Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Buaya Darat


__ADS_3

"Mengerjai Abimana? Apa maksudmu, Vallen?"


"Amanda, apa kau tahu jika sebenarnya Abimana seorang buaya darat? Dia juga dulu pernah beberapa kali menggangguku dan mengajakku makan malam, padahal saat itu kau sedang koma. Benar-benar laki-laki yang gila." gerutu Vallen.


"Jadi Abimana pernah mengganggumu?"


"Ya."


"Benar-benar buaya darat, lalu sekarang apa yang harus kulakukan, Vallen?"


"Kau cukup menarik perhatian Abimana, dia pasti tertarik pada wanita secantik dirimu, lalu aku akan menetaskan ini ke dalam minuman yang sedang dipegang oleh Abimana."


"Apa itu?"


"Cairan yang sama seperti saat aku mengerjai Inara," jawab Vallen sambil terkekeh.


"Jadi kau pernah mengerjai Inara?"


"Ya, memangnya kau pikir siapa yang membongkar kelicikan Inara tentang kehamilan palsunya?"


"Kau?"


"Tentu saja, Rayhan tidak mungkin bisa melakukan seperti itu sendiri."


"Tapi bagaimana jika Abimana mengenaliku?"


"Heiii Amanda, kau mengenakan masker, dia tidak akan mengenalimu."


"Tapi bukankah sebagian wajahku bagian atas tetap akan terlihat?"


"Amandaaaa, apa kau sudah lupa, jika dirimu saat ini dan yang dulu sangatlah berbeda."


"Benarkah aku terlihat sangat berbeda?"


"Ya, kau tenang saja, bukankah Abimana tidak pernah melihat dirimu yang memakai pinsil alis, eyeliner, eyelash, dan kontak lens?"


Amanda lalu menggelengkan kepalanya.


"Jadi tenang saja Amanda, dia pasti tidak akan mengenalimu."


Amanda lalu mengerutkan keningnya.


"Baiklah, aku akan mencoba mendekatinya."


"Bagus, lakukan itu sekarang juga, tapi hati-hati dia pasti juga bersama dengan wanita ja*ang itu."


"Ghea maksudmu?"


"Iya."


"Baiklah aku akan berhati-hati."


Amanda lalu berjalan mendekat ke arah Abimana yang sedang duduk sambil menikmati bubble drink di depan salah satu toko tas wanita merk brand import. Amanda pun kini tampak berdiri di depan toko tersebut sambil melihat beberapa produk tas yang dipajang di bagian etalase depan toko. Melihat wanita cantik yang berdiri tidak jauh darinya, seketika Abimana pun memelototkan matanya, jantungnya kini pun terasa berdegup begitu kencang."


"Meskipun memakai masker, wanita itu tampaknya cantik sekali." kata Abimana sambil memperhatikan Amanda dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perlahan, Abimana lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekat pada Amanda.


"Permisi nona, apa ada yang perlu saya bantu? Apakah anda menginginkan salah satu barang yang ada di etalase tersebut?"


"Oh tidak saya hanya sedang menunggu teman saya, jadi saya hanya iseng saja melihat etalase toko itu."

__ADS_1


"Oh jadi anda menunggu teman anda?"


"Ya."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


"Oh jika teman anda perempuan tentu dia tidak akan keberatan jika saya menemani anda disini. Boleh kan saya menemani anda?"


"Oh ya, tentu saja."


"Terimakasih," jawab Abimana sambil tersenyum menyeringai.


'Benar-benar wanita yang sangat cantik dan menggairahkan.' gumam Abimana sambil menelan ludahnya dengan kasar.


Sementara Vallen yang melihat Amanda tampak sedang bercakap-cakap dengan Abimana mendekat ke arah tempat yang diduduki oleh Abimana, lalu mengambil minuman bubble drink milik Abimana yang ada di tempat duduk tersebut lalu tampak menaruh sesuatu berupa cairan bening ke dalam bubble drink tersebut. Amanda yang mengalihkan perhatian Abimana tampak mengamati gerak-gerik Vallen, hingga Vallen memberikan kode melalui jari tangannya. Melihat kode dari Vallen, Amanda pun kemudian mengangguk lalu mengambil ponsel di dalam tasnya dan berpura-pura menerima panggilan telepon.


"Maaf, teman saya sudah selesai, saya permisi dulu."


"Oh ya, silahkan."


Amanda lalu berjalan meninggalkan Abimana, namun tiba-tiba Abimana memanggilnya kembali.


"Nona, sejak tadi kita mengobrol tapi kita belum berkenalan, bolehkah saya mengetahui nama anda dan meminta nomor ponsel anda?"


Mendengar perkataan Abimana, Amanda hanya tersenyum lalu jari tangannya tampak menunjuk sesuatu di samping Abimana. Abimana lalu mengerutkan keningnya sambil memalingkan wajahnya dan melihat Ghea yang sudah berdiri di sampingnya disertai raut wajah yang sudah memerah.


"ABIMANAAAAAAA!!!"


"Ghe...Ghea.." kata Abimana sambil menelan ludahnya dengan kasar.


Sementara Amanda yang kini berjalan menjauhi Abimana hanya bisa tersenyum. "Dasar buaya darat, tingkahmu seperti jomblo karatan!" ucap Amanda sambil terkekeh.


"Rasanya aku ingin muntah melihat mereka berdua, berdiri di samping Abimana sebenarnya sangat berat karena aku harus mengontrol emosiku, jika aku sedang tidak menyamar, rasanya aku benar-benar ingin mencabik-cabik tubuhnya."


"Tenangkan dirimu, Amanda. Bersabarlah, tunggu saat itu tiba, kau pasti bisa membalaskan dendam pada Abimana. Sekarang, kita bisa saja memenjarakan Abimana tapi itu hanya tujuan akhirnya, sedangkan kita masih ingin melihat hidup Abimana menderita dan terlunta-lunta terlebih dulu sebelum dia merasakan dinginnya lantai penjara. Iya kan?"


"Iya Vallen, dia harus merasakan hidup menderita terlebih dulu sebelum merasakan dinginnya lantai penjara."


"Ya, kau tenang saja, aku sudah mencampurkan obat agar dia sakit perut,"


"Apa itu? Obat pencuci perut maksudmu?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Obat pemacu kontraksi, hahahaha, hahahaha."


"Kau ada-ada saja, hahahaha."


"Sudahlah Amanda, lebih baik kita pulang sekarang, sebentar lagi Firman pulang, aku sudah sangat merindukannya."


"Merindukan Firman?"


"Ya."


"Bukankah kalian tinggal bersama dan bertemu setiap hari, kenapa kau sudah merindukannya?"

__ADS_1


"Setiap detik aku selalu merindukan Firman," jawab Vallen sambil terkekeh.


"Astaga Vallen!!"


🍒🍒🍒


CEKLEK


Amanda membuka pintu apartemennya. Perlahan, dia pun masuk ke dalam apartemen tersebut lalu langsung berjalan ke kamarnya.


"Amanda!" panggil Rayhan.


Namun Amanda tetap melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Rayhan pun bergegas mengikuti langkah Amanda lalu berjalan di belakangnya.


"Amanda kenapa kau tidak membalas pesanku?"


"Amanda, apa kau marah padaku?"


"Amanda kenapa kau diam saja?"


"Aku minta maaf jika aku sudah menyakitimu. Tapi tolong jangan diam saja, katakan sesuatu padaku."


Amanda kemudian membalikkan tubuhnya.


"Maaf, aku tadi sibuk, sekarang aku sangat lelah jadi tolong jangan ganggu aku untuk saat ini."


Melihat Amanda yang kini berdiri di depannya, Rayhan pun begitu terkejut, jantungnya pun berdegup semakin kencang, bahkan dadanya pun kian sesak menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.


'Amanda? Apakah dia Amanda?' gumam Rayhan sambil menelan ludahnya dengan kasar.


'Amanda, kau cantik sekali, aku benar-benar tidak menyangka jika kau berubah menjadi secantik ini.' gumam Rayhan sambil menatap Amanda.


Amanda kemudian membalikkan tubuhnya kembali, namun saat akan mulai berjalan ke kamarnya tiba-tiba Rayhan mencekal tangannya. Dia kemudian mendekatkan tubuhnya pada Amanda sambil menatap Amanda dengan tatapan begitu tajam. Amanda yang ketakutan melihat Rayhan yang memandangnya dengan tatapan tajam hanya bisa memundurkan langkahnya, Rayhan pun mengikuti langkah Amanda hingga akhirnya langkah itu terhenti karena tubuh Amanda sudah menempel pada tembok.


"Ka.. kau mau apa Rayhan?"


"Maafkan aku."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan."


"Tapi kau marah padaku kan?"


"Lupakan saja, sekarang aku hanya ingin beristirahat."


"Kau tidak boleh pergi sebelum kau memaafkan aku jika tidak...."


Kata-kata Rayhan pun tertahan.


"Jika tidak apa?"


"Jika tidak aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.


"Memangnya kenapa?"


"Karena telah menyakiti orang yang kucintai."


"Siapa orang yang kau cintai?"


"Orang yang berdiri di depanku, aku sangat mencintaimu Amanda."

__ADS_1


"Maaf aku belum bisa mengatakan apapun padamu karena saat ini aku sedang sangat lelah, aku ingin beristirahat." kata Amanda kemudian mencoba bergerak menjauh dari Rayhan, namun Rayhan mencengkram bahu Amanda lalu mulai mendekatkan wajahnya.


'Astaga apa ini? Rayhan, kau nekat sekali.' gumam Amanda saat Rayhan mulai mencium bibir merahnya.


__ADS_2