
"Ghea, tenangkan dirimu, tenangkan dirimu, Ghea. Bagaimanapun juga aku masih suamimu!"
"Tenang katamu? Setelah membuatku menderita kau bisa mengatakan seperti itu, Abimana! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi Abi!! Lebih baik kau ceraikan aku secepatnya Abimana!! Ceraikan aku secepatnya!!"
"Ghea, tenangkan dirimu, Ghea. Tolong jangan berkata seperti itu, ingat kita sudah memiliki Sharen, buah cinta kita!"
"Cinta katamu? Aku bahkan sudah tidak sudi mengucapkan kata itu untukmu! Aku tidak mau hidup menderita dengan laki-laki miskin seperti dirimu yang tidak memiliki masa depan, Abimana!!"
"Ghea, tolong jangan berbicara seperti itu, kita pasti bisa melewati semua ini bersama."
"Lewati saja penderitaanmu sendiri, Abimana! Aku tidak mau bersamamu lagi, CERAIKAN AKU SEKARANG JUGA, ABIMANA!! CERAIKAN AKU!"
"GHEA!!"
Mendengar keributan di dalam ruang IGD, Rayhan dan beberapa perawat kemudian masuk ke bilik tempat Ghea dirawat. Tampak Ghea yang masih berteriak-teriak sambil menjambak rambutnya. Beberapa orang perawat pun berusaha menenangkannya.
"Ada apa, Abi?"
"Ghea marah padaku, lihatlah dia terus-menerus mengamuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri."
Akhirnya seorang dokter pun masuk kemudian menghampiri Ghea, dan memberikan suntikan penenang padanya. Abimana pun hanya bisa menangis melihat Ghea yang kini tampak begitu kacau dan berantakan.
"Maafkan aku Ghea," ucap Abimana sambil menangis.
"Ini bukan kesalahanmu seorang diri, Abi. Karena dia juga ikut membentuk kepribadianmu menjadi seperti sekarang, kau menjadi seperti ini juga karena ingin menuruti keinginannya dan ambisinya kan?"
Abimana kemudian menganggukkan kepalanya. "Rayhan, memang aku seorang buaya darat, aku tidak bisa berpaling jika melihat seorang wanita cantik. Tapi sebenarnya satu-satunya wanita yang kucintai hanyalah Ghea, aku sangat mencintainya. Tapi kenapa dia berubah jadi seperti ini saat kami terpuruk dan aku membutuhkan dukungan darinya. Kenapa dia sekarang malah membenciku bahkan meminta cerai padaku?"
__ADS_1
Rayhan kemudian memegang bahu Abimana. "Itu tandanya dia bukan wanita yang baik untukmu, jika dia benar-benar mencintaimu, pasti dia tidak akan berbuat seperti itu padamu. Jika dia terus memaksamu untuk menceraikannya, ikhlaskan saja, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Tapi bagaimana dengan Sharen?"
"Sekarang kutanyakan padamu, apakah dia memikirkan Sharen?"
Abimana lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak kan? Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, bukan kebahagiaan kalian bertiga. Lagipula apapun yang terjadi setelah ini, Ghea pun tetap akan masuk ke penjara, sama seperti dirimu. Abimana dengarkan aku, sebelum menikah dengan Amanda aku pun sudah pernah menikah dengan wanita lain."
"A... Apa maksudmu? Jadi kau pun sudah pernah mengalami perceraian?"
"Ya, aku menceraikannya karena dia begitu egois dan melakukan sebuah kebohongan besar yang sangat sulit kuterima, padahal aku sudah berulangkali memberinya kesempatan, tapi dia selalu saja mengecewakanku dengan semua sikapnya."
"Lalu apakah kau mencintainya?"
"Mama dimana?" tanya Abimana.
"Oh tadi baby sitter Sharen mengatakan jika Sharen tiba-tiba sakit dan panasnya begitu tinggi, jadi mama memutuskan untuk pulang terlebih dulu."
"Astaga, apa lagi ini?" kata Abimana sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tenangkan dirimu," kata Rayhan sambil menepuk bahu Abimana.
"Abimana, waktumu tidak banyak. Kau bilang jika tadi kau ingin berbicara empat mata dengan Amanda kan? Bicaralah sekarang," kata Rayhan sambil memandang Abimana dan Amanda. Amanda kemudian mengangguk.
"Aku akan menjaga Ghea disini," tambah Rayhan lagi.
__ADS_1
Abimana pun mengangguk, dia kemudian berjalan keluar dari ruang UGD diikuti Amanda di belakangnya. Mereka kemudian duduk di depan ruangan itu. Beberapa saat, hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya. Hingga akhirnya Abimana beranjak dari tempat duduknya lalu bersimpuh di hadapan Amanda.
"A... Abi, apa yang kau lakukan?"
"Maafkan aku, maafkan aku, Amanda. Dosaku begitu banyak padamu, aku tahu bahkan aku tidak layak mendapat kata maaf darimu. Bertahun-tahun aku telah begitu menyakitimu dengan cinta palsuku, sungguh awalnya aku tidak bermaksud berbuat seperti itu padamu, tapi keserakahanku yang akhirnya membuatku berbuat seperti ini. Aku memang sangat egois, Amanda. Maafkan aku, maafkan aku Amanda," ucap Abimana dengan begitu terisak.
"Duduklah di sampingku, Abimana. Aku tidak mau melihatmu seperti ini, bicarakan semua ini dengan kepala dingin."
Perlahan Abimana pun bangun, lalu duduk di samping Amanda. Amanda kemudian meliriknya yang kini masih terisak.
"Maafkan aku."
"Cukup, jangan meminta maaf lagi. Sebenarnya terlalu sulit bagiku untuk memaafkan semua kejahatan yang pernah kau lakukan padaku, tapi aku akan selalu berusaha melakukan itu karena Tuhan saja maha pengampun, sekarang yang harus kau lakukan adalah bertaubat, perbaiki hidupmu, dah minta maaflah pada semua orang yang pernah kau sakiti, lalu pertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Tadi mama berpesan padaku jika kami harus memenjarakanmu secepatnya. Kau sudah siap kan?"
"Ya aku siap, aku akan melakukan semua itu untuk menebus semua kesalahanku Amanda, meskipun aku tau itu tidak akan pernah cukup untuk membayar semua kesalahanku. Tapi sebelum aku melakukan semua itu, ada yang ingin kukatakan padamu, tentang perasaanku yang sebenarnya padamu."
"Perasaanmu? Perasaan apa?"
"Amanda, perlu kau tahu, saat masih kecil. Aku sebenarnya sangat menyayangimu, aku selalu ingin menjadi laki-laki yang melindunginyamu, dan perasaan itu berkembang sampai kita beranjak remaja. Perasaan sayang itu berubah menjadi cinta, ya aku mencintaimu Amanda. Dulu aku begitu mencintaimu, tapi setelah mulai beranjak dewasa, entah kenapa rasa cinta itu menguap begitu saja, mungkin karena orang tuaku yang lebih memperhatikanmu sehingga tidak pernah memperhatikan diriku, hingga menjadikanku memiliki pergaulan yang begitu bebas sehingga membentuk karakterku yang semakin liar. Berapapun uang yang papa berikan, aku selalu merasa itu tidak cukup. Apalagi saat aku mengenal Ghea, aku selalu ingin memberikan apa yang Ghea minta, hingga kami berencana untuk menguasai perusahaanmu. Lalu aku berpura-pura jatuh cinta lagi padamu kemudian menikahimu dan selanjutnya kau tahu sendiri kan, semua kulakukan untuk mencapai tujuanku, entah setan apa yang merasukiku hingga semua kulakukan agar tujuanku tercapai. Benar kata mama jika aku memang manusia berhati iblis."
Abimana pun kembali terisak.
"Kau menyesal?"
"Sangat menyesal, semua yang kulakukan sebenarnya menjadi bumerang bagi diriku sendiri dan aku bahkan tidak mendapatkan apapun dari kejahatan yang kulakukan, aku benar-benar menyesal Amanda. Dan penyesalan terbesar dalam hidupku saat ini adalah pernah menyia-nyiakan serta menyakiti istri seperti dirimu bahkan membuang darah dagingku sendiri. Jika saja aku tidak menuruti nafsuku, maka kita akan menjalani kehidupan yang bahagia. Tapi rupanya aku terlalu bodoh."
Amanda pun hanya terdiam melihat Abimana yang kini semakin terisak.
__ADS_1
"Abimana, waktumu sudah habis."