Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Makan malam


__ADS_3

Vera perlahan membuka matanya lalu memegang kepalanya yang masih terasa begitu pusing, dia kemudian melihat ke sekelilingnya dan melihat Abimana yang kini duduk di samping ranjangnya.


"Ma.. Mama sudah sadar ma?"


"Abi?? Mama di rumah sakit?"


"Iya ma, kemarin mama pingsan."


"Pingsan?"


"Iya ma, mama pingsan di rumah. Ada pembengkakan pada pembuluh darah di kepala mama, untungnya Abi cepat membawa mama ke rumah sakit. Jika tidak bisa fatal akibatnya, tolong mama jangan berfikiran hal yang berat terlebih dulu ma."


"Kenapa Abi?"


"Kenapa apanya ma?"


"Lebih baik mama mati saja."


"Mama tolong jangan bicara seperti itu."


"Memang itu yang mama inginkan."


"Ma, tolong jangan berkata seperti itu."


"Itulah kenyataannya, lebih baik mama menyusul papa dan Amanda saja, mama sudah tidak memiliki alasan hidup di dunia ini, untuk apa mama hidup jika hanya untuk melihat dirimu bersenang-senang dengan wanita ja*ang itu."


"Ma, tolong tenangkan diri mama. Mama harus bertahan karena ada Sharen yang membutuhkan mama. Tolong mama jangan berkata seperti itu lagi."


"Mama hidup untuk mengasuh putrimu lalu kau bersenang-senang dengan wanita itu kan Abi? Kau bersenang-senang dengan menggunakan harta milik orang lain yang telah menghidupi kita selama puluhan tahun? Sungguh memalukan."


"Mamaaaa, ini takdir ma. Amanda sudah meninggal. Cepat atau lambat aku juga pasti akan mencari pengganti Amanda karena aku membutuhkan pendamping ma."


"Pendamping katamu? Kalian bahkan sudah memiliki hubungan sejak Amanda masih hidup lalu dengan mudahnya kau berkata seperti itu? Kau benar-benar tidak punya malu, Abimana! Lihat sikapmu! Bagaimana mama tidak memiliki pikiran buruk jika melihat sikapmu yang seperti ini?"


"Mama tolonglah, sudah ma. Abi sedang tidak ingin berdebat dengan mama, lebih baik mama pikirkan kesehatan mama terlebih dulu."


"Kau memang benar-benar tidak punya hati Abimana!! mama menyesal telah melahirkan anak seperti dirimu!"

__ADS_1


"Mamaaa!!! Lebih baik mama diam dan pikirkan kesehatan mama, Abi sudah berbaik hati membawa mama ke rumah sakit tapi mama malah memojokkan Abi seperti ini!!"


"Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot Abi, karena kau pun tahu mama sudah tidak ingin hidup lagi di dunia ini!"


"MAMA LEBIH BAIK MAMA DIAM DAN PIKIRKAN KESEHATAN MAMA TERLEBIH DULU!!" teriak Abimana kemudian berjalan meninggalkan ruang perawatan Vera. Melihat Abimana yang pergi meninggalkannya, Vera pun hanya bisa menangis.


"Maafkan mama, Amanda. Maafkan mama, mama tidak bisa menjagamu, selama ini mama selalu tidak pernah mengindahkan kata-kata papa tentang kelakuan Abimana, mama selalu menutup mata karena yang mama tahu Abi adalah anak yang baik dan sangat menyayangimu, tapi ternyata mama salah. Dan saat menyadari semua ini, semunya sudah terlambat," ucap Vera di sela isak tangisnya.


🍒🍒🍒


"Ayo turun Inara," kata Rayhan saat selesai memarkirkan mobilnya di basemen apartemen Vallen.


"Iya mas."


Mereka lalu turun dari dalam mobil, Rayhan pun menggandeng tangan Inara saat masuk ke dalam gedung apartemen yang membuat perasaan Inara begitu bahagia.


'Mas Rayhan sepertinya sudah benar-benar jatuh hati padaku, beberapa hari ini dia sangat romantis dan perhatian padaku, kami harus terlihat mesra di depan Vallen dan Firman, agar mereka tahu jika Mas Rayhan benar-benar sudah mencintaiku dan kini tidak ada nama Vallen lagi di dalam hatinya,' gumam Inara sambil tersenyum dan melirik Rayhan yang kini berjalan di sampingnya. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di depan pintu apartemen milik Vallen. Rayhan kemudian memencet bel, dan tak lama pintu apartemen itu pun terbuka. Tampak Firman membuka pintu tersebut sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Selamat datang, silahkan masuk."


"Iya Firman," jawab Rayhan kemudian mengikuti langkah Firman masuk ke dalam apartemen. Saat memasuki apartemen tersebut, suara ceria Vallen pun mulai terdengar.


"Iya sayang."


"Ayo kita ke meja makan."


"Iya."


Mereka lalu berjalan ke arah meja makan, tampak Vallen yang sedikit kerepotan mempersiapkan makanan yang ada di meja. Berbagai hidangan kini pun sudah tersedia di atas meja tersebut.


"Silakan, khusus malam ini aku yang memasak," kata Vallen sambil terkekeh.


"Sepertinya ini enak, apa ini bisa dimakan?" kata Rayhan sambil mengerutkan keningnya.


"Hai Rayhan, kau meremehkanku?" gerutu Vallen.


"Hahahaha, aku tidak bermaksud seperti itu Vallen. Memangnya kau sudah bisa menyalakan kompor?"

__ADS_1


Firman kemudian tersenyum. "Dia sekarang sangat pintar memasak, Ray," kata Firman sambil terkekeh.


"Tentu saja aku harus pintar memasak, mama selalu menakut-nakutiku jika aku tidak bisa memasak Firman bisa jatuh cinta pada wanita lain, itu sangat menakutkan bagiku."


"Kau tahu itu tidak akan terjadi."


"Tapi aku takut, Firman."


Rayhan pun tersenyum. "Kalian mau berdebat atau mengajak kami makan malam?"


"Tentu saja mengajak kalian makan malam, kau yang sudah memulai terlebih dulu, Ray."


Vallen kemudian mengalihkan pandangannya pada Inara. "Inara, apa kabarmu? Maaf aku sampai melupakan dirimu karena Rayhan menggangguku."


"Kabarku baik, Vallen."


"Lalu bagaimana dengan kandunganmu? Anak kalian sehat kan? Kenapa kau tidak pernah memeriksakan kandunganmu padaku? Padahal aku selalu menantimu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu padaku."


"Anak kami baik-baik saja. Aku memang jarang ke rumah sakitmu karena terlalu jauh dari rumahku, tapi kemarin aku juga sempat berkonsultasi dengan Dokter Jeni."


"APAAAA DOKTER JENI??"


"Vallen, jangan berteriak." bisik Firman.


"Aku hanya sedikit terkejut, kenapa Inara sampai mendatangi Dokter Jeni. Perlu kalian tahu, Dokter Jeni bukanlah dokter yang baik karena dia suka berkonspirasi untuk kepentingan pribadinya, seperti yang dia lakukan dengan Abimana sampai hampir mencelakakan nyawa Amanda, meskipun pada akhirnya kini Amanda harus meninggal."


"Benarkah? Jadi Dokter Jeni yang melakukan semua itu?"


"Iya Ray, dia sangatlah licik dan suka berkonspirasi untuk kepentingan pribadinya, karena itulah aku sedikit terkejut kenapa Inara sampai datang ke Dokter Jeni. Apakah kau mendatangi Dokter Jeni untuk berkonspirasi dengannya Inara?" tanya Vallen dengan tatapan yang begitu dalam pada Inara. Inara pun terlihat salah tingkah.


"Emh...E..."


"Hahahaha, hahahaha, maaf aku hanya bercanda. Kau wanita yang sangat baik, Inara. Kau tidak mungkin berbuat hal seperti itu."


'Dasar, Vallen benar-benar bren*sek!!' umpat Inara di dalam hati.


"Hei, kenapa kau diam Inara? Maafkan aku, aku hanya bercanda. Sebelum mulai makan malam lebih baik kau minum ini, ini jus alpukat yang sudah kucampur dengan yoghurt dan madu, ini khusus kubuatkan untuk kita berdua karena kita sedang hamil, ayo bersulang." kata Vallen sambil memberikan sebuah gelas berisi jus alpukat pada Inara. Vallen pun hanya tersenyum menyeringai melihat Inara meminum jus tersebut, sambil memberikan kode pada Rayhan.

__ADS_1


NOTE:


Jangan lupa tinggalin jejak ya, like komen ato vote, kalau rame othor update 3 bab hari ini 😉


__ADS_2