Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Papa


__ADS_3

"Terimakasih banyak, Abimana."


"Iya sama-sama. Maaf saya sedikit tergesa-gesa karena istri saya sedang sakit."


"Oh iya, berapa nomer ponsel anda? Mungkin suatu saat saya bisa mengajak anda dan istri anda makan malam bersama untuk sekedar ucapan terima kasih. Bisakah anda tuliskan nomer ponsel anda disini?" kata Inara sambil memberikan ponselnya pada Abimana. Abimana kemudian mengangguk lalu mengetikkan nomer poselnya di ponsel milik Inara kemudian memberikan ponsel itu kembali.


"Sekali lagi terimakasih banyak."


"Ya, saya pergi dulu," kata Abimana lalu pergi meninggalkan Inara yang masih memandang kepergiannya.


Abimana lalu bergegas mendekat ke arah Ghea yang nasih masih terkapar di depan pos satpam.


"Ghea, Ghea," panggil Abimana sambil mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidungnya. Beberapa saat kemudian, perlahan Ghea pun membuka matanya.


"Kau sudah sadar, Ghea?"


"Ya."


"Sekarang minumlah terlebih dulu," kata Abimana kemudian memberikan air minum pada Ghea. Ghea lalu meminum air tersebut sambil memperlihatkan sekelilingnya.


"Abimana, kita masih berada di kantor?"


"Ya," jawab Abimana sambil menganggukkan kepalanya.


"Jadi ini benar-benar nyata? Kita sekarang menjadi gelandangan yang tidak memiliki rumah?"


"Iya Ghea."


"Jadi malam ini kita akan tidur di bawah kolong fly over itu?"


"Iya Ghea, kita tidak punya pilihan lagi."


Mendengar perkataan Abimana, Ghea pun menangis.


"INI SEMUA KARENA KAU ABI!! KAU BEGITU MENYEPELEKAN RAYHAN HINGGA TANPA MAU SADARI DIA DENGAN MUDAHNYA MEMPERMAINKAN KITA SELAMA INI TANPA KAU MENYADARINYA!"


"Jangan hanya bisa menyalakan aku, Ghea. Bagaimana aku bisa menyelidiki semua yang telah terjadi jika aku selalu sibuk denganmu, waktuku hanya habis terbuang untuk mengurusi dirimu! Setiap hari yang kau lakukan hanya berbelanja dan menghabiskan uangku saja!"


"Jadi kau juga menyalahkan aku atas semua kesalahanmu?"


"Ya, di saat terpuruk seperti ini kenapa kau hanya bisa menyalahkan aku saja, padahal selama ini apapun selalu kulakukan untuk kebahagiaanmu!"


"Tapi sekarang aku menderita dan semua ini adalah akibat dari perbuatanmu!"


"Ghea, kita adalah sepasang suami istri, bagaimanapun juga kita harus menjalani hidup ini bersama dalam suka ataupun duka."

__ADS_1


"Tidak aku tidak mau menjalani hidup penuh kedukaan denganmu! Aku tidak mau hidup miskin ABIMANA!!"


"Lalu kau bisa apa sekarang? Kau mau melarikan diri? Lakukan jika bisa, apa kau tidak lihat jika anak buah Rayhan selalu mengawasi kita terus menerus!!"


Mendengar perkataan Abimana, Ghea pun hanya bisa menangis sambil menutup wajahnya. Abimana lalu mendekap tubuh Ghea.


"Ghea, dengarkan aku. Kita pasti bisa melalui semua ini. Besok aku akan meminta tolong pada mama agar kita tidak diperlakukan seperti ini. Bagaimanapun juga aku adalah anak kandungnya, meskipun selama ini mama sering bersikap kasar pada kita tapi aku yakin, mama pasti tidak akan tega membiarkanku hidup menjadi gelandangan seperti ini."


Ghea pun menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kita ke bawah fly over itu lagi, kita butuh istirahat."


"Jadi malam ini kita tidur di bawah fly over itu?"


"Kita tidak punya pilihan Ghea."


Mendengar perkataan Abimana, Ghea pun hanya bisa menangis sambil mengikuti langkah Abimana berjalan ke bawah fly over.


🍒🍒🍒


Amanda perlahan membuka pintu apartemennya, jantungnya terasa berdegup kencang saat memasuki apartemen tersebut. Tampak dua orang wanita paruh baya sedang duduk di atas sofa, masing-masing memangku seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan.


Wanita paruh baya yang memangku bayi perempuan itu pun tidak bisa menahan haru saat melihat Amanda memasuki apartemen tersebut, dia kemudian memberikan seorang bayi perempuan yang ada di dalam pangkuannya pada seorang baby sitter yang ada di sampingnya. Amanda kemudian menatap Rayhan dan melihat Rayhan menganggukkan kepalanya, Amanda pun bergegas mempercepat langkahnya menuju ke arah wanita paruh baya itu.


"MAMAAA!!" teriak Amanda kemudian memeluk tubuh wanita tersebut.


"Mama, maafkan Amanda karena selama ini menyembunyikan kebenaran ini ma."


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang. Kau pasti memiliki alasan dalam mengambil keputusan tersebut."


Amanda kemudian melepaskan pelukannya sambil mengangguk. Vera kemudian menghapus air mata yang mengalir di wajah Amanda.


"Jangan menangis lagi Nak, semuanya sudah berakhir. Kau sudah mendapatkan semua hakmu, perusahaanmu, putramu, bahkan kau sudah memiliki suami yang begitu baik padamu."


"Belum ma, belum selesai karena Amanda masih harus menyelidiki kematian papa."


"Kematian papa?" tanya Vera sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, kematian papa. Apa mama tidak curiga dengan kematian papa? Dokter David pernah mengatakan pada Rayhan jika rekan sesama dokternya pun sedikit bingung dengan kematian papa secara mendadak."


"Aaa.. Apa maksudnya semua ini Amanda? Apa menurutmu Abimana yang melakukan semua itu?"


"Tidak ma. Amanda tidak mengatakan itu adalah perbuatan Abimana tapi kematian papa tidaklah wajar, dan Amanda ingin menyelidiki semua itu."


"Iya benar apa yang dikatakan Amanda, Tante Vera. Kita harus menyelidiki kematian Om Raka."

__ADS_1


"Lalu bagaimana jika ternyata pelakunya adalah Abimana?" tanya Vera sambil meneteskan air matanya.


Amanda dan Rayhan pun terdiam melihat Vera yang kini begitu terisak.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika aku telah melahirkan anak berhati iblis seperti Abimana!" ucap Vera sambil terus terisak. Amanda kemudian menggenggam tangan Vera.


"Sekarang dimana Abimana?"


"Dia masih ada di depan kantor, kemungkinan malam ini dia tidur di bawah kolong fly over bersama dengan Ghea. Maaf jika kami harus melakukan semua itu, kami hanya ingin Abimana mendapatkan pelajaran hidup sebelum masuk ke dalam penjara, karena bagi kami memasukkan Abimana ke penjara saja itu tidak cukup."


"Iya tidak apa-apa tapi mama mau menemui Abimana sekarang juga!"


"Besok saja, ini sudah malam ma."


"Bu Vera, benar apa yang dikatakan Amanda, ini sudah malam sebaiknya besok saja Bu Vera menemui Abimana, kasihan Sharen jika ditinggal malam-malam seperti ini."


Vera kemudian memandang Sharen yang kini terlelap di box bayi lalu memandang Amanda.


"Amanda, maafkan mama. Mama tidak tahu jika Sharen ternyata bukan puteri kandungmu, maafkan mama Nak, tapi bagaimanapun juga dia adalah cucu mama. Boleh kan dia tinggal bersama dengan mama?"


"Iya ma, tentu saja. Dia hanya seorang bayi yang tidak berdosa."


"Terimakasih Amanda."


"Ya."


"Sebaiknya kalian istirahat saja sekarang, kalian pasti lelah. Kenzo juga sudah tidur."


"Iya ma, terimakasih banyak sudah menjaga Kenzo selama dua hari ini."


"Iya."


"Kami masuk ke kamar dulu ma, Tante Vera," kata Rayhan sambil menarik tangan Amanda sambil disertai tatapan nakal, Amanda pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


🍒🍒🍒


Abimana menatap gelapnya langit malam sambil membelai rambut Ghea yang kini sudah tertidur di pangkuannya.


"Kenapa nasibku jadi seperti ini? Aku benar-benar tidak menyangka jika semua ini terjadi padaku," kata Abimana, dia kemudian melirik ke sekelilingnya. Tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki yang kira-kira berusia empat puluh tahun sedang menarik gerobak dengan anak dan istrinya di dalam gerobak tersebut, setelah sampai di fly over, laki-laki itu lalu menghentikan gerobaknya lalu membantu anak dan istrinya turun dari gerobak tersebut. Dia kemudian memberikan sebuah satu bungkus nasi pada anak dan istrinya lalu membiarkan dirinya memegang perutnya sambil melihat anak dan istrinya memakan makanan tersebut.


"Papa," kata Abimana sambil meneteskan air matanya.


NOTE:


Terkadang seseorang baru menyadari kesalahannya saat berada di titik terendah dalam hidupnya.

__ADS_1


Wajib tinggalin jejak ya. Komen yang rame 🥰😘❤️


__ADS_2