
"Hatiku untukmu?"
"Ya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin mengatakan itu saja."
"Lalu?"
"Lalu, kau tidur saja, bukankah tadi kau bilang jika kau ingin tidur?"
"Hanya itu saja?"
"Ya."
Amanda pun bangkit dari atas tubuh Rayhan sambil mendengus kesal.
'Dasar kau sangat menyebalkan! Benar-benar tidak peka!' gumam Amanda sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
🍒🍒🍒
Keesokan Harinya
TEEETTTTT TETTTTT
"Iya sebentar."
Rayhan kemudian membuka pintu apartemennya.
"Selamat pagi Ray."
"Selamat pagi, Vallen."
"Apa Amanda sudah siap?"
"Entahlah."
"Entahlah? Apa maksudmu?"
"Dia belum keluar dari kamarnya sejak kemarin sore. Dia hanya mengambil makan malamnya lalu masuk ke dalam kamarnya lagi, sampai sekarang."
"ASTAGA!! RAYHAN!! Memang apa yang telah kau lakukan padanya! Pasti kau telah menyakitinya!"
"Haiii jangan bicara sembarangan, Vallen. Aku tidak pernah menyakitinya."
"Kalau kau tidak menyakitinya, dia pasti tidak berbuat seperti itu! Dasar tidak peka!!" gerutu Vallen kemudian berjalan ke kamar Amanda.
TOK TOK TOK
"Amanda.."
"Ya, sebentar Vallen."
Beberapa saat kemudian, pintu kamar itu pun terbuka.
"Kau sudah siap, Amanda?"
"Ya, kita pergi sekarang."
"Ya, jangan lupa pakai maskermu."
"Ya."
Mereka lalu berjalan menuju ke arah pintu. Tampak Rayhan yang sedang meminum kopi di mini bar sambil melirik pada Amanda dan Vallen yang sedang berjalan ke arah pintu.
"Ray, kami pergi dulu," ucap Vallen sambil berjalan keluar dari rumah.
"Ya," jawab Rayhan yang melihat mereka pergi, namun Amanda sama sekali tidak meliriknya.
"Ada apa sebenarnya, Amanda? Apa kau sedang bertengkar dengan Rayhan?" tanya Vallen saat mereka dalam perjalanan ke salon.
"Tidak."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya sedikit kesal padanya?"
"Kesal? Memangnya apa yang telah Rayhan lakukan padamu? Bagaimana sebenarnya status hubungan kalian? Aku yakin hubungan kalian pasti bukan hanya sebatas hubungan pengacara dan kliennya. Iya kan?"
"Entahlah, aku tak tahu hubungan apa yang sedang kujalani. Dia selalu memberikan harapan palsu padaku, aku bahkan tidak tahu dia sebenarnya mencintaiku atau tidak."
"Mungkin Rayhan bingung dengan perasaanmu, mungkin dia berfikir jika kau tidak mencintainya, mungkin kau terlalu cuek padanya, atau kau tidak pernah menunjukkan perasaanmu padanya."
"Tidak Vallen, saat itu bahkan aku pernah terang-terangan mengatakan jika aku cemburu."
"Lalu apa yang dia lakukan?"
"Diam saja dan hanya melihatku masuk ke dalam kamar."
"Astaga, Rayhan benar-benar bodoh."
"Bahkan kemarin dia mengatakan jika dia ingin hanya ada dia yang di hatiku."
"Lalu?"
"Sudah itu saja, lalu dia menyuruhku masuk ke dalam kamar."
"Benar-benar keterlaluan, jadi karena itulah kau tidak keluar dari kamarmu sejak kemarin?"
"Ya, aku sedang tidak ingin melihat wajahnya. Sudahlah Vallen, mungkin dia memang tidak menyukaiku, mungkin dia hanya laki-laki bermulut manis yang suka memberi harapan palsu pada wanita."
"Tidak mungkin, aku sangat yakin jika dia menyukaimu, aku bahkan sangat yakin dia sudah menyukaimu sejak kau masih koma."
"Darimana kau bisa sangat yakin seperti itu? Itu sangat tidak mungkin."
"Amanda, apa kau tahu aku melihat sendiri dengan mata kepalaku saat Rayhan beberapa kali membelai rambut dan wajahmu, selain itu dia juga pernah mencium keningmu, itu beberapa saat sebelum kau sadarkan diri dari koma."
"Benarkah? Benarkah saat aku koma Rayhan sudah bersikap seperti itu padaku? Darimana kau tahu semua itu, Vallen?"
"Aku melihatnya sendiri, mungkin Rayhan lupa jika ada CCTV di kamarmu. Selain pada ponsel Rayhan, CCTV itu juga tersambung pada ponselku dan ponsel Kak David," jawab Vallen sambil terkekeh.
'Jadi ini alasannya dia memanggilku putri tidur, karena dia selalu menjagaku saat aku koma? Jadi ini alasannya dia selalu mencium keningku untuk membuatku terbangun? Lalu saat aku baru sadar dari operasi, tiba-tiba wajahnya begitu dekat dengan wajahku itu pasti karena dia baru saja mencium keningku?' gumam Amanda sambil menghembuskan nafas panjangnya.
"Kau kenapa, Amanda?"
"Aku hanya sedang mengingat tingkahnya setelah mendengar ceritamu tadi."
"Tingkah Rayhan?"
"Ya, persis seperti yang kau katakan Vallen. Saat kau dan Firman pulang dari apartemen kami, dia juga mendekat padaku yang sedang tertidur lalu dia mencium keningku, aku mengetahuinya karena saat itu aku pura-pura tertidur."
"Astaga, Rayhan memang benar-benar keterlaluan."
"Inilah alasannya untuk saat ini aku mengacuhkannya."
"Hahahaha, kau benar, sebaiknya kau acuh padanya untuk beberapa hari ke depan."
"Tapi bagaimana jika aku mengacuhkannya tapi dia semakin tidak mempedulikanku?"
"Kalau begitu katakan saja padanya, katakan saja perasaanmu padanya."
"Apa kau yakin?"
"Tentu, apa kau tahu, dulu aku pun melakukan hal itu pada Firman."
"Maksudmu?"
"Ya, aku yang menyatakan perasaanku terlebih dulu pada Firman."
"Astaga, kau benar-benar luar biasa. Tapi masalahnya Firman bukanlah Rayhan, bukankah Firman sangat mencintaimu, lagipula tidak mungkin ada seorang laki-laki yang bisa menolak wanita secantik dirimu."
"Haiiii kau salah, Amanda. Saat aku menyatakan perasaanku pada Firman, dia menolakku."
"Astaga, benarkah? Firman menolak dirimu?"
"Ya, dia menolakku, jika kau tidak percaya kau baca saja novel Salah Kamar, episode 235."
__ADS_1
"Ya, ya, aku percaya padamu, Vallen. Lalu apa alasan Firman menolakmu?"
"Hah, dia laki-laki yang sangat sombong, kau tahu saat kami berjumpa dulu, bahkan dia tidak mau memperkenalkan namanya padaku."
"Astaga, lalu bagaimana caranya kalian bisa bersama?"
"Setelah Firman menolakku tiba-tiba saja dia mengejar-ngejar diriku, mungkin dia menyesal telah menolak wanita secantik diriku," kata Vallen sambil terkekeh.
"Mungkin dia menyesal telah menolakmu karena sebenarnya dia mencintaimu, tapi dia tidak mau mengakui itu."
"Ya, dan mungkin itu yang terjadi pada Rayhan."
"Lalu apa aku harus menyatakan perasaanku terlebih dulu agar Rayhan juga mengejarku?"
"Jangan lakukan itu dulu, sekarang yang terpenting adalah mengubah penampilanmu terlebih dulu. Lalu kau bersikap acuh padanya, jika tidak ada perubahan baru kau menyatakan perasaanmu padanya."
"Baik Vallen."
"Ayo sekarang kita turun, kita akan melakukan perawatan pada seluruh badanmu, termasuk mengubah tatanan rambutmu itu, itu terlalu biasa Amanda."
"Ya, dulu aku memang tidak pernah pergi ke salon, karena tubuhku sangat ringkih, aku selalu sakit jika terlalu lama pergi keluar dari rumah."
"Astaga, kau kasihan sekali. Ini pasti karena ulah Abimana."
"Ya."
"Sudahlah ayo kita masuk ke dalam."
"Iya."
Mereka lalu masuk ke dalam salon, hingga lima jam lamanya mereka baru selesai melakukan perawatan pada Amanda.
"ASTAGA AMANDA!! KAU CANTIK SEKALI!!" teriak Vallen saat melihat Amanda.
"Kau bisa saja."
"Aku tidak bohong, kau benar-benar luar biasa, Amanda."
"Kau sudah selesai kan?"
"Ya."
"Sekarang kita tinggal pergi ke mall untuk berbelanja pakaian."
"Sepertinya itu menyenangkan."
"Sangat menyenangkan," jawab Vallen sambil terkekeh. Mereka kemudian keluar dari salon lalu pergi ke mall yang terletak tidak jauh dari salon tersebut. Vallen pun dengan lincah memilihkan barang-barang model terbaru untuk Amanda.
"Seleramu benar-benar bagus, Vallen."
"Tentu saja, jangan panggil aku Vallen jika aku memiliki selera yang buruk."
"Hahahaha, ya. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengan orang-orang sebaik kalian. Vallen, kau kenapa? Apa yang kau lihat?" tanya Amanda saat melihat Vallen yang tampak mengamati gerak-gerik seseorang.
"Amanda, lihat itu Abimana."
Amanda lalu melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Vallen.
"Kita sebaiknya bersembunyi, Vallen."
"Tidak, jangan. Jangan lakukan itu!"
"Kenapa?"
"Karena kita akan mengerjai Abimana." kata Vallen sambil tersenyum menyeringai.
NOTE: Ajarannya Vallen bener ² sesat ya 😌
Amanda setelah di make over 😆😂
Maaf, hanya kehaluan othor 😉✌️
__ADS_1