
Abimana keluar dari sebuah mobil tahanan, dia kemudian bergegas masuk ke area lembaga pemasyarakatan tempatnya akan menjalani masa tahanan sebelum menjalani eksekusi hukuman mati yang akan diterimanya. Dia kemudian mengikuti langkah demi langkah seorang petugas sipir lembaga pemasyarakatan yang mengantarkan ke ruangan tahanannya.
"Ini kamarmu, masuklah," ucap seorang sipir yang menemaninya tersebut.
Abimana kemudian mengangguk lalu masuk ke ruangan tersebut. Saat sipir yang mengantarkannya pergi, beberapa orang penghuni ruangan tersebut kemudian mendekat pada Abimana dengan tatapan menyeringai. Seorang laki-laki bertubuh kekar dengan tato di seluruh tangannya lalu mendekat pada Abimana.
"Anak baru," kata laki-laki tersebut sambil tersenyum kecut.
"Sebagai penghuni baru, kau harus menuruti semua perintahku! Kau harus melakukan apapun yang kupertahankan! Sekarang pijat kakiku!!"
Abimana kemudian menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam. "Bagaimana jika aku tidak mau? Kita disini sama, memiliki hak dan kewajiban yang sama."
"BERANI SEKALI KAU MEMBANTAH PERINTAHKU!"
"Apa aku tidak mendengar kata-kataku? Kita semua disini sama dan aku tidak mau mengikuti kata-katamu."
"DASAR BREN*SEK!" ucap laki-laki bertato itu lalu mulai melayangkan tinjunya pada Abimana. Abimana pun kemudian berhasil menghindar dari pukulan tersebut, laki-laki tersebut lalu memberi kode pada beberapa orang yang ada di ruangan tersebut, mereka pun kemudian mendekat ke arah Abimana lalu mulai mencekal tubuhnya.
"DASAR PENJAHAT! BERANINYA KAU BERMAIN KROYOKAN!" teriak Abimana.
"Kau pikir siapa dirimu? Kau pikir kau orang baik hah? Jika mau orang baik, tempatmu bukan disini! Kau sama bejatnya denganku!"
BUGHHH BUGHHH BUGHHH
Pukulan bertubi-tubi pun dilayangkan pria bertato tersebut, sementara Abimana hanya diam tidak berdaya mendapat pukulan karena beberapa tahanan kini memegang tubuhnya, sedangkan para tahanan lain yang ada di ruangan tersebut pun tampak bersorak menyemangati laki-laki bertato tersebut untuk menghajar Abimana. Sementara Abimana kini hanya bisa pasrah sambil berulangkali mengucap doa dari dalam hatinya.
'Tuhan jika inilah akhir hidupku, aku ikhlas. Mungkin waktuku memang sudah habis di dunia ini,' gumam Abimana sambil menyunggingkan senyum.
"Kenapa kau malah tersenyum? Jangan-jangan mau gila ya! BRENGS*K KAU!!" teriak laki-laki bertato tersebut sambil terus melayangkan bogem mentahnya. Abimana pun kini semakin pasrah, apalagi kini tubuhnya terasa begitu tidak berdaya menahan sakit di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"BERHENTI!!" teriak seorang sipir yang datang bersama dengan seorang wanita di sampingnya.
"ZULLLLL!! KAU SELALU SAJA MEMBUAT MASALAH DENGAN PENGHUNI TAHANAN BARU! APA KAU BELUM JUGA JERA DENGAN HUKUMAN TAMBAHAN YANG SELALU KAMI BERIKAN UNTUKMU!" tambah sipir itu lagi sambil mendekat ke arah mereka.
Abimana yang kini terkapar di atas lantai dengan mata terpejam pun hanya bisa mendengar sayup-sayup bentakan demi bentakan serta umpatan dari beberapa orang sipir pada para penghuni ruangan tersebut, setelah itu dia merasa tubuhnya diangkat oleh beberapa orang lalu mereka merebahkan tubuhnya di atas sebuah ranjang, hingga akhirnya sebuah tusukan jarum di tangan kanannya serta cairan yang mulai mengalir di tubuhnya kini semakin membuatnya terlelap. Entah berapa lama Abimana memejamkan matanya, perlahan saat mulai membuka matanya, Abimana melihat keadaan di luar kamar sudah tampak gelap.
"Hai, kau sudah bangun? Kau Abimana kan?" sapa sebuah suara dari samping kanannya.
Abimana lalu mengalihkan pandangannya ke arah samping kanannya.
"Hai Abimana, kau masih mengingatku? Kita pernah bertemu saat kau menolongku di depan sebuah minimarket saat seorang preman akan menjambret tasku. Kau masih ingat aku kan?"
"Ya, aku masih mengingatmu. Tapi maaf aku lupa siapa namamu," jawab Abimana dengan lemah.
"Oh iya, aku Inara. Namaku Inara."
"Kenapa kau disini, Inara? Ini bukan tempat yang aman untukmu."
"Justru ini adalah tempat yang aman untukku tapi tidak untukmu, bahkan tadi siang akulah yang melindungimu dari orang-orang yang ada di dalam ruangan tahanan itu, saat aku mendengar ada keributan, aku lalu memanggil para sipir untuk datang ke ruangan kalian," jawab Inara sambil tersenyum.
"Benarkah? Kalau begitu terimakasih. Apa kau adalah salah seorang sipir yang bekerja di sini?"
"Bukan, aku tidak bekerja di sini tapi para sipir itu tunduk pada semua perintahku."
"Oh, apakah suamimu bekerja di sini dan memiliki kuasa memerintahkan para sipir itu?"
"Aku tidak memiliki suami, Abi. Aku sudah lama bercerai dengan suamiku."
"Oh, maaf."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
"Abimana, maafkan aku jika aku bertanya ini padamu, mungkin sebenarnya waktunya tidak tepat, tapi kenapa kau bisa ada di sini?"
"Karena aku melakukan kejahatan yang tidak bisa diampuni, aku telah melakukan kejahatan besar. Sebuah pembunuhan dan perencanaan pembunuhan pada orang terdekatku."
Mendengar perkataan Abimana, Inara pun hanya tersenyum kecut sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Kenapa raut wajahmu berubah? Aku tidak sebaik yang kau pikirkan kan? Sekarang pergilah, Inara."
Inara pun kemudian tersenyum.
"Tidak, aku ingin menemanimu. Anggap saja aku temanmu."
"Aku tidak layak untuk dijadikan sebagai teman."
"Di mataku kau adalah orang yang baik, Abimana. Aku yakin itu hanyalah masa lalumu, aku yakin sekarang kau sudah berubah. Setiap orang memiliki masa lalu, Abimana. Masa laluku juga sangat buruk, aku juga bukan orang yang baik. Aku akan menjadi temanmu selama kau menjalani masa tahanan."
"Terimakasih, tapi aku tidak membutuhkan seorang teman."
"Memangnya berapa lama kau ditahan?"
"Sampai aku mati."
"Sampai kau mati?"
"Ya, karena aku divonis hukuman mati."
Inara pun begitu terkejut mendengar perkataan Abimana, namun dia tetap menyunggingkan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjadi temanmu sampai kau menjalani eksekusi."