
Abimana lalu mengambil ponselnya.
[Bagaimana, apa kalian sudah mengecek kondisi rumah sakit ini?]
[Iya bos, aman. Kita keluar dari samping rumah sakit. Hindari petugas penjaga. Saat bos keluar dari kamar perawatan saya akan mengalihkan perhatian perawat jaga.]
[Ya, kita lakukan sekarang, bersiaplah.]
Abimana lalu membelai rambut Amanda kemudian memakai masker untuk menutupi wajahnya.
"Kau sudah siap Amanda? Ayo kita pergi sekarang." kata Abimana lalu mengangkat tubuh Amanda kemudian menaruhnya ke atas kursi roda, setelah itu dia mendorongnya keluar dari kamar perawatan Amanda. Abimana membuka pintu kamar perawatan itu sambil mengamati sekeliling lalu melihat anak buahnya yang sedang mengalihkan beberapa perawat jaga. Dia kemudian berjalan dengan mendorong kursi roda lalu salah seorang anak buahnya yang lain menutupinya hingga perawat jaga tersebut tidak melihat Abimana yang pergi dengan membawa Amanda yang ditutup dengan sebuah kain di atas kursi roda.
"Lewat sini bos." kata anak buah Abimana, hingga akhirnya mereka sampai di samping tembok rumah sakit yang tidak terlalu tinggi. Mereka lalu mengangkat tubuh Amanda bersama kursi roda tersebut dengan memanjat tembok lalu memasukkannya ke sebuah mobil. Melihat tubuh Amanda yang terkulai tidak berdaya di dalam mobil, Abimana pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.. Hahahaha, Amanda... Amanda, sekarang nyawamu ada di dalam genggamanku. Hahahaha." kata Abimana lalu mengikat tubuh Amanda.
Amanda yang melihat semua kejadian yang dialami olehnya sebenarnya merasa begitu takut, tapi dia hanya bisa pasrah akan semua yang terjadi di hidupnya pada Tuhan, sambil berharap Rayhan ataupun siapapun bisa datang untuk menolongnya.
'Tuhan, tolong aku. Tolong aku Tuhan. Rayhan apakah kau tahu apa yang sekarang terjadi padaku?' gumam Amanda sambil tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi sekarang." perintah Abimana pada anak buahnya, mereka lalu mengendarai mobil tersebut di tengah kegelapan malam yang begitu sepi.
"Bagaimana sudah kau siapkan mobilku?" tanya Abimana pada anak buahnya.
"Ya, semua sudah siap, bos."
"Sudah kau setting juga kan mobil itu agar terlihat seperti mengalami kecelakaan lalu meledak setelah kecelakaan tersebut?"
"Ya, saya sudah menyetting mobil tersebut agar mengalami konsleting dengan menaruh kabel yang mengelupas di atas mesin."
"Bagus sekali, ini benar-benar akan terlihat seperti sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Hahahaha."
Amanda yang mendengar percakapan Abimana dan anak buahnya pun merasa begitu takut tapi kini dia tidak berdaya, tubuhnya sudah terikat dan tidak bisa melarikan diri. Setelah melalui perjalanan selama dua puluh menit, mereka pun berhenti di sebuah jalan sepi yang letaknya menuju ke arah rumah Amanda.
Abimana lalu membopong tubuh Amanda keluar dari mobil yang ditumpanginya lalu menaruh tubuh Amanda ke mobil milik Abimana yang kini tampak menabrak sebuah pohon, setelah itu Abimana pun bergegas pergi meninggalkan tubuh Amanda yang ada di dalam mobil miliknya yang menabrak pohon tersebut.
"Ayo cepat pergi dari sini, aku harus membuat tubuhku tampak terluka untuk membuat alibi jika kami mengalami kecelakaan saat kami sedang pulang ke rumah, lalu mobil itu meledak saat aku sedang pergi mencari pertolongan." kata Abimana pada anak buahnya. Mereka lalu bergegas masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan Amanda sendirian di mobil milik Abimana yang tampak menabrak pohon.
Sementara itu Amanda yang kini ada di dalam mobil Abimana hanya bisa menangis, jantungnya pun berdegup begitu kencang dan terasa begitu sakit, tubuhnya kini bergetar dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Tuhan, tolong aku Tuhan." kata Amanda di sela isak tangisnya.
Saat sudah merasa pasrah, tiba-tiba langkah kaki pun terdengar.
"AMANDA!!!"
"Rayhan, cepat Ray sebentar lagi mobil ini akan meledak." jawab Amanda dengan suara yang bergetar. Rayhan pun bergegas membuka pintu mobil lalu menarik tubuh Amanda keluar dari dalam mobil hingga tubuh mereka terjembab di atas tanah. Tepat di saat itulah mobil itu meledak.
DUARRRRR DUARRRR DUAAAARRRR
Rayhan lalu membantu Amanda bangun dari atas tanah, dia kemudian memeluk tubuh Amanda yang kini masih gemetar. Amanda kemudian menempelkan kepalanya pada dada Rayhan lalu menangis dalam pelukannya.
"Amanda dengarkan aku, inilah saatnya, inilah awal permainan kita, Amanda. Inilah awal pembalasanmu pada Abimana, apa kau mengerti?"
Amanda kemudian menganggukkan kepalanya. Melihat asap yang mulai mengepul, Abimana pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Hahahaha.... Akhirnya kau mati juga Amanda! Hahahaha."
'Aku belum mati, suamiku,' gumam Amanda sambil menatap asap yang membumbung tinggi.
__ADS_1
NOTE:
Khusus hari ini aku keluarin empat episode biar jadi satu alur ya, makasih yang udah mampir. Komen yang rame ya 😉😘