
CEKLEK
Pintu kamar perawatan Amanda pun terbuka, Abimana dan Vera pun kemudian masuk ke ruangan itu.
"Amanda, ini mama sudah membelikan buah-buahan dan makanan untukmu." kata Vera sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak ma, ini banyak sekali."
"Amanda sayang, kau baru saja bangun dari koma. Kau harus banyak makan makanan bergizi, Nak."
"Iya ma."
"Amanda, apakah kau membutuhkan sesuatu?" tanya Abimana sambil mendekat ke arah Amanda.
"Tidak mas."
Amanda pun menatap Abimana dengan tatapan tajam.
'Jangan mendekat padaku, mas. Aku jijik padamu, aku bahkan masih ingat desa*an dan er*nganmu dengan wanita ja*ang itu tadi malam di sampingku, benar-benar menjijikan!!' gumam Amanda dalam hati.
Di saat itu juga kamar perawatan Amanda pun terbuka.
"Nyonya Amanda, kamar baru anda sudah siap. Mari kami antar ke kamar sebelah."
"Kamar baru?" tanya Vera dan Abimana secara bersamaan?
"Ya, aku ingin pindah dari kamar ini, cahayanya terlalu terang, membuatku merasa pusing."
"Oh baik kalau begitu Amanda sayang, mama akan mengemasi barang-barangmu."
"Iya ma." jawab Amanda sambil melirik pada Abimana.
'Alaasan sebenarnya aku pindah dari kamar ini karena sebenarnya aku jijik, apalagi bercak lendirmu masih banyak yang membekas di ranjang jaga itu, kau benar-benar baj*ngan Abimana! Tunggu pembalasanku!' umpat Amanda dalam hati sambil dibantu oleh seorang perawat turun dari atas ranjang lalu menaiki sebuah kursi roda kemudian menuju ke kamar yang ada di samping kamar perawatan tersebut.
"Terimakasih banyak suster." kata Amanda saat sudah berada di kamar barunya.
"Sama-sama."
Abimana dan Vera kemudian masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba ponsel Vera pun berbunyi. Vera kemudian mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
[Halo.]
[Oh ya sebentar lagi saya pulang.] jawab Vera.
"Ada apa ma?"
"Sharen sedikit deman, Amanda. Sepertinya mama harus pulang sekarang."
"Oh iya ma, mama pulang saja."
"Abi, kau jaga Amanda ya. Mama pulang dulu."
"Iya ma."
Vera kemudian mendekat pada Amanda lalu memeluknya.
"Cepat sembuh Amanda sayang agar kau bisa secepatnya pulang ke rumah, kau pasti juga ingin bertemu dengan putrimu kan?"
Amanda lalu mengangguk.
'Dia bukan putriku, ma.' gumam Amanda dalam hati.
"Sekarang kau istirahat saja."
"Iya sayang."
Vera lalu keluar dari ruang perawatan tersebut. Saat Amanda akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok lelaki yang datang dengan begitu tergesa-gesa dan kini sudah berdiri di ambang pintu lalu masuk ke ruangan tersebut sambil tersenyum.
"Amanda kau sudah sadar? Maaf aku baru bisa datang, tadi pagi sebenarnya Vallen sudah menghubungiku tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di kantor jadi aku baru bisa datang ke sini sekarang." kata laki-laki itu sambil mendekat ke arah Amanda. Amanda lalu mengerutkan keningnya kemudian menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
'Siapa laki-laki ini? Kenapa dia mengenalku? Bahkan Dokter Vallen pun menghubunginya saat aku sudah sadar, siapa dia sebenarnya?'
"Hai Rayhan, sebaiknya kau pulang saja. Istriku baru saja sadar dan dia tidak ingin diganggu!"
'Oh Abimana membenci orang ini, jika Abimana membenci orang ini pasti dia orang baik, buktinya saja dia mengenal Dokter Vallen, bahkan Dokter Vallen pun menghubunginya saat aku sudah sadar.'
"Maaf Tuan Abimana, saya berhak bertemu dengan Nyonya Amanda karena dia adalah klien saya."
"Klien?" tanya Amanda pada Rayhan.
__ADS_1
"Ya, perkenalkan saya Rayhan, saya pengacara anda Nyonya Amanda."
"Amanda saja, jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya."
Rayhan pun tersenyum sambil mengangguk.
"Pengacara? Tapi untuk apa?"
"Begini Amanda, sebelum almarhum Om Raka meninggal dia menyuruh saya untuk menjaga anda, menjaga keselamatan anda dan perusahaan anda dari orang yang ingin berbuat jahat pada anda." kata Rayhan sambil menatap tajam pada Abimana yang membuat Abimana merasa begitu kesal.
'Oh, jadi laki-laki ini juga yang melindungiku saat aku sedang koma? Dia juga sepertinya benci dengan Abimana.'
"Oh ya, silahkan duduk."
"Tapi Amanda, kau bahkan tidak mengenal orang ini. Kau jangan percaya begitu saja padanya."
"Mas Abi, jika papa saja mempercayakan keselamatanku padanya, bagaimana mungkin aku tidak mempercayainya? Kalau aku tidak percaya padanya itu sama saja aku tidak percaya pada almarhum papa."
"Tapi Amanda, aku suamimu! Kau harus lebih percaya padaku."
"Jika papa saja tidak sepenuhnya mempercayakan keselamatanku padamu bagaimana aku sepenuhnya bisa percaya padamu mas? Mas Abi sebaiknya kau pulang saja, bukankah kau tadi dengar kata-kata mama jika Sharen sedang sakit? Lebih baik kau ikut menjaga Sharen di rumah, aku baik-baik saja mas."
"Tapi Amanda."
"Mas, tolong tinggalkan aku. Aku ingin berbicara dengan pengacaraku, maaf siapa nama anda?"
"Rayhan."
"Oh ya Rayhan."
"Tapi Amanda, bagaimanapun juga aku adalah suamimu. Aku harus tetap ada di sini, di sampingmu. Aku tidak bisa pulang dan meninggalkanmu begitu saja."
"Baik mas, silahkan jika kau masih ingin menemaniku tapi untuk saat ini biarkan aku bicara empat mata dengan pengacaraku, kau bisa menunggu di kantin ataupun di taman sampai kami selesai berbicara."
'Sial, kenapa tiba-tiba Amanda berubah jadi seperti ini? Tapi aku tetap harus berpura-pura baik padanya, jika tidak hancur semua rencanaku.'
"Baik jika itu maumu Amanda sayang, aku akan menunggu di luar."
"Ya, terimakasih."
__ADS_1
Abimana lalu keluar dari ruang perawatan Amanda sambil menatap Rayhan dengan tatapan sinis. Rayhan yang masih berdiri di dekat pintu kemudian mendekat pada Amanda.
"Hai apa kabarmu Amanda?" tanya Rayhan dengan sedikit canggung.