
Abimana masuk ke dalam apartemen Ghea dengan begitu kesal.
"Ada apa Abi? Kenapa kau terlihat begitu kesal?"
"Itu karena pengacara sialan itu. Dia memangkas kewenanganku di perusahaan."
"Bagaimana mungkin?"
"Ini semua gara-gara papa, dia bertindak seperti itu atas surat kuasa yang diberikan oleh papa padanya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Menunggu wanita sialan itu untuk segera sadar dari koma nya lalu mempengaruhi dia seperti dulu agar mengikuti kata-kataku untuk membalik nama perusahaan miliknya menjadi atas nama Sharen."
"Jadi kita hanya bisa menunggu wanita itu sampai sadar?"
"Ya."
"Jadi selama wanita sialan itu tidak sadarkan diri hanya itu yang bisa kita lakukan?"
"Tentu tidak."
"Lalu kita harus apa sekarang?"
"Bersenang-senang." kata Abimana sambil tersenyum nakal lalu mulai mencium bibir merah Ghea.
🏡🏡🏡🏡🏡
Rayhan masuk ke dalam kamar perawatan Amanda, saat baru saja dia duduk di ruangan tersebut, tampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun datang menghampirinya.
"Permisi Tuan, saya Dokter Anwar, yang menangani Nyonya Amanda dulu."
"Kau yang bekerja sama dengan Abimana?"
"Iya Tuan."
"Kenapa kau melakukan itu? Kau benar-benar biadab telah melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa pasien."
"Maaf, saya dipaksa oleh Tuan Abimana. Dia akan membunuh keluarga saya jika saya tidak menuruti kata-katanya.
"Bagaimana caranya agar aku percaya padamu jika Abimana yang telah memaksamu?"
"Saya masih memiliki bukti chat dari Tuan Abimana, anda bisa melihatnya di ponsel saya ini." kata Anwar sambil memberikan ponselnya pada Rayhan. Rayhan lalu mengamati ponsel Anwar sambil membaca pesan ancaman dari Abimana.
"Kirimkan semua bukti chat itu padaku, nomorku sudah kusimpan di ponselmu."
"Baik Tuan, lalu bagaimana dengan pekerjaan saya? Tolong sampaikan pada Dokter David agar tidak mengangkat kasus ini, saya tidak mau di sidang karena melanggar kode etik, saya tidak mau dipecat secara tidak hormat, tolong Tuan Rayhan saya memiliki keluarga yang membutuhkan nafkah dari saya. Tolong saya Tuan Rayhan."
"Nanti akan kubicarakan dengan Dokter David, tapi kau tenang saja, aku menjamin keamananmu. Aku baru bisa melakukan tindakan saat Amanda sudah sembuh jika tidak ini hanya akan menjadi bumerang bagi kita, kau tunggu perintah selanjutnya dariku."
"Iya, terimakasih banyak Tuan Rayhan."
__ADS_1
"Ya, sekarang kau boleh pergi dari sini."
"Iya Tuan, sekali lagi terimakasih."
Rayhan lalu mengangguk, netranya lalu tertuju pada Amanda kembali.
"Selamat sore Amanda, aku sengaja ke sini membawa makanan karena aku ingin kau menemani makan siangku yang sedikit tertunda. Kau mau kan menemaniku makan siang?"
Mata Amanda pun bergerak.
"Terimakasih banyak." jawab Rayhan sambil tersenyum lalu melanjutkan makan siangnya. Setelah selesai menikmati makan siangnya, Rayhan lalu menatap Amanda.
"Amanda, suatu saat aku juga ingin makan siang bersamamu, kau mau kan?"
Amanda lalu menggerakkan jari tangannya. Melihat jari tangan Amanda yang bergerak, Rayhan lalu menggenggam tangannya. Saat menggengam tangan Amanda, dia lalu menggerakkan matanya kembali yang membuat Rayhan tersenyum.
"Bukalah matamu, Amanda. Aku akan selalu setia di sampingmu sampai kau membuka matamu."
Perlahan dia pun mulai membelai rambut Amanda.
❣️ Satu Bulan Kemudian ❣️
CEKLEK
Pintu ruangan kamar perawatan Amanda pun terbuka. Rayhan lalu masuk ke dalam ruangan dengan sedikit tergesa-gesa.
"Amanda, maafkan aku sedikit terlambat. Tadi istriku, Inara memintaku untuk mengantarkannya ke rumah orang tuanya jadi aku mengantarkannya terlebih dulu." kata Rayhan sambil menghembuskan nafas panjangnya nafasnya pun sedikit tersengal-sengal.
"Kau tidak marah padaku kan?"
"Terimakasih, putri tidurku. Bagaimana apa tadi malam kau tidur dengan nyenyak?"
Mata Amanda pun bergerak kembali yang membuat Rayhan tersenyum.
"Bagus sekali putri tidur, respon tubuhmu sekarang semakin sering, ini benar-benar perkembangan yang bagus. Dokter Vallen bahkan memprediksi jika sebentar lagi kau bisa sadar, dan aku pun berharap begitu, aku harap kau bisa bangun secepatnya, apa kau tidak ingin melihat wajahku? Apa kau tidak ingin mengobrol denganku? Bukankah kau berjanji akan menemaniku makan siang? Cepat tepati janjimu putri tidur." kata Rayhan sambil tersenyum dan memandang wajah Amanda dan menggenggam tangannya berharap selalu ada respon dari tangan Amanda saat dia menggenggam tangannya.
"Hei, lihat ini rambutmu kenapa kusut sekali? Aku akan menyisir rambutmu."
Rayhan kemudian mengambil sebuah sisir di atas nakas lalu mulai menyisir rambut Amanda dengan perlahan sambil memperhatikan wajahnya.
"Rayhan, jangan memandangnya terlalu dalam nanti kau bisa jatuh cinta padanya, aku tidak mau Inara marah pada pasienku. Hahahaha." kata sebuah suara yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Oh Vallen."
"Bagaimana responnya?" tanya Vallen sambil memeriksa keadaan Amanda.
"Sangat bagus."
"Semoga dia bisa sadar secepatnya."
"Iya Vallen, ada banyak yang harus kami kerjakan."
__ADS_1
"Ya, setelah dia sadar dia harus menjalani operasi cangkok jantung karena kondisi jantungnya sudah sangat parah, tentunya tanpa sepengetahuan Abimana."
Rayhan pun mengangguk.
"Aku akan menjaganya semampuku."
"Hati-hati kau bisa jatuh cinta padanya. Hahahaha."
"Aku menganggapnya sebagai adikku."
"Semoga saja kau tidak jatuh cinta padanya, karena aku tahu kau belum pernah bisa mencintai Inara."
Rayhan kemudian memandang Vallen. "Darimana kau tahu?"
"Hahahaha Rayhan, aku mengenalmu lebih dari sepuluh tahun, bagaimana aku bisa mengatakan jika kau sudah mencintai Inara sedangkan waktumu selalu kau habiskan bersama Amanda? Kau mulai menyukainya?" tanya Vallen sambil tersenyum.
"Kau bisa saja Vallen, itu tidak mungkin."
"Karena itulah aku memperingatkanmu, aku tidak mau Inara cemburu pada Amanda."
"Aku akan menjaga perasaanku."
"Iya Rayhan, aku sudah selesai. Permisi."
"Iya Vallen, terimakasih banyak."
Rayhan kemudian menatap Amanda kemudian membelai rambutnya kembali sambil tersenyum. Hingga tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara ponselnya.
"Inara." kata Rayhan kemudian mengangkat panggilan itu.
[Ya Inara.]
[Mas, bisakah kau menjemputku sekarang? Ternyata mama dan papa tidak ada di rumah.]
[Maaf, aku sedang sibuk Inara. Lebih baik kau naik taksi saja.]
[Oh baiklah.]
Rayhan kemudian menutup teleponnya.
'Benar kata Vallen, sekarang aku bahkan lebih mementingkan Amanda dibandingkan Inara, rasanya sulit sekali meninggalkannya apalagi hanya untuk menuruti Inara.' gumam Rayhan di dalam hati sambil memandang wajah Amanda dan terus mengajak Amanda berbicara hingga waktu beranjak sore.
"Putri tidurku, ini sudah sore, aku pulang dulu." kata Rayhan sambil menatap wajah Amanda dengan begitu dalam. Tiba-tiba hatinya terasa begitu bergejolak hingga membuatnya mendekat ke arah Amanda lalu mengecup keningnya.
"Sampai bertemu besok." kata Rayhan kemudian bangun dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang perawatan Amanda.
Tanpa Rayhan ketahui baru beberapa langkah dia meninggalkan Amanda mata Amanda pun terbuka lalu menutup lagi sampai beberapa kali, di saat itu juga seorang perawat masuk ke ruangan Amanda dan melihat Amanda yang sedang membuka dan menutup matanya.
"Aku harus memberitahu keluarga Nyonya Amanda jika dia sudah sadar." kata perawat tersebut lalu berjalan keluar dari ruang perawatan Amanda.
NOTE:
__ADS_1
Bener-bener putri tidur ya dear, bangun setelah dicium Rayhan 😂😂😂
Ray juga udah mule move on ya 🤔