
Saat Inara memasuki lembaga pemasyarakatan, tampak Abimana baru saja selesai bertemu dengan seseorang. Amplop berwarna cokelat yang kini ada di tangan Abimana pun sedikit menarik perhatiannya. Inara pun bergegas mendekat ke arah Abimana yang kini bersiap memasuki area lapas kembali.
"Abimana tunggu."
Abimana pun membalikkan tubuhnya lalu menatap Inara yang berjalan mendekat ke arahnya. "Ada apa Inara, ini sudah sore. Kenapa kau tidak pulang ke rumah?"
"Ada yang ingin kukatakan."
"Apa?"
"Tentang peninjauan kembali yang akan kulakukan."
"Jadi kau sudah bertemu dengan Amanda dan Rayhan?"
Inara kemudian menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Mereka sangat menyetujuinya, mereka bahkan mengatakan sudah menawarkan banding saat kau dijatuhi hukuman mati tapi kau tidak mau kan?"
Abimana kemudian mengangguk. "Bukankah aku lebih pantas menerima hukuman mati? Apa gunanya aku hidup di dunia ini lagi?"
"Abimana, justru saat kau masih hidup di dunia, kesempatanmu untuk bertaubat semakin luas, kau masih bisa memohon ampunan dari Nya melalui ibadah yang kau lakukan setiap hari. Lalu apa kau tidak ingin melihat putra dan putrimu tumbuh besar? Kau pasti ingin melihat mereka tumbuh besar kan? Meski kau hanya bisa melihat fotonya? Aku janji, aku akan rutin meminta foto-foto Sharen dan Kenzo pada Amanda."
"Baiklah jika itu maumu, lagipula peninjauan kembali itu tidak pasti akan meringankan hukumanku kan?"
"Ya tapi aku selalu berharap kau mendapatkan keringanan hukum meskipun itu berupa penjara seumur hidup."
"Dan kau akan menungguku selama menjalani hukuman ini?"
"Ya, bukankah itu alasanku meminta dilakukan peninjauan kembali."
"Lalu bagaimana dengan mama? Apa mama setuju?"
"Ya, Tante Vera pun menyetujuinya. Hanya saja dia memang butuh waktu untuk bisa menerimamu kembali."
"Aku rela jika mama tidak memaafkan aku seumur hidupnya."
"Abimana tolong kau jangan berkata seperti itu. Suatu saat pasti mamamu akan menerimamu karena bagaimanapun juga kau adalah putra kandungnya, darah dagingnya."
Abimana pun terdiam, sementara Inara melihat sebuah amplop berwarna cokelat yang kini ada di tangan Abimana. "Apa itu Abi?"
__ADS_1
"Surat cerai dari Ghea, orang tuanya yang mengurus perceraian kami, dan yang mengantarkan surat ini adalah salah satu kerabatnya karena Ghea saat ini pun sedang menjalani masa tahanan, dia dipenjara selama lima belas tahun."
"Oh," jawab Inara sambil tersenyum.
"Jadi kau sudah resmi bercerai dengannya?"
Abimana pun mengangguk. "Apa kau sedih?"
"Tidak sama sekali, untuk apa aku bersedih? Dia bukanlah wanita yang baik untukku, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Bagus, jadi suatu saat kita bisa menikah kan?"
"Inara proses peninjauan kembali juga belum kita jalani, tapi kau sudah membicarakan pernikahan."
"Apa salahnya berharap? Dan aku yakin suatu saat harapan itu pasti akan menjadi kenyataan."
"Apa kau tidak malu menikah denganku?"
"Hahahaha... Hahahaha."
"Kenapa kau tertawa?"
Abimana pun tersenyum. 'Wanita aneh,' gumam Abimana.
❣️ Satu bulan kemudian ❣️
Inara tersenyum sambil memandang Amanda yang kini duduk di sampingnya saat mendengar vonis sidang peninjauan kembali yang diajukan olehnya.
"Selamat Inara, Abimana akhirnya bisa mendapatkan keringanan hukum, penjara selama dua puluh tahun itu jauh lebih baik dibanding dengan vonis hukum mati yang akan diterima olehnya."
"Iya, terimakasih banyak atas bantuan kalian. Apalagi kau juga sudah mau membujuk Mas Rayhan untuk mau menjadi pengacara dari Abimana. Aku yakin Abimana pasti mendapatkan keringanan karena dia mengakui perbuatannya dan menyerahkan dirinya sendiri ke polisi, selain itu dia juga berkelakuan baik selama menjalani masa tahanan."
"Iya Inara."
Mereka kemudian mendekat pada Abimana yang kini sedang berdiri bersama Rayhan. Inara pun tersenyum pada Abimana. "Selamat Abimana."
"Terimakasih banyak Inara."
__ADS_1
"Abimana gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, perbanyaklah beribadah, jaga perilakumu saat menjalani masa tahanan, tetaplah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik."
"Tentu saja Rayhan."
"Abimana jika kau ingin bertemu dengan anak-anakmu, kau tinggal katakan saja pada Inara, kami akan membawa mereka menemuimu."
"Tidak Amanda, bukankah sudah pernah kukatakan padamu kalau mereka tidak boleh mengenalku, cukup hanya kau dan Rayhan saja yang mereka tahu sebagai orang tua mereka."
"Tapi Abimana... "
"Amanda, tolong aku. Tolong jangan lakukan itu, tolong jangan buat batinku semakin tersiksa."
Amanda kemudian memandang Inara yang memberikan kode padanya untuk menuruti perkataan Abimana. Amanda pun mengangguk. "Baik Abimana, aku akan merahasiakan semua ini. Kau jalani saja hukumanmu sebaik mungkin, kau masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri."
"Iya Amanda, terimakasih banyak."
"Inara, Abimana kami pamit pulang sekarang," ucap Rayhan.
"Iya sekali lagi terimakasih banyak," jawab Inara.
"Terimakasih banyak sudah membantu," kata Abimana.
"Ya."
Amanda dan Rayhan lalu keluar dari ruang persidangan meninggalkan Inara dan Abimana yang kini masih mengobrol.
"Rayhan bagaimana menurutmu?"
"Suatu saat kita tetap harus memberitahu Sharen dan Kenzo, tapi setidaknya menunggu saat yang tepat."
"Saat mereka sudah dewasa?"
"Ya, kira-kira dua puluh tahun lagi," ucap Rayhan sambil menggandeng tangan Amanda keluar dari gedung pengadilan.
❤️ TAMAT ❤️
NOTE :
__ADS_1
Maaf jika novel ini banyak kekurangan, author ucapkan terimakasih banyak bagi yang menyimak dari awal dan selalu mendukung author 💜
Bagi yang masih penasaran dengan kisah mereka bisa melanjutkan membaca novel BED FRIEND ya, kira² Sharen & Kenzo bisa nerima Abimana ga ya? 🤔, yang sudah baca BED FRIEND sekarang tahu kan alasannya Inara telpon Kenzo saat di balkon apartemen sehabis ... sama Cleo 🤭 udah aku kasih bocoran nih 🤣