
David tampak mengamati beberapa lembar kertas yang ada di tangannya. Keningnya pun tampak berkerut, sesekali dia menghembuskan nafas panjangnya sambil berjalan ke kamar perawatan Amanda. Saat dia masuk ke ruangan tersebut, Amanda yang sedang tertidur pun perlahan membuka matanya.
"Selamat sore, Amanda."
"Selamat sore Dokter David."
"Amanda, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ya, Dokter David. Ada apa?"
"Sebelumnya aku minta maaf jika ini sedikit mengejutkan bagimu, tapi aku harus mengatakan ini padamu karena kau harus tahu bagaimana keadaanmu yang sebenarnya."
"Ada apa Dokter David, katakan saja."
"Begini Amanda, kau dulu pasien Dokter Anwar kan?"
"Ya."
"Apa kau selalu menjalani pemeriksaan rutin dengan Dokter Anwar?"
"Iya Dokter David, suamiku selalu rutin memeriksakan keadaanku padanya, bahkan sebelum Mas Abi belum menjadi suamiku, dia selalu menemaniku untuk melakukan kontrol rutin dengan Dokter Anwar."
"Emh begini Amanda, sebenarnya ada sesuatu hal yang tidak wajar terjadi pada tubuhmu. Kondisi jantungmu sudah sangat parah, jika kau selalu melakukan kontrol rutin, kondisimu tidak mungkin seperti ini."
"Ba... Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku juga selalu meminum obat secara rutin, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Amanda, aku telah melakukan pemeriksaan laboratorium dan dengan berat hati aku juga harus mengatakan jika di dalam tubuhmu terdapat kandungan zat pelemah jantung, dan komposisinya begitu besar ada di tubuhmu. Kemungkinan kau telah mengkonsumsi obat-obatan ini dalam jangka waktu yang relatif lama."
"A.. Apa Dok? Obat pelemah jantung?" kata Amanda sambil meneteskan air matanya.
"Iya Amanda, maafkan aku jika semua ini sedikit mengejutkan bagimu tapi inilah kenyataannya."
"Ba.. Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi dok?"
"Amanda, maaf bukannya aku mempengaruhi dirimu, tapi mungkin saja ada seseorang yang ingin berbuat jahat padamu."
"Berbuat jahat padaku?"
"Iya Amanda, dan kemungkinan dia adalah orang terdekatmu, orang yang selama ini memberikan obat-obatan itu padamu."
"Astaga." kata Amanda sambil menutup mulutnya, air mata kini pun mengalir deras membasahi wajahnya.
'Apakah Mas Abi yang melakukan semua ini padaku? Aku benar-benar tidak percaya Mas Abi melakukan semua ini.' gumam Amanda.
"Amanda." panggil David karena melihat Amanda yang kini begitu terpukul, tatapan matanya kosong sedangkan air mata terus menetes membasahi wajahnya.
"Oh iya Dok, maafkan aku."
"Amanda, kau harus kuat. Kau harus kuat menjalani semua ini. Kau ingin sembuh kan?"
__ADS_1
Amanda pun menatap David. "Tentu Dok. Aku ingin segera sembuh."
"Aku akan berusaha menyembuhkanmu, Amanda."
Mendengar perkataan David, raut wajah Amanda pun berbinar. "Benarkah? Benarkah Dokter David akan membantu agar aku bisa sembuh?"
"Tentu saja, kau pasienku. Aku akan berusaha menyembuhkanmu, dan satu-satunya cara adalah dengan melakukan cangkok jantung untuk mengganti kondisi jantungmu yang sudah rusak. Tapi melihat kondisi jantungmu saat ini, ini bukan hal yang mudah untuk melakukan cangkok itu, selain itu kau juga sedang mengandung. Aku takut sesuatu terjadi pada kandunganmu. Mungkin kita akan melakukannya setelah kau melahirkan, tapi tentunya kita harus berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan."
"Lakukan saja sekarang Dok."
"Tidak Amanda, jika Dokter Anwar bisa dengan sengaja memberikan obat yang salah padamu, aku juga tidak yakin dengan dokter kandungan yang lain. Bisa saja orang yang ingin menyakitimu sudah berkomplot dengan beberapa orang dokter di rumah sakit ini, aku akan menyelidiki semua ini terlebih dahulu."
"Jadi aku baru bisa mendapatkan jawabannya setelah Dokter David melakukan penyelidikan pada beberapa dokter di rumah sakit ini?"
"Tantu saja tidak Amanda, itu terlalu lama."
"Lalu?"
"Adikku Vallen, dia seorang dokter kandungan, untuk saat ini hanya dia satu-satunya dokter kandungan yang bisa kupercaya di rumah sakit ini."
"Lalu kita akan menemui Dokter Vallen sekarang?"
"Dia saat ini sedang berlibur, nanti akan kutanyakan pada istriku kapan dia pulang. Setalah dia pulang, aku akan memberi kabar padamu secepatnya."
"Baik Dokter, terimakasih banyak."
"Iya Dokter. Emhhh Dokter David, bisakah kita merahasiakan semua ini dari keluargaku, termasuk ibu mertua dan suamiku?"
"Tentu saja Amanda, kau tenang saja. Aku pasti akan melindungimu, karena aku membenci perbuatan seperti ini, membahayakan nyawa pasien itu di luar kode etik kedokteran."
"Iya Dokter, terimakasih banyak."
"Sama-sama, saya permisi dulu."
"Iya Dokter."
David pun keluar dari kamar perawatan Amanda, dia kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Stella.
[Halo Stella.]
[Ya David, ada apa?]
[Apa kau sudah menanyakan pada Vallen, kapan dia akan pulang?]
[Sudah, dia baru saja menghubungiku untuk membersihkan kamarnya karena nanti malam dia akan pulang ke rumah.]
[Syukurlah.]
[Memangnya ada apa, David.]
__ADS_1
[Tidak apa-apa, sebentar lagi aku pulang sayang.]
[Iya hati-hati di jalan.]
David pun kemudian menutup teleponnya. Dia kemudian berjalan ke bagian perawat jaga. "Suster, tolong kalian awasi keadaan Amanda selama 24 jam, awasi asupan makanan dan obat-obatan termasuk orang-orang yang menjenguknya.
"Baik Dokter David."
🖤🖤🖤🖤🖤
Abimana masuk ke dalam rumahnya.
'Kenapa sepi sekali?' gumam Abi sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya dan melihat kamar itu tampak kosong.
"Amanda." panggil Abimana, namun tidak ada jawaban.
"Amanda." panggil Abi lagi sambil berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut, namun kamar mandi itu juga kosong.
"Dimana Amanda?"
Dia kemudian berjalan keluar dari kamarnya. "Bi Sumi... Bi Sumi."
"Iya Tuan, ada apa?"
"Dimana mama, papa, dan Amanda? Kemana mereka semua? Kenapa sepi sekali?"
"Oh Tuan Raka dan Nyonya Vera sedang kontrol ke rumah sakit, sedangkan Nona Amanda tadi satpam di depan mengatakan jika Nona Amanda pergi naik taksi online."
"Naik taksi? Kemana dia?"
"Saya tidak tahu Tuan karena saat itu saya sedang berbelanja di warung."
"Dasar pembantu bodoh, kenapa kau membiarkan Amanda di rumah sendirian! Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Amanda?"
"Ma.. maafkan saya Tuan, saya pikir tadi Nona Amanda masih tidur, jadi saya berbelanja ke warung untuk membuatkan makan siang untuknya."
"Ya sudah, kau boleh pergi sekarang!"
"Ba..Baik Tuan."
"Amanda naik taksi online? Dia mau pergi kemana?" kata Abimana sambil mengerutkan keningnya.
"Apa jangan-jangan sakitnya kambuh lagi? Astaga ini benar-benar berbahaya, aku tidak boleh membiarkan dia pergi ke rumah sakit sendirian, semua kejahatan yang kulakukan pada dirinya bisa terbongkar. Oh tidak!" gerutu Abimana sambil mengusap kasar wajahnya, dia kemudian mengambil ponsel di sakunya.
Sementara Amanda kini duduk di atas ranjang rumah sakit sambil termenung, tatapan matanya kosong, air mata begitu deras membasahi wajahnya.
'Kau benar-benar jahat mas, mulai saat ini aku tidak akan percaya pada kalian semua, kalian benar-benar kejam.' gumam Amanda kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Di saat itulah tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Amanda kemudian mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas.
"Mas Abi." kata Amanda saat melihat sebuah nama di ponsel tersebut.
__ADS_1