Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Vonis


__ADS_3

Abimana lalu mengangkat wajahnya.


"Abimana, waktumu sudah habis. Aku harus memenjarakanmu sekarang juga."


"Iya Rayhan," jawab Abimana sambil menganggukkan kepalanya.


"Amanda, aku titip Ghea."


"Iya kau tenang saja."


"Terimakasih."


"Sama-sama."


"Ayo Abi."


Abimana kemudian menganggukan kepalanya lalu berjalan di samping Rayhan.


"Rayhan, bolehkah aku meminta sesuatu lagi padamu?"


"Ya, katakan saja."


"Sebelum ke kantor polisi, bisakah kita mampir ke makam papa terlebih dulu?"


"Tentu saja."


Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah pemakaman.


"Papa," isak Abimana kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas makam Raka.


"Papa, maafkan Abi pa. Maaf jika selama ini Abi sudah begitu durhaka pada papa. Maafkan Abi, pa. Abi tahu dosa yang Abimana lakukan sangatlah besar, maafkan Abi pa, maaf jika nafsu dan keserakahan yang ada di dalam diri Abi membuat Abi melakukan semua tindakan bodoh ini pa!" isak Abimana sambil sedikit berteriak.


"Abi minta maaf atas segala dosa yang Abi pernah lakukan pa. Abi minta maaf, Abi minta maaf pa. Abi ikhlas jika papa dan mama tidak memaafkan Abi, Abi memang tidak berhak mendapatkan maaf dari kalian berdua. Maafkan Abi jika selama ini hanya bisa memberikan penderitaan dan tidak pernah memberikan kebahagiaan pada kalian. Maafkan Abi, pa...."


Rayhan pun hanya bisa menatap Abimana yang kini masih menangis sambil menempelkan tubuhnya di atas pusara.


'Bagus jika kau benar-benar sudah menyesali semua kesalahanmu Abimana, sayangnya penyesalan itu sudah terlambat, hingga akhirnya benar-benar merugikan dirimu sendiri, kini kau hanya bisa menghabiskan sisa umurmu di dalam jeruji besi,' gumam Rayhan sambil tersenyum kecut.


🍒🍒🍒


❣️ Satu Bulan Kemudian ❣️


Abimana menghembuskan nafas panjangnya, dadanya kini terasa begitu sesak mendengar putusan dari majelis hakim akan vonis yang dihadapinya.

__ADS_1


"Bagaimana saudara Abimana? Apakah ada keberatan atau akan banding? Saya memberikan waktu selama dua minggu untuk melakukan banding."


"Tidak, saya menerima vonis tersebut," ucap Abimana dengan bibir yang bergetar.


"Anda tidak ingin merundingkan dulu dengan kuasa hukum anda?"


"Tidak." jawab Abimana.


Para majelis hakim pun mengangguk lalu menyudahi persidangan. Abimana kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu tersenyum pada Amanda dan Rayhan yang duduk di deretan bangku di ruang persidangan. Mereka kemudian mendekat ke arah Abimana yang kini digandeng oleh beberapa orang polisi keluar dari ruang persidangan menuju ke mobil tahanan.


"Bisakah kami bicara sebentar dengan saudara Abimana?" tanya Rayhan pada polisi yang mengawal Abimana.


"Ya, lima belas menit cukup?"


"Iya cukup," jawab Rayhan.


Amanda lalu menatap Abimana.


"Kenapa kau tidak mengajukan banding?"


"Aku sangat yakin Amanda, hukuman mati itu memang pantas diberikan untukku. Dan aku sudah mempersiapkan semua ini, aku sudah siap Amanda."


"Kau yakin?"


"Baik jika itu maumu tapi tolong hubungi kami jika kau berubah pikiran."


"Ya. Mana mama?"


"Maaf Abi, mama belum ingin bertemu denganmu. Mungkin jika emosi di dalam hatinya sudah sedikit mereda dia akan datang menjengukmu."


"Iya, Amanda, Rayhan, maafkan aku jika sudah merepotkan kalian berdua, aku titip Sharen. Tolong jangan pernah katakan padanya jika dia memiliki ayah kandung sepertiku. Jangan katakan padanya jika orang tuanya adalah sepasang suami istri yang begitu bejat. Tolong rahasiakan jati diri kedua orang tuanya, Amanda. Aku tidak mau dia tumbuh dengan kondisi psikologis yang tidak sehat karena kedua orangtuanya, dia berhak bahagia tanpa beban karena memiliki orang tua seperti kami."


"Tapi bagaimanapun juga kau adalah ayahnya, Abi."


"Tolong Amanda, tolong jangan katakan itu. Lagipula tidak lama lagi aku juga mati, dia tidak akan pernah tahu jika aku adalah ayahnya. Tolong aku Amanda, jangan katakan pada Sharen jika ayah kandungnya adalah seorang tahanan yang divonis hukuman mati, tolong Amanda. Begitupula dengan Kenzo, Rayhan tolong anggap Kenzo sebagai anak kandungmu, biarkan Kenzo tahu jika ayahnya adalah kau, hanya kau Ray."


"Baik, aku akan melakukan yang kau inginkan."


"Terimakasih banyak Amanda. Terimakasih Rayhan."


"Waktu kalian sudah habis," kata seorang polisi yang mendekat ke arah mereka.


"Aku pergi dulu."

__ADS_1


Amanda dan Rayhan pun mengangguk sambil menatap Abimana yang kini masuk ke mobil tahanan. Amanda lalu menatap pada Rayhan.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa, Ray. Bagaimanapun juga Abimana pernah menjadi teman masa kecilku, mantan suamiku, dan ayah kandung dari Kenzo."


"Ya, aku tahu itu."


"Bagaimana, kau mau menuruti permintaan Abimana kan?"


"Tentang?" tanya Rayhan sambil mengerutkan keningnya.


"Kenzo."


Rayhan kemudian tersenyum.


"Apa itu perlu kau tanyakan lagi padaku? Apa selama ini kau tidak pernah melihat sikapku pada Kenzo? Bukankah aku sangat menyayanginya? Saat aku berkomitmen untuk menikah denganmu, maka aku akan mencintai apa yang ada di dalam dirimu, termasuk Kenzo. Aku akan selalu menyayanginya dan menganggapnya sebagai anak kandungku."


Amanda pun tersenyum.


"Terimakasih. Lalu bagaimana dengan Ghea?"


"Saat kemarin aku menjenguknya, dia selalu mengamuk dan berkata-kata kasar padaku."


"Jadi, dia benar-benar mengalami gangguan jiwa?"


"Entahlah."


"Apa maksudmu?"


"Semua kemungkinan bisa saja terjadi, Amanda. Kita tidak tahu bagaimana dalamnya hati seseorang."


"Maksudmu dia hanya berpura-pura saja?"


"Amanda, seseorang bisa melakukan apapun untuk menghindar dari jerat hukum. Hanya orang berjiwa besar yang mampu menghadapi proses hukum dengan kepala tegak."


"Maksudmu seperti Abimana?"


"Ya, dan aku yakin dia sudah benar-benar bertaubat."


"Lalu apa yang akan kita lakukan pada Ghea?"


"Melakukan penyelidikan tentang penyakit kejiwaannya."


"Kapan?"

__ADS_1


"Sekarang."


__ADS_2