
"Sekarang kutanyakan lagi, siapa yang bodoh Abimana?" tanya Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Lebih baik kau diam, Rayhan!"
"Kau yang seharusnya diam karena mulai saat ini kau harus memikirkan bagaimana cara menebus dosa-dosamu!"
"Aku tidak pernah memiliki dosa apapun!"
"Hahahaha, kau terlalu percaya diri. Sekarang kutanyakan padamu, kau kuberi pilihan untuk menebus dosa-dosamu terlebih dulu atau langsung kami jebloskan ke penjara!"
"BRE*GSEK KAU RAYHAN!"
"DIAM ABIMANA! KAMI TIDAK MAIN-MAIN, KAU KUBERI PILIHAN UNTUK MENEBUS SEMUA DOSA-DOSAMU ATAU KUMASUKKAN KE DALAM PENJARA SEKARANG JUGA!"
Abimana pun hanya terdiam sambil menahan emosi yang begitu berkecamuk di dalam hatinya.
"Sekarang katakan pilihanmu, jika tidak kami akan menelepon polisi sekarang juga, dan kau tidak mungkin bisa mengelak karena kami memiliki semua bukti kejahatanmu!"
Abimana masih saja terdiam.
"Firman, cepat telepon polisi sekarang juga!"
"BAIK, AKU SUDAH MENENTUKAN PILIHANKU!"
"Bagus Abimana, apa pilihanmu?"
"Aku akan menebus semua kesalahanku."
"Bagus sekali," jawab Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Firman, berikan berkas itu pada Abimana."
Firman lalu memberikan sebendel berkas pada Abimana. Abimana lalu mengambil berkas tersebut lalu melihat isinya yang berisi angka-angka daftar kerugian perusahaan yang telah diakibatkan oleh Abimana saat sedang melakukan konspirasi di perusahaan tersebut.
"Apa ini?"
"Apa kau tidak bisa membacanya? Kalau data seperti itu saja kau tidak bisa membacanya, jangan berharap kau bisa menjadi pemilik perusahaan ini, Abimana. Itu adalah daftar kerugian yang dialami perusahaan selama beberapa tahun terakhir ini karena perbuatanmu!"
"Lalu aku harus bagaimana?"
Amanda dan Rayhan lalu saling berpandangan sambil tersenyum, Amanda kemudian mendekat kembali pada Abimana.
"Kau lihat angka yang tertera di kertas itu kan, Abi?"
"Ya."
"Coba kau sebutkan berapa nominalnya?"
"Lima puluh miliar."
__ADS_1
"Ya, lima puluh miliar, itu adalah jumlah uang yang harus kau kembalikan pada perusahaanku."
"TIDAK BISA! BAGAIMANA AKU BISA MEMILIKI UANG SEBANYAK ITU!"
"Itu bukan urusan kami Abimana, lalu kemana uang lima puluh miliar yang kau ambil dari perusahaan? Apakah sudah kau hambur-hamburkan?" tanya Rayhan dengan tatapan sinis.
"Kemana uang perusahaanku yang sudah kau hambur-hamburkan, Abimana!!"
Mendengar bentakan dari Rayhan dan Amanda, Abimana pun hanya terdiam.
"Kenapa kau hanya bisa diam, Abimana? Firman cepat telepon polisi sekarang juga."
"Baik Amanda."
"Tunggu!"
Mendengar teriakkan Abimana, mereka bertiga langsung memandang Abimana.
"Baik, aku akan membayar kerugian yang pernah kulakukan di perusahaan ini, tapi beri aku waktu dan tolong jangan keluarkan aku dari perusahaan ini!"
"Tentu kami akan memberimu waktu dan pekerjaan, dengan posisi baru tentunya."
"Posisi baru? Benarkah?"
"Ya, kami akan memberikan pekerjaan baru yang lebih membuatmu merasa lebih bisa bergerak bebas."
"Bagus sekali Rayhan, itu yang kutunggu. Ternyata kau tidak seburuk yang kupikirkan."
"Memangnya pekerjaan baru apa yang akan kau berikan padaku? Pasti kalian akan memberikan jabatan sebagai seorang manager yang bisa membuatku lebih bisa bergerak bebas, iya kan? Lalu berapa jangka waktu yang kalian beri untuk melunasi semua hutang-hutangku?"
Rayhan lalu melirik Amanda sambil tersenyum. "Ya, bahkan dengan jabatan yang kau miliki, kau bisa masuk kemanapun ruangan yang kau mau."
"Benarkah? Kalian pasti akan memberikan posisi yang sangat bagus untukku kan? Sekarang cepat katakan, apa posisi yang kalian berikan padaku."
"Dengarkan aku, Abimana. Mulai hari ini juga kau akan kuberi posisi baru di perusahaan ini yaitu sebagai OFFICE BOY, SEKALI LAGI SEBAGAI OFFICE BOY, ABIMANA!" kata Rayhan sambil tersenyum kecut.
"DASAR BRE*GSEK KAU, RAYHAN!!!"
"Kau berani padaku? Baik, akan kusuruh Firman untuk menelepon polisi sekarang juga."
"BREN*SEK!!
"Lebih baik kau diam Abimana, karena saat ini kau tidak punya pilihan selain menuruti kata-kataku."
Abimana pun hanya bisa terdiam sambil menahan amarahnya.
"Berapa lama waktu yang kalian berikan?"
"Satu bulan, jika kau tidak bisa melunasi hutangmu dalam satu bulan, maka kau akan kujebloskan ke penjara."
"APA? DASAR BAJINGAN KAU RAYHAN! BAGAIMANA MUNGKIN AKU MELUNASI HUTANG SEBANYAK LIMA PULUH MILIAR HANYA DENGAN MENJADI SEORANG OFFICE BOY DALAM TEMPO SATU BULAN HAH? KALIAN JANGAN BERCANDA, INI SAMA SAJA MEMENJARAKANKU SECARA PERLAHAN!"
__ADS_1
"Oh jadi kau tidak mau? Baik, Firman, tolong telepon polisi sekarang juga."
"JANGAN!!"
"Bagus sekali, kau memang sangat penurut Abimana. Kau tidak perlu khawatir kau tidak akan menjalani ini sendirian karena istrimu itu juga akan menemanimu."
"TIDAKKKK AKU TIDAK MAU! ABIMANA LAKUKAN SESUATU! AKU TIDAK MAU MENJADI SEORANG OFFICE GIRL, ABI!!"" Teriak Ghea.
"DIAM GHEA! LEBIH BAIK TURUTI SAJA KATA-KATA MEREKA! MEMANGNYA KAU MAU DIJEBLOSKAN KE PENJARA SEKARANG!!"
Ghea pun kini hanya bisa menangis sambil melihat kulit dan kukunya. "Bisa rusak semua bagian tubuhku," gerutu Ghea.
"Kalian bisa mulai bekerja sekarang, kalian bisa meninggalkan ruangan ini sekarang juga," ucap Amanda sambil tersenyum sinis. Abimana pun hanya bisa menatap Amanda dengan tatapan tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Abimana? Kau mau masuk ke penjara sekarang juga?"
Abimana pun hanya terdiam, dia kemudian bangun dari tempat duduknya lalu pergi berjalan meninggalkan ruangan Amanda sambil menarik tubuh Ghea yang masih menangis dengan begitu terisak.
"Sebentar Abimana, ada satu lagi."
Abimana dan Ghea lalu membalikkan tubuhnya.
"Ada apa lagi?"
"Sepulang kerja tolong kau tidak usah kembali ke rumah karena rumah itu sudah kujual, beserta seluruh isinya termasuk barang-barang kalian, tapi kau tenang saja, mama sudah dibawa salah seorang anak buah kami untuk tinggal bersamaku di apartemen," kata Amanda sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Amanda, emosi pun semakin memenuhi hati Abimana.
'Dasar kurang ajar kau, Amanda!' gumam Abimana dengan nafas yang begitu menderu.
"Lalu kami mau hidup dimana? Kalian benar-benar breng*ekkkk! Kalian mau menjadikan kami sebagai gelandangan! Kalian benar-benar ingin menjadikan kami sebagai seorang gembel? Bahkan sekarang kami hanya memiliki pakaian yang menempel di tubuh kami!"
"Itu urusanmu, bukan urusanku, kami bahkan sudah berbaik hati untuk tidak memenjarakanmu terlebih dulu dan memberikan waktu dalam tempo satu bulan untuk membayar hutang-hutang kalian pada kami, tapi satu yang harus kalian ingat, kemanapun kalian pergi akan ada anak buahku yang akan mengawasi kalian, jadi jangan pernah berfikir untuk melarikan diri."
"AMANDA!!" teriak Abimana.
"Firman, cepat kau telepon polisi."
"TIDAK!!!" teriak Abimana lagi, lalu keluar dari ruangan tersebut dengan penuh emosi. Sementara Amanda tersenyum pada Rayhan dan Firman yang ada di ruangan itu.
"Satu bulan sepertinya cukup untuk memberikan pelajaran bagimu sebelum kau merasakan dinginnya lantai penjara, Abimana."
"Ya, kita akan memberinya pelajaran habis-habisan sebelum kita menjebloskan mereka ke penjara."
"Rayhan, jangan lupa cari bukti juga tentang kematian papa."
"Iya Amanda."
NOTE:
Yang ga suka karena Abimana ga langsung dimasukin ke penjara, skip aja ya. Othor masih pengen ngerjain Abimana dulu 😂😂😂
__ADS_1