanya merindukanmu, merindukan Amanda yang selalu bersikap lembut padaku, aku merindukan senyumanmu untukku."
"Oh. Aku sudah selesai sarapan Ray, aku akan menunggu Firman di sofa."
"Tunggu Amanda."
"Apa lagi?" kata Amanda sambil tetap berjalan meninggalkan Rayhan menuju ke sofa. Namun saat sedang berjalan tiba-tiba sebuah pelukan hangat terasa mendekap tubuhnya.
"Hari ini Firman tidak akan datang karena aku menyuruhnya untuk libur terlebih dulu."
"Apa katamu?"
"Amanda, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini kita akan menghabiskan waktu berdua, tolong maafkan aku. Tolong maafkan aku, Amanda. Aku sangat menyayangimu, tahukah kau aku begitu mencintaimu, bahkan aku sudah mencintai dirimu sebelum kau mengenalku, tahukah kau aku sudah mulai mencintaimu saat kau belum pernah melihat wajahku? Tahukah kau aku sudah begitu nyaman bersamamu meskipun saat itu kita bahkan tidak pernah saling bicara, tahukah kau setiap hari aku menunggumu yang tertidur dan selalu berharap kau bisa membuka matamu saat aku ada di sampingmu, dan akulah orang pertama yang kau lihat terlebih dulu, meskipun pada akhirnya itu tidak terjadi tapi aku bahagia kau bisa kembali sadar dari tidur panjangmu, aku sangat bahagia saat mendengar kau sudah sadar, Amanda.
Rayhan kemudian membalikkan badan Amanda lalu memegang wajahnya. "Aku sudah sangat mencintaimu meskipun saat itu terasa begitu sulit memiliki dirimu karena pada saat itu kau masih menjadi istri dari Abimana, dan aku pun sudah bersama Inara, tapi ternyata takdir semakin mendekatkan kita berdua. Aku yakin kau ditakdirkan untukku, tolong maafkan aku, maafkan aku, Amanda. Aku sangat mencintaimu."
"Tapi kenapa kau selalu memberikan harapan palsu padaku?"
"Itu karena aku takut jika aku mengutarakan perasaanku padamu, sikapmu akan berubah. Aku takut jika cintaku tak terbalas, aku takut jika kau hanya menganggapku sebagai seorang teman, sedangkan hubungan kita juga sebagai rekan kerja, apalagi saat ini kita tinggal dalam satu atap, aku takut kau berubah padaku, Amanda."
"Bukankah aku seringkali memberikan kode padamu jika aku juga mencintaimu."
"Maaf itu memang kesalahanku, aku yang tidak peka. Maafkan aku Amanda. Kau mau kan memaafkan aku?"
Amanda pun menatap Rayhan dengan begitu dalam, kemudian perlahan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya, aku memaafkanmu."
"Terimakasih, terimakasih Amanda," ucap Rayhan kemudian memeluk Amanda.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu," kata Rayhan kemudian melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Amanda yang membuat Amanda tersipu malu. Rayhan kemudian mendekatkan wajahnya pada Amanda, namun baru saja dia menempelkan bibirnya tiba-tiba suara bel pun terdengar.
TETTT TEETTTT