
"Ma..."
"MULAI SEKARANG JANGAN PANGGIL AKU LAGI DENGAN SEBUTAN MAMA! AKU TIDAK SUDI MEMILIKI ANAK BERHATI IBLIS SEPERTIMU ABIMANA!!"
"Maafkan Abi, ma."
"Maaf katamu? Setelah begitu banyak kejahatan yang kau lakukan, kau minta maaf dengan mudahnya? Kupikir kesalahanmu hanya berselingkuh di belakang Amanda saja tapi ternyata kau begitu kejam, Abimana! Kau berniat membunuh Amanda sejak dulu, bahkan berani membayar dua orang dokter untuk memperparah penyakit Amanda, lalu kau juga membuang anak kandungmu sendiri lalu menukarnya dengan anak hasil perselingkuhanmu dengan wanita ja*ang itu kan? Dimana akal sehatmu Abimana! Kau benar-benar tidak punya hati nurani! Kau bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ayah! Pantas saja Sharen begitu akrab dengan Ghea, ternyata Ghea adalah ibu kandung dari Sharen sendiri! Dasar BIADAB kau AMBIAMANAAAAA!!!"
"Ma.. Maafkan Abi, ma."
"Maaf katamu? Kau seharusnya tidak meminta maaf pada mama tapi pada Amanda! Dia telah begitu banyak kau sakiti! Kau juga yang membuat rencana agar seolah-olah Amanda mengalami kecelakaan kan? Padahal kau dengan sengaja berniat untuk membakarnya! KAU MEMANG BENAR-BENAR IBILIS ABIMANA!"
"Maaamaa... Maafkan Abi ma," kata Abimana sambil terisak.
"Bukankah sudah kubilang agar tidak lagi memanggilku dengan sebutan mama! Aku tidak sudi dipanggil dengan sebutan mama oleh manusia berhati iblis seperti dirimu! Aku tidak akan pernah menganggapmu lagi sebagai putraku! Aku tidak sudi manusia seperti dirimu lahir dari rahimku ini!!"
Abimana pun menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di depan Vera.
"Abimana apapun yang kau lakukan itu tidak akan mengubah keputusanku, aku tidak akan pernah menganggapmu lagi sebagai putraku! Sayangnya aku terlambat untuk mengetahui semua ini! Sekarang kutanyakan padamu, kau yang menghabisi nyawa suamiku juga kan?"
"Mamaaa!!!"
"JANGAN SEBUT AKU DENGAN SEBUTAN MAMA LAGI ABI!! AKU TIDAK SUDI! KAU DENGAR AKU TIDAK SUDIII!!"
"SEKARANG AKU BERTANYA PADAMU, APA KAU JUGA YANG MEMBUNUH SUAMIKU!!"
"Abi akan menyerahkan diri ma, Abi akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan Abi, ma," ucap Abimana sambil terus terisak.
Amanda lalu mendekat pada Vera.
"Mama tenangkan diri mama, ini rumah sakit ma."
__ADS_1
"Mama sudah tidak bisa menahan diri mama melihat anak itu, Amanda. Kenapa aku baru tahu semuanya sekarang? Aku tidak tahu jika selama ini aku hidup dengan manusia berhati iblis seperti dirinya yang tidak punya hati, bahkan dia tega menghabisi keluarga dan orang terdekatnya demi egonya sendiri! Rayhan, lebih baik cepat kau jebloskan manusia seperti ini ke dalam penjara! Jebloskan dia secepatnya, Rayhan!!"
"Iya ma, Amanda tahu. Sekarang lebih baik mama tenangkan diri mama terlebih dahulu."
Amanda lalu memberikan kode pada Rayhan. Rayhan pun kemudian mengangguk.
"Mama, tolong temani Amanda ke kantin sebentar ya ma. Kita minum teh dulu di kantin, kalau mama terus-menerus marah-marah nanti penyakit darah tinggi mama bisa kambuh, kalau penyakit darah tinggi mama kambuh, siapa yang akan menjaga Sharen, kasihan Sharen ma."
Mendengar perkataan Amanda, Vera pun menghembuskan nafas panjangnya, dia pun kemudian mengangguk.
"Ayo kita pergi sebentar dari sini, Amanda."
"Iya ma," jawab Amanda kemudian menggandeng tangan Vera menuju ke arah kantin rumah sakit.
Sementara Rayhan mendekat pada Abimana yang kini masih bersimpuh di atas lantai.
"Bangunlah, aku tidak mau melihatmu seperti ini," kata Rayhan sambil menarik tangan Abimana. Abimana pun mengangkat kepalanya kemudian bangkit dari atas lantai lalu duduk di samping Rayhan di depan ruang UGD.
"Ini bukan pertarungan."
"Semuanya sudah hilang dalam hidupku, tidak hanya materi tapi kasih sayang dari semua orang terdekatku."
"Ini resiko yang harus kau tanggung, Abi."
"Ya, aku tahu itu. Ini semua terjadi karena keserakahanku dan saat ini aku begitu menyesali semua yang telah kulakukan, aku benar-benar menyesal, Ray. Aku telah banyak berbuat dosa, sekarang hidupku begitu dipenuhi oleh ketakutan, bahkan rasanya aku begitu takut akan kejadian buruk apalagi yang akan kualami selanjutnya."
"Bagus jika kau sudah menyesali semua perbuatanmu, sekarang bersabarlah dan jalani semua dengan ikhlas, ini adalah sebuah proses. Suatu saat kau pasti bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan jahat yang pernah kau lakukan, Abi."
"Ya, aku tahu itu. Aku akan menyerahkan diri secepatnya Ray, tapi biarkan aku bertemu dengan Ghea terlebih dahulu."
"Iya, kau selesaikan saja urusanmu dengan Ghea terlebih dulu."
__ADS_1
"Iya terimaksih. Lalu ada satu lagi, Ray."
"Apa?"
"Bolehkah aku berbicara empat mata dengan Amanda? Aku hanya ingin meminta maaf padanya, ada begitu banyak kesalahan yang kulakukan padanya. Aku hanya ingin meminta maaf pada teman masa kecilku, pada seseorang yang pernah kuanggap sebagai adikku, dan mantan istriku yang pernah kusakiti," kata Abimana sambil meneteskan air matanya.
"Tentu saja Abi, silahkan jika kau ingin berbicara dengan Amanda. Kalian memang seharusnya berbicara empat mata untuk menyelesaikan semua permasalahan yang telah terjadi diantara kalian."
"Ya, terimakasih banyak Rayhan."
Di saat itulah tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang UGD. "Permisi, anda keluarga Nyonya Ghea?"
"Iya Dok, saya suaminya," ucap Abimana sambil berjalan ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"
"Luka di keningnya cukup dalam dan saya sudah menjahitnya, sedangkan luka lecet dan memar di seluruh tubuhnya sudah saya obati."
"Apakah saya sudah bisa bertemu dengannya?"
"Ya, tentu saja, silahkan. Dia juga sudah sadarkan diri."
"Baik dok. Terimakasih banyak."
"Sama-sama, saya permisi dulu, jika membutuhkan bantuan, anda bisa menghubungi perawat jaga."
"Iya dok," jawab Abimana lalu bergegas masuk ke dalam ruangan UGD. Namun baru saja Abimana menampakkan dirinya tiba-tiba Ghea sudah berteriak histeris.
"AKU TIDAK MAU BERTEMU DENGANMU! KAU SUDAH MEMBUAT HIDUPKU HANCUR!!" teriak Ghea sambil melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya.
NOTE:
__ADS_1
Wajib tinggalin jejak ya, komen yang rame 🥰😘❤️