
Rayhan pun tersenyum kecut sambil menahan amarah yang begitu berkecamuk di dadanya. Dia lalu membalikkan tubuhnya kemudian mendekat kembali pada Amanda.
"Amanda, aku pulang dulu. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memberitahu perawat yang ada di sini ataupun menghubungiku, nanti aku datang ke sini lagi."
"Tapi Ray, kau sudah memiliki istri. Istrimu pasti lebih membutuhkanmu, lagipula di sini ada perawat yang akan menjagaku."
"Tidak apa-apa, kau jauh lebih membutuhkanku. Kau baru saja selesai operasi dan tidak boleh banyak bergerak sedangkan aku sedang menyembunyikanmu. Aku tidak mungkin meminta bantuan pada orang lain, jika tidak rencana kita bisa berantakan. Apa kau mengerti?"
"Ya."
"Baik, aku pergi dulu." kata Rayhan kemudian keluar dari ruangan Amanda. Dia kemudian bergegas menuju ke minimarket untuk mengambil barang belanjaan milik Inara. Setelah mengambil barang belanjaan itu, Rayhan kemudian bergegas masuk ke dalam mobil lalu membuka isi belanjaan dan menemukan dua bungkus pembalut di dalam kantong belanjaan tersebut.
"DASAR WANITA BRE*GSEK!!" umpat Rayhan sambil memukul setir mobilnya.
"SHITTTTT!! DASAR BRE*GSEK, KURANG AJAR, BA*INGAN!! BISA-BISANYA AKU TERTIPU OLEH WANITA SEPERTI ITU!! SELAMA INI AKU BENAR-BENAR BODOH!!"
"AKU BENAR-BENAR BODOH!"
"AKU BENAR-BENAR BODOH!" teriak Rayhan berulang kali kemudian mengehembuskan nafas panjangnya.
"HAAAAAAHHHHHHHH!!!" teriak Rayhan di dalam mobil.
"Aku harus pulang sekarang, rasanya aku benar-benar ingin mencabik-cabik wanita ke*arat itu!! HAAAAAHHH!!" teriak Rayhan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian memejamkan matanya.
"Oh tidak, aku tidak boleh terpancing emosi, aku tidak boleh menggunakan emosiku lagi dalam menghadapi Inara. Aku tidak boleh sendirian dalam menghadapi kebohongan Inara, harus ada orang lain sebagai saksi yang melihat kebohongan Inara karena dia sangatlah licik, dia bahkan dulu berhasil membuatku kembali padanya saat aku sudah berhasil menalak dirinya. Lagipula, bukankah besok malam Vallen akan membantuku? Aku percaya Vallen pasti bisa membantuku mengatasi semua ini. Lebih baik sekarang aku pulang lalu mengantarkan barang belanjaan ini, lalu aku kembali ke rumah sakit secepatnya, aku sudah sangat muak padanya. Aku pasti tidak akan bisa mengendalikan emosiku jika malam ini aku masih tinggal bersamanya." gerutu Rayhan sambil mengatur napasnya yang begitu tersengal-sengal menahan emosi yang menyelimuti hatinya. Rayhan kemudian melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
'Aku harus tenang, aku harus tenang, kendalikan emosimu Rayhan, aku harus bisa memastikan kembali semua ini. Redam emosimu Rayhan.' gumam Rayhan saat memasuki rumahnya sambil membawa belanjaan milik Inara kemudian menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
Perlahan dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, tampak Inara baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk kimono di tubuhnya. Rayhan kemudian berjalan mendekat pada Inara sambil tersenyum.
"Kau baru saja selesai mandi, Inara?" kata Rayhan sambil menatap Inara dengan tatapan nakalnya.
Melihat Rayhan yang semakin dekat padanya, Inara pun tampak begitu gugup.
'Jangan mendekat Mas, jangan mendekat.' gumam Inara dalam hati.
'Oh tidak, semoga Mas Rayhan tidak mengajakku melakukan hubungan suami istri.' gumam Inara sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Melihat Inara yang tampak begitu panik, Rayhan kemudian semakin mendekatkan tubuhnya pada Inara.
"Inara, aku merindukanmu." bisik Rayhan di telinga Inara.
'Oh tidak, jangan.' gumam Inara.
"Kenapa Inara? Kenapa kau terlihat sangat panik? Aku sangat merindukanmu, bukankah biasanya kau selalu berg*irah padaku?" kata Rayhan sambil membelai wajah Inara.
"Sebentar saja Inara, malam ini aku tidak tidur di rumah karena ada urusan keluar kota, apa kau tega membiarkanku menahan gai*ahku yang sudah begitu bergejolak padamu karena kemungkinan aku baru bisa pulang besok sore."
"Ma.. Maaf mas, untuk sore ini aku tidak bisa. Perutku sangat sakit, aku tidak mau sesuatu terjadi pada anak yang ada di dalam kandunganku."
"Jadi kau menolakku?"
"Maafkan aku." kata Inara kemudian berjalan menjauhi Rayhan.
Rayhan kemudian melirik Inara sambil tersenyum kecut. 'Tentu saja kau menolakku karena kau sedang menstruasi kan, Inara?' gumam Rayhan di dalam hati.
__ADS_1
"Oh, baiklah. Lebih baik aku pergi sekarang saja karena jika aku di rumah ini, aku tidak mungkin bisa menahan has*atku padamu."
"Oh.. E.. E.. Iya mas." jawab Inara dengan sedikit gugup.
'Sial, karena tamu tak diundang ini aku jadi tidak bisa bermesraan dengan Mas Rayhan. Padahal sangat jarang Mas Rayhan bersikap seperti ini padaku, tapi untuk saat ini lebih baik kau pergi keluar kota saja, mas. Jika kau ada di rumah ini mungkin kau bisa curiga padaku. Mungkin saja Mas Rayhan mulai jatuh cinta padaku karena sore ini dia terlihat begitu bern*fsu padaku .' gumam Inara sambil melihat Rayhan yang sedang berkemas.
"Aku pergi dulu, Inara. Jaga dirimu baik-baik. Oh iya barang belanjaanmu ada di meja."
"Eh, iya mas."
Rayhan kemudian bergegas keluar dari rumahnya lalu masuk ke dalam mobilnya sambil menghembuskan nafas panjangnya.
"Huttttffff, akhirnya aku bisa menahan emosiku saat bertemu dengannya. Inara, tunggu permainanku besok malam."
Rayhan kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit kembali. Dengan sedikit terburu-buru, dia melangkahkan kakinya ke kamar perawatan Amanda.
"Baru saja aku meninggalkan Amanda tapi kenapa tiba-tiba aku sudah sangat mencemaskannya." kata Rayhan saat sedang melangkahkan kakinya menuju ke kamar perawatan tersebut.
CEKLEK
Rayhan kemudian membuka pintu kamar perawatan tersebut lalu mulai melangkahkan kakinya berjalan mendekat ke arah Amanda. Melihat wajah polos Amanda yang sedang terlelap dengan begitu damai, hati Rayhan pun terasa begitu bergejolak, rasa emosi yang menyelimuti hatinya tiba-tiba hilang begitu saja. Perlahan dia pun membelai rambut panjang Amanda.
'Putri tidurku, entah kenapa saat melihat wajahmu hatiku terasa begitu damai.' gumam Rayhan sambil membelai rambut dan wajah Amanda yang membuat Amanda sedikit terkejut lalu membuka matanya.
"Rayhaaannnn!!"
'Astaga, aku lupa. Kupikir dia masih tidak sadarkan diri.' gumam Rayhan sambil menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
NOTE:
Wajib tinggalin jejak, komen yang rame ya dear 🥰😘❤️