
Dengan sedikit ragu-ragu Rayhan pun membalikkan tubuhnya.
"Selamat siang Kak David."
"Kau?" kata David sambil menatap Rayhan dan mengerutkan keningnya.
Rayhan pun tersenyum.
"Ya, aku pengacara Amanda."
"Astaga." kata David sambil menghembuskan nafasnya.
"Aku minta maaf padamu Kak."
"Untuk apa?"
"Karena telah menyakiti adikmu beberapa bulan yang lalu, aku begitu pengecut sampai tidak berani menemui keluarga kalian."
"Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula saat ini kalian sudah bahagia dengan pasangan masing-masing kan?"
Rayhan pun tersenyum sambil mengangguk.
'Vallen yang bahagia dengan pasangannya saat ini tapi tidak denganku, aku yang meninggalkan Vallen dan aku sendiri yang sampai saat ini tidak bisa melupakannya.' gumam Rayhan dalam hati.
"Aku juga tadi bertemu dengan Firman, saat ini dia menjadi manager di perusahaan milik Amanda."
David pun tersenyum. "Sepertinya ini bukan hanya sebuah kebetulan, mungkin kalian berjodoh, berjodoh untuk menjalani kehidupan ini bersama sebagai teman."
"Ya, mungkin."
'Dan mulai saat ini, aku pun harus menyiapkan perasaanku.' gumam Rayhan lagi.
"Jadi kau adalah pengacara Amanda?"
"Iya Kak, ayah angkat Amanda yang merupakan ayah dari suami Amanda yang memintaku sendiri untuk menjadi pengacara bagi Amanda."
"Jadi orang tua Abimana sudah tahu semua perbuatan anaknya?"
"Hanya ayahnya saja, ibunya belum tahu semua perbuatan Abimana. Lalu bagaimana dengan Amanda kak, apakah sebelum dia koma dia sudah tahu semua perbuatan suaminya?"
"Ya." jawab David sambil menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah. Lalu bagaimana dengan kondisi Amanda yang sebenarnya?"
__ADS_1
"Dia mengalami koma setelah operasi sesar, namun sebelum dilakukan operasi tersebut Amanda sudah tidak sadarkan diri, karena saat itu dia datang ke rumah sakit ini dengan kondisi yang sudah begitu parah. Selama ini dia selalu melakukan kontrol rutin tapi dokter jantungnya tidak memberikan obat yang semestinya, dokter itu malah memberikan obat pelemah jantung, begitu pula dengan dokter kandungannya, dokter kandungannya juga tidak menjaga kondisi Amanda agar bisa bertahan. Jika dokter kandungannya memberikan vitamin yang cukup kondisi tubuh Amanda tidak akan selemah ini."
"Mereka benar-benar kurang ajar! Jadi Abimana bekerjasama dengan mereka."
"Ya."
"Kenapa kau belum melaporkan kejahatan duo orang dokter tersebut Kak?"
"Aku belum memiliki bukti yang cukup lengkap, selain itu aku juga mempertimbangkan keselamatan Amanda, mereka bisa saja berbuat nekat karena itulah aku memasang CCTV di ruangan ini, saat itu kau belum pulang dari London, dan kebetulan ayahmu meneleponku jadi aku meminta persetujuan darinya dan dia mengijinkanku."
"Ya, ayah pernah membicarakan itu."
"Dan karena kejadian itulah Abimana begitu marah. Selang beberapa jam setelah pemasangan CCTV tersebut, tiba-tiba ayahnya meninggal padahal saat itu kondisinya sudah membaik. Ayah Abimana memang tidak dirawat disini tapi aku mengenal dengan baik dokter yang menanganinya di rumah sakit tempat dia dirawat, dan dia sebenarnya cukup terkejut dengan kondisi Tuan Raka yang meninggal secara mendadak. Tapi sayangnya kami tidak memiliki bukti apapun."
"Aku akan menyelidiki semua ini."
"Ya, seharusnya begitu karena itu adalah tugasmu."
"Iya Kak."
"Aku juga sudah meminta Vallen untuk menyelidiki dokter spesialis jantung dan kandungan yanga menangani Amanda."
'Astaga, Vallen.' gumam Rayhan.
Rayhan pun mengangguk sambil tersenyum.
'Benar-benar berat, dan aku tidak menyangka keadaannya akan seperti ini.' gumam Rayhan kembali.
"Kak David aku ingin bertanya padamu."
"Apa?"
"Lihatlah tanganku, tadi saat aku akan pulang tiba-tiba Amanda menggenggam tanganku dengan begitu erat, padahal belum ada respon pada bagian tubuh yang lainnya."
David kemudian melihat tangan Amanda yang masih menggenggam tangan Rayhan, dia kemudian tersenyum.
"Ini pertanda bagus, ini artinya sudah ada respon dalam tubuhnya meskipun baru tangannya. Mungkin saat ini Amanda kesepian karena jarang sekali ada orang yang mengunjunginya. Kedatanganmu berdampak baik pada Amanda, sebaiknya kau sering mengunjunginya dan mengajaknya berkomunikasi aku yakin dia bisa secepatnya sadar dari komanya karena selain obat-obatan, sugesti dari pasien tersebut juga sangat berpengaruh pada kesembuhannya, dan aku harap kau bisa membantu Amanda agar selalu memberikan semangat padanya agar mau bertahan untuk hidup."
"Iya Kak, aku mengerti. Apakah dia masih memiliki kemungkinan yang cukup besar agar secepatnya bisa sadar?"
"Tentu, setelah mengoperasi Amanda bahkan Vallen pernah mengatakan padaku jika kemungkinan Amanda hanya akan mengalami koma beberapa minggu saja asalkan dia mendapatkan penanaman yang tepat, dan kami sudah memberikan penanganan terbaik padanya, sekarang kau juga lakukan tugasmu, ajaklah Amanda berkomunikasi agar mempercepat membantu kesembuhannya."
"Iya Kak."
__ADS_1
Perlahan genggaman tangan Amanda pun melemah, melihat tangannya yang sudah tidak dalam genggaman Amanda, Rayhan pun menarik tangannya.
"Amanda apa kau sudah mengijinkanku untuk pulang?" tanya Rayhan, mata Amanda pun bergerak.
"Kak David, dia bisa menggerakkan matanya."
David pun tersenyum. "Ini benar-benar bagus Rayhan, besok kau datanglah lagi kemari, dia memang benar-benar membutuhkan seorang teman."
"Iya Kak."
"Sebaiknya kau pulang saja sekarang, bukankah pagi ini kau baru sampai? Lebih baik kau istirahat saja di rumah lalu mulailah pekerjaanmu besok."
"Iya Kak." jawab Rayhan kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pulang dulu, terimakasih banyak sudah menjaga Amanda."
David pun mengangguk. "Itu sudah menjadi tugasku."
Rayhan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Amanda, saat sedang berjalan ke arah pintu keluar rumah sakit tiba-tiba netranya tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang berjalan dengan sedikit tergesa-gesa keluar dari rumah sakit.
"Vallen." kata Rayhan sambil tersenyum, dia pun kemudian mengikuti langkah Vallen di belakangnya. Namun saat posisinya sudah dekat dengan Vallen tiba-tiba Vallen berlari lalu menghambur pada tubuh seorang lelaki.
"FIRMANNNN!!" teriak Vallen lalu memeluk tubuh Firman sambil mengalungkan tangannya di lehernya dan mengangkat tubuhnya.
"Kau sudah bisa melakukan pelukan manjamu itu? Apa sudah tidak sakit?"
"Sedikit sakit, tapi aku sangat merindukanmu."
"Wanita aneh, kita hanya baru beberapa jam saja berpisah."
"Aku selalu merindukanmu setiap saat meskipun kau meninggalkanku hanya sedetik saja." jawab Vallen kemudian mengecup bibir Firman.
"Hahahaha, bagaimana kalau Kak David tahu kita bermesraan di tempat umum lagi, dia pasti akan marah."
"Dia tidak ada di sini."
'Tapi aku ada di sini Vallen, dan aku mendengar percakapan kalian berdua, rasanya begitu menyakitkan.' gumam Rayhan sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Vallen dan Firman. Tanpa dia sadari, dia melangkahkan kakinya kembali ke dalam rumah sakit lalu masuk ke dalam kamar perawatan Amanda. Perlahan Rayhan pun mendekat pada Amanda lalu duduk di sampingnya.
"Amanda maukah kau menjadi temanku? Maukah kau menjadi teman yang mendengar keluh kesahku? Maukah kau menjadi pendengar setia tentang kepahitan yang kualami saat ini?"
Amanda pun menggerakkan matanya, Rayhan yang melihat respon dari Amanda pun tersenyum.
"Sepertinya kita akan menjadi teman yang baik Amanda."
__ADS_1
Tanpa Rayhan sadari, begitu banyak panggilan masuk yang dia abaikan di ponselnya.