
"Mas, tolong jangan lakukan itu padaku mas, jangan lakukan itu, aku sangat mencintaimu mas itulah alasannya aku melakukan semua kebohongan itu."
"Ini namanya bukan cinta, Inara? Jika kau mencintaiku, kau tidak akan pernah melakukan semua ini padaku! Kau tidak akan menyakiti orang yang kau cinta!"
"Tapi aku ingin hidup bersamamu, mas. Tolong maafkan aku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua sikapku."
"Kesempatan katamu? Apa semua kesempatan yang selalu kuberikan padamu itu belum cukup? Aku sudah memberimu banyak kesempatan untuk merubah, Inara! Tapi kau tetap saja menjadi wanita yang egois! Bahkan kau selalu menuduhku dengan semua prasangka burukmu! Terlebih lagi, kau telah melakukan kesalahan yang begitu besar padaku! Maaf Inara, sampai kapanpun keputusanku tetap sama, aku akan menceraikanmu secepatnya! Rumah tangga yang sejak awal dipenuhi oleh drama dan kebohongan itu tidak akan pernah berhasil, Inara! Permisi!"
Rayhan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut, namun Inara memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil bersimpuh di belakangnya.
"APA-APAAN INI INARA!!"
"Mas tolong jangan lakukan ini, jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya mas."
"Kau seharusnya sadar, aku berbuat seperti ini itu karena ulahmu, kau telah berani melakukan kebohongan sebesar itu pada suamimu sendiri, Inara!"
"Bukankah sudah kukatakan jika aku melakukan seperti itu karena aku ingin terus bersamamu mas, jika aku tidak berpura-pura hamil, memangnya dulu kau mau kembali padaku? Kau pasti akan meninggalkanku kan mas? Kau pasti akan pergi ke London sendirian dan meninggalkan aku disini."
"Lalu, setelah kau berpura-pura hamil, memangnya aku juga tetap ada di sampingmu? Aku bahkan kini sudah begitu muak melihatmu, Inara! Asal kau tahu tidak seperti itu caranya membuat seorang laki-laki jatuh cinta padamu, jika kau ingin ada laki-laki yang mencintaimu tolong perbaiki sikapmu, bagaimana seorang laki-laki bisa jatuh cinta padamu jika kau selalu mempertontonkan sifat egois dan kekanak-kanakanmu, sekarang tolong lepaskan aku, meskipun sekarang kau bisa mencegahku untuk pergi dan tetap tinggal di sini, keputusanku akan tetap sama, yaitu menceraikanmu. Ingat Inara, sekuat apapun kau mencengkram ragaku tapi hatiku tidak akan pernah untukmu! Sekali lagi kukatakan padamu, hatiku tidak akan pernah untukmu!"
Mendengar perkataan Rayhan, perlahan Inara melepaskan pelukannya, dadanya pun kian naik turun menahan emosi yang begitu bergemuruh setelah mendengar perkataan Rayhan.
"Baik jika itu maumu mas, lebih baik aku mati saja agar kau puas!" kata Inara kemudian berlari ke arah dapur untuk mengambil sebuah pisau. Melihat tingkah Inara, Rayhan hanya tersenyum.
"Berbuatlah sesukamu, Inara! Silahkan kau mati jika itu pilihanmu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah peduli lagi padamu!" kata Rayhan kemudian bergegas keluar dari rumahnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil tersebut
Sementara Inara hanya bisa meratapi kepergian Rayhan.
"Kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku, mas? Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, padahal segalanya telah kulakukan untuk mendapatkan dirimu, namun kenapa akhirnya selalu jadi seperti ini? Tapi aku belum menyerah, aku masih memiliki jalan untuk tetap menjadi istrimu lagi, mas."
🍒🍒🍒
Rayhan bergegas memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil tersebut dengan begitu tergesa-gesa.
"Maafkan aku Amanda, maaf aku sudah terlalu lama meninggalkanmu," ucap Rayhan saat berjalan ke kamar perawatan Amanda. Namun saat sudah sampai di depan kamar perawatan tersebut, tiba-tiba Rayhan merasa begitu gugup.
'Astaga, kenapa aku jadi gugup seperti ini?' gumam Rayhan kemudian menghembuskan nafas panjangnya.
"Ini pasti karena aku masih merasa begitu marah, tenang Rayhan, tenangkan dirimu." Rayhan pun membuka pintu kamar perawatan itu.
CEKLEK
__ADS_1
'Dia sudah tidur,' gumam Rayhan sambil melangkahkan kakinya ke arah Amanda. Melihat wajah Amanda yang tidur dengan terlihat begitu damai, Rayhan pun tersenyum.
'Kenapa hatiku rasanya begitu damai saat melihatmu tertidur, putri tidurku.' gumam Rayhan lagi kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah sofa.
"Kau sudah datang?" sapa sebuah suara yang membuat Rayhan membalikkan tubuhnya kembali.
"Kupikir kau sudah tidur."
Amanda kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Apa urusanmu sudah selesai, Ray?"
Rayhan pun mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian melangkahkan kakinya kembali mendekat pada Amanda lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Amanda.
"Maaf jika aku terlalu lama meninggalkanmu."
"Tidak apa-apa, kau tenang saja, aku baik-baik saja."
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Rayhan sambil melirik makanan Amanda yang masih utuh. Amanda pun hanya tersenyum.
"Astaga, Amanda. Maafkan aku, sekarang kusuapi saja ya."
"Tidak usah, tadi aku memang belum lapar."
"Tapi kau harus makan, Amanda. Ayo sekarang kau kusuapi. Cepat buka mulutmu."
"Aku jadi ingat mama."
"Mama?"
"Ya, Mama Vera, mamanya Abimana. Dia sangat baik dan perhatian padaku, dia juga begitu menyayangiku sama sepertimu."
"Menyayangi seperti diriku?"
"Oh.. E.. Maaf, aku salah bicara, bukan itu maksudku. Maksudku kau sangat baik seperti mama."
"Dan sangat menyayangimu Amanda, seperti mamamu. Sekarang lebih baik kau habiskan makananmu lalu minum obatnya."
"Ya," jawab Amanda sambil tersenyum, dia kemudian memakan suapan demi suapan makanan hingga akhirnya makanan itu pun habis.
"Anak pintar, kau habiskan makananmu dengan cepat."
"Kau pikir aku masih anak-anak?"
__ADS_1
Rayhan pun tersenyum. "Anggap saja begitu, sekarang lebih baik kau tidur, kau harus banyak beristirahat."
"Aku baru saja bangun dan belum mengantuk, kenapa kau selalu menyuruhku untuk tidur?"
"Jadi kau ingin aku menemanimu menonton kartun bersamamu?" Amanda pun mengangguk.
"Baiklah, putri tidurku. Ayo kita menonton kartun bersama-sama."
Mendengar perkataan Rayhan, Amanda kemudian menatapnya sambil mengerutkan keningnya.
"Putri tidur?"
"Oh ya.. Emm.. E.. Maksudku kupikir kau akan menonton kartun putri tidur."
"Kau ada-ada saja, Ray," kata Amanda sambil terkekeh. Rayhan pun hanya tersenyum sambil memandang wajah Amanda yang kini tampak begitu ceria melihat acara kartun yang ada di depannya.
'Keceriaanmu sangat berbanding terbalik dengan rasa sakit yang kini kualami,' gumam Rayhan, hingga tanpa dia sadari air mata mulai menetes membasahi wajahnya, disaat itulah Amanda juga memalingkan kepalanya dan melihat Rayhan yang sedang menghapus air matanya.
"Kau menangis, Ray? Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?"
"Tidak Amanda, jangan kau pikirkan."
"Apa hatimu terasa begitu sakit?"
"Tidak apa-apa, Amanda. Aku tidak apa-apa."
"Kau jangan seperti itu, Rayhan. Aku adalah temanmu, bukankah kau selalu ada untukku? Sekarang aku pun akan selalu ada untukmu, jika kau butuh teman untuk berbicara katakan saja keluh kesahmu, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu, jika kau membutuhkan tempat untuk bersandar, kau bisa memeluk.. " Namun sebelum Amanda menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Rayhan sudah memeluknya sambil meneteskan air matanya.
"Kau mau menjadi teman yang mendengar keluh kesahku?"
"Ya."
"Kau mau menjadi tempat untuk bersandar saat aku sedih?"
"Ya. Apa rasanya begitu sakit Ray? Menangislah sepuasmu Rayhan, menangislah sepuasmu, aku akan menjadi tempatmu untuk bersandar."
"Terimakasih Amanda," jawab Rayhan.
Disaat itulah, tiba-tiba ponsel Rayhan berbunyi.
NOTE:
__ADS_1
Jangan lupa wajib tinggalin jejak, komen yang rame ya. Love you dear 😘🥰❤️