
"Mas Abi? Apa yang harus kulakukan? Astaga bagaimana ini?" gerutu Amanda sambil menggigit bibirnya.
"Amanda... Amanda, tenang Amanda, aku harus tenang, aku harus bersikap pura-pura bodoh seperti biasa. Jika sikapku berubah padanya, itu justru akan membuatnya curiga padaku, jika dia curiga bisa hancur semua rencanaku. Ya, aku harus bersikap biasa saja."
Amanda kemudian mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan dari Abimana.
[Halo Mas Abi.]
[Halo Amanda, kau ada dimana Amanda? Aku sangat mengkhawatirkanmu.]
'Manis sekali kata-katamu mas.' gumam Amanda sambil tersenyum kecut.
[Kenapa kau diam saja, Amanda? Apakah sesuatu terjadi padamu? Kau sekarang ada dimana sayang?]
[Oh aku di rumah sakit mas, tadi di rumah tiba-tiba aku mengalami serangan jantung secara mendadak, lalu tidak ada siapa-siapa di rumah jadi aku memutuskan ke rumah sakit sendirian.]
[APAAAA? Ke rumah sakit sendiri?]
[Iya mas.]
'Kenapa kau begitu terkejut, mas? Apa kau takut jika aku ke rumah sakit sendirian semua kejahatanmu akan terbongkar?' gumam Amanda dalam hati.
[Oh tidak apa-apa, aku hanya mencemaskan keadaanmu saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kau tadi saat mengalami serangan jantung mendadak dan tidak ada seorangpun di rumah. Maafkan aku Amanda, aku benar-benar suami yang tidak bertanggung jawab.] kata Abimana dengan nada yang begitu sedih.
'Dasar laki-laki munafik.' gumam Amanda kembali.
[Kau tenang saja mas, jangan mencemaskanku, aku baik-baik saja.]
[Kau sudah bertemu dengan Dokter Anwar kan?]
[Tidak, aku tidak bertemu dengan Dokter Anwar, Dokter Anwar sedang pergi keluar kota jadi tadi yang menanganiku Dokter David.]
[APAAAA??? YANG MENANGANIMU BUKAN DOKTER ANWAR?] Teriak Abimana dengan begitu panik.
[Kenapa mas? Kenapa kau terlihat panik seperti itu? Apa ada yang salah?]
[Oh tidak, tidak apa-apa Amanda. Aku hanya terkejut karena ada dokter lain yang menanganimu. Lalu apa yang dokter itu katakan padamu?]
[Tidak ada, dia tidak mengatakan apapun hanya menyuruhku untuk istirahat saja.]
[Benarkah? Benarkah hanya itu yang dia katakan?]
[Emhhh... Sebenarnya ada hal lain yang dia katakan.]
[Apa itu Amanda? Cepat katakan apa yang dokter itu bicarakan padamu?]
[Kau sebenarnya kenapa mas? Kenapa kau seperti sedang kebakaran jenggot?]
[Tidak apa-apa Amanda, aku hanya mencemaskanmu saja. Amanda, apa yang dokter itu katakan?]
[Oh dia hanya mengatakan ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan karena penyakitku memiliki resiko yang cukup tinggi.]
__ADS_1
[Hanya itu saja?]
[Ya.]
[Siapa dokter kandungan itu? Apa dokter kandungan yang bisa kita temui saat melakukan kontrol kandungan?]
[Bukan, bukan dia tapi dokter kandungan lain yang akan menanganiku.]
[APAAAA KENAAPA HARUS BERGANTI DOKTER AMANDA?]
[Mas, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa hari ini kau bersikap aneh seperti ini? Lagipula dokter kandungan yang akan menanganiku adalah dokter terbaik di rumah sakit ini, dia lulusan Cambridge University, aku baru saja melihat profil dirinya di situs rumah sakit ini, dia bukan orang sembarangan mas.]
'Kau panik sekali mas? Kau pasti takut semua kejahatanmu akan terbongkar.' gumam Amanda sambil tersenyum kecut.
[Apa? Dia lulusan luar negeri?]
[Ya, bukankah itu sangat bagus? Dia dan Dokter David pasti bisa menanganiku dengan baik.]
[Oh iya Amanda. Emh Amanda, aku akan menyusulmu ke rumah sakit, kau tunggu aku ya sayang.]
[Iya mas.] jawab Amanda kemudian menutup panggilan dari Abimana.
Abimana kini pun merasa begitu kesal. "BRE*GSEKKKKK!! Kenapa semua ini bisa terjadi??? Ini semua benar-benar diluar kendaliku!! Sekarang apa yang harus kulakukan? Tidak, ini tidak boleh terjadi, sebelum dua dokter itu menyelamatkan Amanda, aku harus bertindak terlebih dulu, aku harus menghabisi nyawa Amanda sekarang juga! Ya, aku harus ke rumah sakit sekarang!"
Abimana kemudian keluar dari rumah lalu mengendarai mobilnya dengan begitu kencang menuju ke rumah sakit tempat Amanda dirawat. Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di rumah sakit tersebut dengan membawa satu buah kantong plastik berisi makanan untuk Amanda. Abimana melirik kantong makanan yang ada di tangannya sambil tersenyum menyeringai.
"Makanlah makanan terakhirmu Amanda, setelah itu sampaikan perpisahan pada dunia yang indah ini. Hahahaha, dokter pasti juga tidak akan curiga jika dia sudah kuracun karena ini racun dosis tinggi yang mudah larut dalam makanan dan efek racun ini sama seperti orang yang menderita serangan jantung." kata Abimana sambil tersenyum menyeringai.
"Permisi Tuan." kata salah seorang perawat menghentikan langkah Abimana.
"Oh iya, ada apa?"
"Permisi, anda mau ke kamar perawatan Nyonya Amanda?"
"Ya, saya suaminya."
"Oh bisakah anda meninggalkan makanan itu disini karena Nyonya Amanda tidak diperbolehkan memakan makanan dari luar."
"Ke... Kenapa seperti itu?"
"Ini perintah dari Dokter David, saat ini dia yang menangani Nyonya Amanda, asupan makanan Nyonya Amanda benar-benar harus dijaga jadi dia tidak boleh memakan makanan dari luar."
'Oh.. O.. Baiklah." jawab Abimana, dia kemudian mengambil makanan itu lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di sampingnya.
'Sial, rencanaku berantakan gara-gara dokter sialan itu!! Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menghabisi Amanda?' gumam Abimana sambil memijit keningnya.
"Satu-satunya jalan untuk memperburuk keadaannya adalah dengan membuatnya mengalami serangan jantung lagi. Ya, aku harus melakukan itu." kata Abimana kemudian berjalan ke kamar perawatan Amanda.
💜💜💜💜💜
CEKLEK
__ADS_1
Pintu kamar perawatan Amanda pun terbuka. Amanda yang sedang asyik memainkan ponselnya kemudian memalingkan wajahnya ke arah pintu yang terbuka tersebut.
"Amanda sayang, apa kau baik-baik saja?" kata Abimana kemudian berjalan ke arah Amanda lalu memeluknya.
"Mas Abi, aku baik-baik saja." jawab Amanda sambil tersenyum.
'Bagaimana ini, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika kedatangan Mas Abi memiliki niat yang tidak baik padaku?' gumam Amanda sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Lalu bagaimana dengan keadaan anak kita?"
"Dia juga baik-baik saja."
"Oh syukurlah."
"Mas kenapa kau terlihat begitu panik? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa tadi di telepon kau berulangkali menanyakan tentang dokter yang menanganiku? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.
"Oh tidak apa-apa, aku hanya khawatir akan sesuatu."
"Khawatir akan sesuatu?"
"Ya."
"Mas sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang harus ditakutkan?"
"Tidak Amanda, bukan apa-apa."
"Mas cepat katakan."
"Emh Amanda, sebenarnya ini tentang anak kita."
"Anak kita?"
"Ya."
"Memangnya kenapa dengan anak kita Mas?"
"Aku hanya takut dokter baru itu mengatakan sesuatu hal tentang anak kita yang selama ini kututupi."
"Memangnya ada apa mas? Apa yang sebenarnya terjadi pada anak kita?"
"Tidak Amanda."
"Mas cepat katakan!"
"Amanda, aku tidak akan mengatakan apapun tentang anak kita."
"Mas!!"
"Amanda, sebenarnya anak kita mengalami kelainan, dia cacat Amanda." kata Abimana sambil menundukkan kepalanya. Amanda kini pun terlihat begitu panik mendengar perkataan Abimana, tiba-tiba dada kirinya terasa begitu sakit, tangannya kini memegang dada kirinya sambil meremas pakaiannya menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, nafasnya mulai tersengal-sengal, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Kini perlahan, matanya pun mulai menutup.
"Hahahaha.... Hahahahahha.... Kau memang bodoh hahahaha. Selamat tinggal Amanda." kata Abimana sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1