Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Enam Bulan


__ADS_3

Inara tampak berjalan di sebuah lorong rumah sakit sambil sesekali matanya mengawasi keadaan rumah sakit tersebut.


"Aku dengar salah satu dokter kandungan di rumah sakit ini ada yang mau berkonspirasi dengan pasien yang membutuhkan bantuannya, semoga ini bisa menjadi jawaban dan jalan keluar atas masalah yang sedang kuhadapi saat ini." kata Inara sambil mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya dia sampai di depan sebuah ruangan dokter yang dituju olehnya.


TOK TOK TOK


"Silahkan."


Perlahan Inara pun membuka pintu tersebut, sebuah senyuman seorang dokter wanita pun menyambut kedatangannya.


"Selamat siang, apa anda sudah membuat janji dengan saya?"


"Selamat siang, Dokter Jeni. Sebenarnya saya belum membuat janji dengan anda, tapi ini sangat mendesak, saya benar-benar membutuhkan bantuan anda, jadi saya langsung meminta asisten anda untuk bisa bertemu dengan anda."


"Baiklah kalau begitu, silahkan duduk."


"Iya, terimakasih Dokter Jeni."


"Apa ada yang bisa saya bantu.. Maaf siapa nama anda?"


"Inara, nama saya Inara."


"Iya Nyonya Inara, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Oh begini, saya to do point saja. Saya berbohong pada suami saya jika saya sedang hamil."


"Jadi saat ini anda sedang tidak hamil lalu anda berpura-pura hamil?"


"Ya, dan suami saya selalu mendesak saya agar melakukan kontrol kandungan bersamanya. Dokter Jeni, tolong saya, saya benar-benar bingung. Tolong saya, anda adalah harapan saya, saya harap anda bisa menolong saya memberikan jalan keluar bagi masalah yang sedang saya hadapi saat ini."


Jeni lalu menatap Inara dengan tatapan begitu dalam.


"Bagaimana Dokter Jeni? Anda mau menolong saya kan? Dokter, saya akan memberikan apapun yang anda inginkan, saya akan memberikan berapapun yang anda minta asalkan anda mau menolong saya."


Jeni pun hanya menatap Inara sambil tersenyum kecut.


🏡🏡🏡


CEKLEK


Pintu kamar perawatan Amanda pun terbuka, dua orang pasang suami istri pun mendekat pada seorang laki-laki yang sedang duduk sambil di sofa kamar perawatan tersebut.


"Kalian sudah datang?"


"Iya Rayhan." jawab Firman sambil mendekat ke arah Rayhan. Firman dan Vallen kemudian duduk di samping Rayhan.


"Ada apa Rayhan? Apa sebenarnya rencanamu? Apa yang akan kau lakukan pada Amanda?"


"Aku mau minta tolong pada kalian berdua, apa kalian mau menolongku dan membantu Amanda?"


"Tentu saja, kami akan membantumu dan Amanda. Kami akan membantu kalian semaksimal mungkin."

__ADS_1


Rayhan kemudian menatap Firman dan Vallen sambil tersenyum.


"Tolong bantu aku untuk mengubah kepribadian Amanda, tolong bantu aku untuk menjadikan Amanda menjadi pribadi yang kuat."


"Lalu apa yang harus kami lakukan?"


"Tolong ubah Amanda seperti diri kalian."


"Diri kami?" tanya Firman dan Vallen secara bersamaan, sambil menatap Rayhan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ya, setelah Amanda membuka matanya, dia bukanlah Amanda yang dulu lagi. Amanda bukan lagi seorang wanita berpenyakit jantung, Amanda bukan lagi seorang wanita lemah yang lugu, dan Amanda bukan lagi wanita tidak berdaya yang tidak mengerti apapun tentang dunia luar. Tolong bantu aku untuk mengubah Amanda menjadi wanita seperti yang kusebutkan tadi."


"Bagaimana caranya Rayhan?" tanya Vallen.


Rayhan lalu menatap Firman. "Firman, aku tahu kau dulu lulusan terbaik di kampusmu kan? Tolong ajari Amanda mengelola sebuah perusahaan, tolong ajari Amanda untuk mengelola keuangan perusahaan, tolong kau ajari Amanda untuk mengambil kebijakan penting dalam perusahaan. Firman, kau bisa lakukan itu kan? Kau bisa membantu mengajari Amanda untuk melakukan semua itu?"


"Tentu saja, aku akan membantu Amanda untuk mempelajari semua itu."


"Baik, terimakasih banyak."


Rayhan kemudian memalingkan pandangannya pada Vallen.


"Apa yang kau minta dariku, Rayhan?" tanya Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Sebenarnya aku benci mengatakannya, tapi bagaimanapun juga aku harus mengatakan ini padamu."


Mendengar perkataan Rayhan, Firman dan Vallen pun saling berpandangan.


"Apa maksudmu, Ray? Katakan yang jelas, tidak usah banyak berbasa-basi." gerutu Vallen.


"Seperti diriku? Apa maksudmu?"


Firman kemudian menatap Vallen lalu memegang wajahnya.


"Sayang, maksud Rayhan tolong kau bantu Amanda agar berpenampilan seperti dirimu."


"Seperti diriku?"


"Ya, berpenampilan cantik dan menarik seperti dirimu."


"AAAAAAAAAAA, FIRMAN!!! JADI KAU MENGAKUI JIKA AKU SANGATLAH CANTIK DAN MENARIK??"


Firman pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"AKU TAHU KAU PASTI SANGAT MENCINTAIKU KARENA AKU SANGAT CANTIK DAN MENARIK!! IYA KAN FIRMAN!!"


Firman pun mengangguk.


"KAU MEMANG SANGAT MENGGEMASKAN, FIRMAN!! SEKARANG CIUM AKU!!"


"Vallen, kendalikan dirimu, kita tidak sedang berdua." jawab Firman sambil melirik Rayhan.

__ADS_1


"Maaf." jawab Vallen sambil meringis.


"Itulah alasannya aku malas mengatakan hal seperti itu padamu, kau pasti akan terlihat heboh, biar suamimu saja yang mengatakannya." kata Rayhan sambil tersenyum kecut.


"Sekarang bagaimana? Kalian mau kan menolongku?"


"Tentu saja, tentu kami akan menolongmu Ray. Kami akan mengubah Amanda, dia pasti akan berubah menjadi wanita yang cantik dan pintar. Itu maksudmu kan?"


"Iya Vallen, itu yang kumaksud. Apa kalian bisa mengubah Amanda dalam waktu enam bulan?"


Firman dan Vallen lalu saling berpandangan kembali kemudian mereka mengangguk.


"Ya, itu waktu yang cukup."


"Terimakasih banyak, aku memiliki harapan yang besar pada kalian berdua karena hanya kalian lah yang bisa membantuku untuk saat ini."


"Kau tenang saja, kami akan membantu kalian berdua sampai Amanda bisa merebut perusahaan itu sepenuhnya."


"Iya, terimakasih banyak Firman."


"Sama-sama."


"Aku keluar dulu, aku harus menemui Kak David. Aku titip Amanda sebentar."


"Ya."


Rayhan kemudian keluar dari ruang perawatan Amanda, namun tiba-tiba netranya tertuju pada sosok yang tak asing baginya. Rayhan kemudian bergegas mendekat ke arahnya.


"Inara."


Inara lalu membalikkan tubuhnya.


"Ma...Mas Rayhan, kau ada di sini?"


"Ya, aku ada janji dengan Dokter David. Lalu, untuk apa kau kesini? Bukankah tadi pagi kau menolak saat aku mengajakmu ke dokter?"


"Emh, iya, tiba-tiba aku berubah pikiran."


"Lalu bagaimana hasilnya?"


"Aku baik-baik saja, kandunganku sehat."


"Oh begitu, selagi kita masih ada di rumah sakit bagaimana jika kita kontrol kandunganmu kembali bersamaku?"


"Tidak mas, aku lelah."


"Tapi Inara."


"Tolong mengerti aku, Mas. Aku lelah dan ingin beristirahat." kata Inara kemudian meninggalkan Rayhan. Rayhan pun hanya tersenyum kecut melihat Inara yang pergi meninggalkannya.


"Kau pikir aku bodoh, Inara?"

__ADS_1


NOTE:


Tinggalkan jejak, komen yang rame ya 🥰


__ADS_2