
Abimana keluar dari ruangan Amanda dengan begitu kesal, wajahnya kian memerah karena semua orang karyawan kini menatapnya.
"Abi, tunggu aku. Kenapa jalanmu cepat sekali."
"Aku malu Ghea, aku malu. Apa kau tidak lihat semua karyawan memandang kita?"
"Iya aku tahu, meskipun kita saat ini bisa menghindar tapi nanti kita juga akan bertemu lagi dengan mereka dengan memakai pakaian office girl dan office boy."
"Lebih baik kau tidak usah banyak bicara, Ghea. Mendengar perkataanmu semakin membuatku merasa malu," gerutu Abimana sambil terus berjalan ke arah pantry.
"Kalian sudah ada di sini? Cepat pakai seragam kalian," kata salah seorang OB yang ada di dalam pantry.
"Kalau sudah selesai berganti baju, berikan kopi ini untuk Tuan Rayhan dan Nyonya Amanda!"
"Apa kau bilang! Kau berani menyuruhku mengantarkan minuman ini untuk Amanda dan Rayhan?"
"Ya tentu saja, bukankah itu tugasmu!"
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Aku akan bilang pada Tuan Rayhan jika kau tidak mau menuruti kata-kataku, biar kau rasakan sendiri akibatnya!"
Abimana pun hanya bisa mendengus kesal kemudian berjalan ke arah toilet lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian seorang office boy.
'Pasti ini juga salah satu bagian rencana dari Rayhan! Dia benar-benar BRENG*EK! Kenapa aku baru sadar jika ternyata dia ingin mengerjaiku terlebih dulu sebelum memasukkanku ke dalam penjara! Astaga, jika aku sudah panik memang aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Sampai kapanpun aku tidak bisa membayar hutangku hanya dengan menjadi seorang OB, tapi mau bagaimana lagi, posisiku benar-benar sudah sangat sulit dan terpojok,' gumam Abimana lalu keluar dari dalam toilet kemudian mengambil dua buah kopi yang sudah disiapkan di atas nampan.
"Ghea kau disini saja dulu, aku ingin berbicara lagi dengan Amanda dan Rayhan."
"Iya Abi, tolong kau bujuk mereka agar tidak memperlakukan kita seperti ini! Ini benar-benar memalukan, aku bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga sepanjang hidupku tapi kenapa sekarang aku harus melakukan pekerjaan seperti ini?"
"Iya Ghea, aku akan mencobanya."
"Tidak usah banyak bermimpi, Tuan Rayhan tidak mungkin akan mengabulkan permintaan kalian, lebih baik kalian selesaikan pekerjaan kalian sekarang juga, cepat antarkan kopi itu atau kulaporkan jika kalian tidak mau bekerja."
Abimana pun keluar dari pantry dengan begitu kesal. Sementara OB tersebut lalu memandang Ghea yang saat ini sedang menainkan kukunya.
"Hei, kenapa kau diam saja, cepat kerja! Kau bawa ini dan pel seluruh ruangan di kantor ini!"
"Apa? Mengepel seluruh ruangan? Oh tidak. Lebih baik aku mati saja."
__ADS_1
"Jadi kau ingin mati? Baik kubunuh kau sekarang juga!"
"TIDAK!!"
Sementara Abimana yang kini sedang berjalan dengan mengenakan pakaian office boy, merasa begitu malu dan risih saat semua karyawan menatapnya sambil berbisik, sesekali terdengar tawa ejekan dari mereka yang semakin membuatnya Abimana begitu marah. Abimana pun kian mempercepat langkahnya menuju ke ruangan Amanda.
'Kalian semua benar-benar bren*sek! Tunggu saja suatu saat nanti jika aku sudah kembali berkuasa, aku akan memecat kalian semua dari sini.' gumam Abimana. Dia kemudian membuka pintu ruangan Amanda. Namun betapa terkejutnya dirinya saat membuka pintu itu dan melihat Rayhan yang sedang berciuman dengan Amanda.
"HEIII ABIMANA! APA KAU TIDAK BISA MENGETUK PINTU TERLEBIH DULU!" bentak Rayhan setelah melepaskan ciumannya.
"Maaf, aku terburu-buru karena banyak orang yang menertawakan aku,"
Rayhan dan Amanda pun saling berpandangan sambil tersenyum kecut. Abimana kemudian menaruh kopi tersebut di atas meja, sambil sesekali melirik pada Amanda.
'Sial, kenapa Amanda sekarang cantik sekali, perasanku sekarang terasa begitu campur aduk saat aku berdekatan dengannya. Pantas saja Rayhan begitu ber*afsu padanya! Sial, kenapa aku dulu begitu bodoh! Jika saja Amanda dulu kubiarkan keluar rumah dengan bebas tentu dia juga bisa merawat tubuhnya dan aku bisa menikmati Amanda dalam bentuk yang begitu cantik seperti sekarang.'
"Abimana kenapa lama sekali kau disitu? Lebih baik kau pergi sekarang karena kami sedang tidak ingin diganggu."
"Aku ingin berbicara dengan kalian kembali."
"Berbicara apa lagi Abimana?" tanya Amanda.
"Baik, jika kau tidak mau kau akan kumasukkan ke dalam penjara sekarang juga."
"Jangan Rayhan, apa tidak ada pilihan lain lagi?"
"Ada."
"Apa?"
"Kau menyerahkan diri sekarang juga ke polisi."
"Itu sama saja, Rayhan!"
"Jangan pernah membentakku, lebih baik sekarang kau pergi dari sini karena kau sudah sangat menggangu kami, jika kau masih saja membicarakan hal itu, kau kulaporkan pada polisi sekarang juga."
'BRE*SEK!' umpat Abimana sambil berjalan keluar dari ruangan Amanda.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Abimana dan Ghea keluar dari gedung kantor dengan langkah begitu lemas.
"Sekarang kita mau kemana, Abi??"
"Entahlah."
"Jadi kau juga tidak memiliki tujuan kita akan pergi kemana?"
"Tidak."
"ASTAGA ABIMANA!! JADI MALAM INI KITA AKAN TIDUR DI JALAN??"
"Jangan berteriak Ghea, aku juga sedang bingung."
"Abi, berapa uang cash yang masih kau miliki!"
"Dua ratus lima puluh ribu, itu tidak cukup untuk menyewa sebuah kontrakan Ghea."
"Tapi itu cukup untuk pulang ke rumah orang tuaku di luar kota. Kita melarikan diri saja, Abi. Kita akan bersembunyi di rumah kedua orang tuaku."
"Berhentilah bermimpi Ghea, apa kau tidak lihat di belakang kita ada anak buah Rayhan yang sedang mengawasi kita. Kita tidak mungkin bisa melarikan diri."
"Astaga! Jadi kita benar-benar harus tidur di jalan?"
"Ya."
"Yang benar saja Abi, tubuhku sudah pegal-pegal karena mengepel seluruh ruangan, lalu sekarang kita juga harus tinggal di tepi jalan?"
"Ya, lebih baik kita ke sana saja, di kolong fly over itu. Kita beristirahat di sana saja, kau lihat ada beberapa kardus kosong yang bisa kita jadikan alas untuk tidur."
"Jadi kita benar-benar akan tidur di bawah kolong jembatan?"
"Ya."
"Oooohhh TIDAKKK!!" teriak Ghea, kemudian tubuhnya pun jatuh terkapar di atas tanah.
Note:
Wajib tinggalin jejak ya dear makasih udah mampir 🥰😘
__ADS_1