Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Palsu


__ADS_3

Rayhan kini menatap Amanda yang masih terpejam. "Amanda, apakah kau tahu rasanya patah hati? Apakah kau tahu rasanya sakit hati karena orang yang kau sayangi ternyata tidak mencintaimu? Aku sedang merasakan itu Amanda. Hampir separuh hidupku kuhabiskan untuk mencintai seorang wanita namun keadaan telah membuat kami berpisah, tapi sialnya sampai saat ini aku masih mencintainya meskipun aku ikhlas dengan perpisahan kami berdua. Dan tahukah kau Amanda, jika kini aku harus bekerja dengan mereka. Aku harus bekerja dengan sepasang suami istri itu Amanda, tolong katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk mengubur rasa cintaku? Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa tetap tersenyum saat berada di dekat mereka? Katakan padaku Amanda, kau harus bangun, kau harus benar-benar menjadi temanku yang bisa mendengarkan keluh kesahku. Amanda, kau dengar aku kan?"


Namun Amanda hanya terdiam sambil terus memejamkan matanya.


"Amanda, aku masih menunggu jawabanmu, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin melihat matamu, bahkan aku juga sangat ingin melihat senyummu."


Rayhan pun tersenyum lalu menggenggam tangan Amanda kembali, berharap ada respon lagi seperti beberapa saat yang lalu.


"Amanda, apakah kau mau beristirahat? Baik kalau begitu, aku pulang dulu. Beristirahatlah, besok aku kembali lagi." kata Rayhan kemudian beranjak dari tempat duduknya sambil melepaskan genggaman tangan Amanda. Rayhan pun mengamati tangan Amanda namun tetap tidak ada gerakan dari tangan tersebut, dia kemudian perlahan meninggalkan Amanda keluar dari ruangan tersebut, tapi tanpa Rayhan ketahui saat dia keluar dari kamar perawatan tersebut, sebutir air mata keluar dari ujung mata Amanda.


Rayhan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit lalu masuk kedalam sebuah taksi yang sudah dipesannya kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya.


"Astaga, ponsel ini suaranya tidak kuaktifkkan, aku tidak tahu jika Inara berkali-kali menghubungiku." kata Rayhan dengan begitu panik saat melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Inara. Rayhan pun mencoba menghubungi Inara, namun tidak ada jawaban darinya.


"Bagaimana jika Inara marah padaku?" gerutu Rayhan saat dalam perjalanan pulang. Setengah jam kemudian, Rayhan pun sudah sampai di rumahnya. Bergegas dia berlari ke arah kamarnya. Saat berada di depan pintu kamar tersebut, Rayhan pun tampak ragu.


"Semoga Inara tidak marah padaku."


Rayhan pun membuka pintu tersebut. Tampak Inara sedang berdiri di balkon kamar itu. Perlahan, Rayhan pun mendekat ke arah Inara yang sedang berdiri membelakanginya.


"Inara maafkan aku, aku tadi tidak tahu jika kau berulangkali menelponku, saat berada di rumah duka, aku memang tidak membunyikan ponselku jadi aku tidak tahu jika kau berulangkali meneleponku. Sekali lagi maafkan aku Inara, maafkan aku. Tolong jangan marah dan berfikiran yang tidak-tidak padaku."


Mendengar perkataan Rayhan, Inara pun membalikkan tubuhnya sambil tersenyum.


"Kau tenang saja Mas, aku tidak marah padamu. Tadi aku hanya sedang menginginkan sesuatu."


Rayhan pun tersenyum, raut wajah kelegaan terpancar di wajahnya. 'Syukurlah Inara tidak marah padaku.' gumam Rayhan sambil mendekat pada Inara.


"Apa yang kau inginkan Inara? Apakah anak kita menginginkan sesuatu?"


Inara pun tersenyum sambil mengangguk. Rayhan kemudian memegang perut Inara yang kini terlihat membuncit.

__ADS_1


"Anak papa, apa yang kau inginkan?" kata Rayhan sambil mengelus perut Inara.


"Tadi aku ingin kau mengajakku jalan-jalan, aku sudah lama tidak memakan makanan Indonesia, mas."


"Jadi kau ingin aku mengajakmu pergi keluar? Baiklah kalau begitu. Kita pergi sekarang juga." kata Rayhan sambil menarik tangan Inara. Namun saat Rayhan akan melangkahkan kakinya, dia menarik tangan Rayhan kembali.


"Kenapa Inara? Bukankah tadi kau mengatakan jika kau ingin pergi keluar?"


"Ya, itu tadi. Tapi sekarang tidak."


Rayhan pun mengerutkan keningnya. "Lalu apa yang kau inginkan?"


Inara pun tersenyum lalu mulai memeluk tubuh Rayhan. "Aku ingin bermesraan denganmu, mas." bisik Inara di telinga Rayhan kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Rayhan lalu mulai mencium bibir Rayhan.


'Astaga, inilah saat-saat yang paling membuatku gugup, aku bahkan tidak tahu bagaimana aku harus memulainya dan menumbuhkan rasa di dalam lubuk hatiku agar aku tertarik pada Inara.' gumam Rayhan sambil membalas ciuman Inara yang kini begitu bergairah padanya.


"Kenapa mas?" tanya Inara karena melihat Rayhan yang tidak bersemangat.


"Jadi kau lelah mas?"


Rayhan pun mengangguk.


"Baik, kalau begitu kau istirahat saja."


"Tidak Inara, aku tidak apa-apa." kata Rayhan sambil membelai wajah Inara kemudian mendekatkan wajahnya pada Inara lalu mencium bibirnya kembali.


'Rayhan. come on, come on Rayhan.' gumam Rayhan saat mencium bibir Inara. Namun saat sedang asyik berciuman, tiba-tiba Inara terlihat panik.


'Oh tidak.' gumam Inara, dia pun kemudian menghentikan ciumannya pada Rayhan.


"Kenapa Inara?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas, perutku hanya sedikit sakit."


"Perutmu sakit?"


Inara kemudian mengangguk.


"Kalau kau sakit lebih baik kau istirahat saja."


"Iya mas, tapi aku mau ke kamar mandi sebentar."


"Iya." jawab Rayhan kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


'Huft syukurlah.' gumam Rayhan sambil menatap Inara yang kini masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Inara yang kini ada di dalam kamar mandi tampak begitu panik, dia kemudian mengambil sebuah pembalut yang dia sembunyikan di dalam rak kamar mandi lalu memasangnya pada cela*a dala*nya.


'Sial, kenapa kau datang di saat yang tidak tepat. Seharusnya kau datang saat aku sudah selesai bermesraan dengan Mas Rayhan, jadi selama satu minggu ini aku harus membuat alasan kembali agar Mas Rayhan tidak menyentuhku.' gerutu Inara.


Setelah selesai memasang pembalutnya, dia kemudian membuka atasan yang dipakainya lalu perlahan melepaskan perut palsu yang dia tempelkan di perutnya.'


'Sungguh tidak nyaman memakai perut seperti ini.' gumam Inara kembali sambil menatap perut palsu yang baru dilepasnya.


'Untungnya saat berhubungan badan denganku, Mas Rayhan tidak pernah menyentuh perutku jadi dia tidak tahu jika ada lapisan tipis yang menempel di perutku.' gumam Inara sambil tersenyum menyeringai.


Akhirnya sebuah ketukan pintu pun terdengar.


TOK TOK TOK


"Inara, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau lama sekali? Bagaimana keadaan perutmu? Lebih baik kita ke dokter saja Inara, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."


Mendengar suara Rayhan, Inara pun begitu panik. Apalagi saat ini decit suara pintu yang terbuka pun mulai terdengar.

__ADS_1


'Oh tidak.'


__ADS_2