
"Maaf, saya sedikit terlambat." kata Rayhan saat masuk ke ruang rapat dan menghampiri Firman dan Yanuar.
"Saya tadi mengunjungi Amanda sebentar di rumah sakit." tambah Rayhan lagi.
Mendengar perkataan Rayhan, Firman pun menatapnya.
"Kau sudah bertemu dengan Vallen?"
Rayhan kemudian mengangguk dengan sedikit ragu-ragu.
"Kau tenang saja Firman, kami hanya berbicara mengenai Amanda tidak ada hal pribadi yang kami bicarakan selain itu."
Firman pun tersenyum.
"Tenang saja Rayhan, aku tidak mempermasalahkan jika kini kau juga bekerja dengannya. Aku percaya pada kalian berdua."
Rayhan pun tersenyum. "Terimakasih Firman, kau tahu kan jika dia sangat mencintaimu, cintanya jauh lebih besar padamu dibandingkan saat bersamaku dulu."
"Kau berlebihan Ray."
"Tidak, karena memang itulah kenyataannya, sejak dulu selalu kukatakan padamu jika dia jauh lebih mencintaimu dibandingkan dengan diriku."
Rayhan kemudian memalingkan pandangannya pada Yanuar.
"Pak Yanuar, apa kita bisa memulai rapatnya sekarang?"
"Sebentar, kita tunggu Abimana terlebih dahulu."
"Baik."
Beberapa saat kemudian, Abimana pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan perasaan yang begitu bergemuruh, Abimana lalu melangkahkan ke arah kursi miliknya yang ada di ruang rapat tersebut. Di saat itu juga dia sudah melihat Rayhan yang kini sedang bercakap-cakap dengan Firman dan Yanuar.
'Orang-orang terkutuk itu pasti sedang melakukan suatu rencana untuk menghambat bahkan mematikan gerakku.' gumam Abimana.
"Rayhan, Abimana sudah datang kau bisa memulai presentasimu."
"Baik."
__ADS_1
Rayhan pun tersenyum lalu memandang semua orang yang ada di ruangan itu kemudian memulai presentasinya. Diawali dengan pembacaan surat kuasa atas penunjukan dirinya sebagai pengacara yang bertanggung jawab atas Amanda selama dia mengalami koma lalu mengenai pengesahan kewenangan Firman untuk menjalankan kebijakan perusahaan tanpa pengaruh dari pihak manapun di dalam perusahaan serta kebijakan perusahaan lain yang memangkas kekuasaan Abimana di dalam perusahaan.
'Bren*sek! Kau memang benar-benar brengsek, Rayhan.' umpat Abimana terus menerus di dalam hati sambil menatap Rayhan dengan tatapan tajam selama jalannya rapat. Hingga satu jam lamanya, rapat pun berakhir. Abimana lalu bergegas keluar dari ruangan rapat itu dengan begitu dongkol.
"Di dalam perusahaan ini aku hanya seperti boneka yang tidak memiliki kewenangan apapun! Dasar kurang ajar, percuma saja aku membunuh papa jika pada akhirnya akan merugikan diriku sendiri! Ah sudahlah, percuma saja aku ada disini, mungkin satu-satunya yang harus kulakukan saat ini adalah menunggu wanita sialan itu sadar dari koma nya lalu mempengaruhinya agar menuruti semua keinginanku termasuk mengubah kepemilikan perusahaan ini menjadi atas nama Sharen. Wanita bodoh itu pasti percaya pada kata-kataku dan tidak akan pernah curiga jika Sharen bukanlah putrinya. Daripada moodku semakin berantakan, lebih baik aku menemui Ghea saja." kata Abimana sambil berjalan keluar.
Sementara Rayhan yang melihat Abimana keluar dari ruangan rapat dengan begitu terburu-buru disertai raut wajah yang begitu kesal pun tampak tersenyum.
'Waktumu untuk mengendalikan Amanda sudah habis Abimana, akan kupastikan setelah Amanda sembuh dia akan menjadi wanita kuat yang akan mematikan langkahmu hingga kau benar-benar tidak berkutik. Iblis seperti dirimu tidak layak berada di sini.' gumam Rayhan.
"Rayhan." panggil Firman yang kini masih duduk di sampingnya.
"Oh ya, maaf aku hanya sedang melihat Abimana. Dia tampak sangat marah."
"Biarkan saja, orang seperti dirinya memang pantas diberikan pelajaran."
"Ya. Firman, mulai saat ini bekerjalah sebaik mungkin, jangan pernah memikirkan Abimana lagi yang suatu saat akan menekanmu."
"Sejak dulu aku tidak takut padanya, karena memang aku tidak bekerja pada dirinya."
"Bagus, kau sangat pemberani dalam mengambil keputusan di perusahaan ini, untung saja ada dirimu, jika tidak perusahaan ini mungkin sudah hancur selama Om Raka dan Amanda sakit."
"Ya, sekali lagi terimakasih."
"Iya Ray."
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada beberapa berkas yang harus kuurus."
"Ya, hati-hati di jalan Rayhan."
"Iya Firman, aku pergi dulu."
"Pak Yanuar, saya permisi."
"Iya Rayhan terimakasih banyak."
Rayhan lalu berjalan keluar dari ruangan rapat sambil melihat arlojinya. "Ini sudah jam makan siang tapi waktuku sangat terbatas akan pergi mengurus semua berkas ini lalu setelah selesai aku akan menemui Amanda, lebih baik nanti aku makan saja bersama dengan Amanda." kata Rayhan sambil menunggu pintu lift terbuka.
__ADS_1
Di saat pintu itu terbuka, tiba-tiba Vallen keluar dari lift tersebut.
"Oh Rayhan, kita bertemu lagi." kata Vallen dengan sedikit terkejut.
"Ya, aku baru saja selesai meeting di sini. Kau mau bertemu dengan Firman?"
"Ya, aku mengantarkan makan siang untuknya."
"Oh, dia tadi meeting bersamaku tapi sepertinya saat ini dia sudah kembali ke ruangannya. Kau coba saja langsung ke ruangannya."
"Iya Rayhan terimakasih banyak." kata Vallen sambil melangkah meninggalkan Rayhan yang masih menunggu di depan lift. Namun tiba-tiba Vallen membalikkan tubuhnya lalu memanggil Rayhan.
"Rayhan."
Mendengar panggilan dari Vallen, Rayhan pun merasa begitu bahagia.
"Iya ada apa Vallen?"
"Aku sudah berbicara dengan Dokter Anwar, nanti sore dia akan menemuimu di ruangan Amanda."
"Ya, terimakasih banyak Vallen."
Namun belum sempat Vallen menjawabnya tiba-tiba dia sudah berlari lalu menghambur ke pelukan Firman yang juga sedang berjalan ke arah lift.
"FIRMANNNNNN!!!"
"Vallen, kau mengagetkanku. Kenapa kau tiba-tiba ke sini?"
"Aku ingin makan siang disini denganmu, aku sedang bosan jadi aku pergi ke sini."
"Baik, kita ke ruanganku saja."
Firman dan Vallen lalu memandang Rayhan.
"Rayhan kami ke dalam dulu."
"Ya." jawab Rayhan sambil tersenyum lalu masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka.
__ADS_1
"Rasanya masih sama seperti kemarin, sakit sekali." kata Rayhan sambil tersenyum kecut.