
Abimana menatap tajam pada beberapa orang pelayat yang ada di pojok rumahnya.
'Yanuar, Firman, Dewanto, dan satu orang lagi itu pasti pengacara yang akan mendampingi Amanda selama dia koma. Mereka saat ini sedang bergerombol pasti untuk merencanakan sesuatu, ternyata setelah aku berhasil membunuh papa itu bukanlah sebuah jaminan jika aku bisa bebas menjalankan semua rencanaku.' gumam Abimana sambil menatap mereka dengan tatapan begitu tajam, apalagi saat ini dia melihat Rayhan yang balik menatapnya dengan tatapan tajam saat berbincang-bincang dengan Yanuar.
'DASAR BRENGSEKKKKK!!! Laki-laki yang saat ini sedang menatapku itu pasti pengacara Amanda yang sudah dipersiapkan oleh papa, belum apa-apa dia sudah menatapku dengan tatapan seperti itu, aku harus berhati-hati dengannya karena sepertinya dia bukan orang yang penakut.'
Abimana lalu melihat Rayhan yang kini sedang berbincang-bincang dengan Firman.
'Sepertinya laki-laki itu sudah mengenal Firman, mereka sepertinya sudah akrab satu sama lain, aku harus lebih berhati-hati dalam menghadapi mereka karena langkahku kini benar-benar sudah dijegal, satu-satunya cara agar aku tetap bisa mendapatkan harta dari Amanda hanyalah melalui Sharen. Aku harus bisa memanfaatkan keberadaan Sharen sebaik mungkin, ya aku harus memanfaatkan keberadaan Sharen karena untuk saat ini hanya itu yang bisa kulakukan. Aku akan meminta waktu pada pengacara itu jika dalam tenggang waktu selama tiga bulan Amanda belum bangun dari koma nya, kepemilikan semua harta Amanda harus jatuh ke tangan Sharen. Ya untuk saat ini hanya itulah yang bisa kulakukan, dan aku cuma berharap Amanda akan tidur untuk selama-lamanya, hahahaha.'
🏡🏡🏡🏡🏡
"Rayhan apa kau menangis?" tanya sebuah suara yang mengagetkan lamunannya.
Rayhan lalu memandang ke arah samping dan melihat papanya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Oh, Rayhan hanya mengantuk pa. Tadi malam Rayhan sedikit kurang tidur saat di dalam pesawat."
"Oh, kalau begitu lebih baik sekarang kau pulang dulu ke rumah, lebih baik kau beristirahat saja sebelum memulai pekerjaanmu besok."
"Iya pa, tapi sebelumnya aku ingin bertemu dulu dengan Amanda."
"Oh iya Rayhan, mungkin mau harus melihat keadaannya terlebih dulu."
"Iya pa, Rayhan pergi sekarang."
"Iya Ray."
Rayhan lalu mendekat pada Yanuar. "Pak Yanuar, saya permisi dulu, saya ingin menjenguk Amanda. Besok saya kabari lagi jika saya sudah melihat keadaan Amanda."
"Iya Rayhan, terimakasih banyak atas waktumu yang sudah menyempatkan diri datang ke sini padahal kau baru saja datang dari London."
"Iya Pak Yanuar, tidak apa-apa, lagipula saya memang ingin bertemu dengan Om Raka, saya akan sangat menyesal jika tidak datang ke sini."
__ADS_1
"Iya Rayhan, sekali lagi terimakasih."
Rayhan kemudian tersenyum lalu berjalan keluar dari rumah itu, saat melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumah tersebut tiba-tiba Rayhan berpapasan dengan Firman.
"Kau mau pulang Rayhan?"
"Ya, aku ingin menjenguk Amanda. Aku ingin melihat keadaannya terlebih dulu."
"Iya Rayhan, hati-hati di jalan."
"Iya Firman." jawab Rayhan kemudian mulai melangkahkan kakinya kembali keluar dari rumah itu, namun baru beberapa langkah tiba-tiba Firman memanggilnya.
"Rayhan."
Rayhan kemudian membalikkan tubuhnya. Firman lalu tersenyum.
"Terimakasih Rayhan."
"Untuk?"
Mendengar perkataan Firman, Rayhan pun tersenyum.
"Aku juga berterima kasih padamu Firman."
"Untuk?"
"Karena kau juga sudah menjadi jodoh yang baik bagi Vallen, kalian sudah menikah kan? Tolong jaga dia sebaik mungkin."
"Iya Rayhan." jawab Firman sambil tersenyum.
Rayhan pun membalikkan tubuhnya kembali sementara Firman masih menatap kepergian Rayhan.
'Aku tahu kau masih belum bisa melupakan Vallen di hatimu, semua tampak tergambar jelas di matamu. Maafkan aku jika kita harus bertemu kembali dan kau merasa tersakiti akan keberadaan kami. Maafkan kami Rayhan, ini benar-benar tidak disengaja dan diluar dugaanku, ini pasti akan terasa begitu berat bagimu.' gumam Firman sambil menatap Rayhan yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
'Aku baik-baik saja.' gumam Rayhan sambil berjalan meninggalkan rumah Raka lalu masuk ke sebuah taksi online yang sudah menunggunya di luar. Dia kemudian masuk ke taksi tersebut lalu menyenderkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
"Astaga, kenapa ini semua bisa terjadi? Ini pasti akan menjadi bagian terberat dalam hidupku. Aku harus bisa mengubur rasa cintaku dalam-dalam pada Vallen, jika aku belum bisa mencintai Inara, aku harus bisa mengalihkan perhatianku pada pekerjaanku, aku harus fokus pada pekerjaan ini. Aku yakin jika pikiranku tertuju pada pekerjaanku, aku pasti bisa melupakan rasa sakit yang kini kurasakan." kata Rayhan sambil menghembuskan nafas panjangnya.
Beberapa saat kemudian taksi yang ditumpangi Rayhan pun sampai di rumah sakit tempat Amanda dirawat. Rayhan lalu bergegas masuk ke rumah sakit kemudian menanyakan pada resepsionis letak kamar perawatan Amanda. Rayhan pun kemudian melangkahkan kakinya pada ruangan yang ditunjukkan oleh bagian resepsionis.
"Sepertinya ini kamarnya." kata Rayhan lalu membuka pintu kamar perawatan tersebut.
CEKLEK
Rayhan perlahan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu, tampak sosok wanita tengah tidur di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Jantung Rayhan pun berdegup semakin kencang saat mulai mendekat pada Amanda yang kini terlihat begitu lemah, wajahnya pun terlihat pucat dengan rambut yang sedikit kusut.
'Kasihan sekali.' gumam Rayhan saat sudah berdiri di sampingnya.
"Kau Amanda? Amanda Mahendrata? Perkenalkan aku Rayhan. Amanda, aku sebenarnya tidak tahu apa saja yang telah terjadi dalam hidupmu, yang kutahu papa angkatmu menyuruhku untuk membantumu mempertahankan apa yang menjadi milikmu saat ini, aku tidak tahu seberapa buruk hal yang pernah terjadi dalam hidupmu tapi aku berjanji mulai hari ini hidupmu, keselamatanmu, serta semua yang kau miliki akan menjadi tanggung jawabku, seperti yang Om Raka inginkan."
Melihat Amanda yang begitu lemah dan tidak berdaya, Rayhan pun semakin mendekatkan tubuhnya, lalu menggenggam tangannya.
"Amanda, aku berjanji, aku janji akan selau menjagamu, dan aku akan selalu melindungimu. Tapi maaf untuk hari ini aku tidak bisa berlama-lama disini, tapi kau tenang saja, besok aku akan mengunjungimu kembali. Aku pulang dulu Amanda." kata Rayhan, namun saat akan melangkahkan kakinya tiba-tiba tangan Amanda ikut menggenggam tangan Rayhan dengan kencang.
"Apa ini, apa kau sudah sadar Amanda?" tanya Rayhan sambil menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman Amanda. Namun saat Rayhan menatap Amanda matanya tetap tertutup dan tidak ada respon di tubuh lainnya.
'Kenapa ini, kenapa dia bisa menggenggam tanganku padahal tidak ada respon di tubuh lainnya.' gumam Rayhan sambil menatap Amanda.
"Apa kau ingin aku menemanimu?" tanya Rayhan sambil tersenyum.
"Baik aku akan menemanimu disini." kata Rayhan kemudian duduk di samping Amanda. Rayhan pun duduk di samping Amanda lalu menatap wajah Amanda sambil tersenyum hingga sebuah suara yang tak asing pun mengagetkan dirinya.
"Selamat siang." sapa sebuah suara yang kini berdiri di belakang Rayhan.
'Oh tidak ' gumam Rayhan.
NOTE:
__ADS_1
Yang kepo sama apa yang terjadi sebelumnya antara Rayhan, Firman dan Vallen dan belum pernah baca novel Salah Kamar, bisa mulai baca kisah mereka dari episode 223 😉