
Inara tampak mengutak-atik gelas cocktail buah yang ada di depannya sambil menghembuskan nafas panjangnya, sesekali dia mengotak-atik ponselnya lalu berulangkali menghubungi seseorang tapi raut kekecewaan kembali menghiasi wajah cantiknya.
"Kenapa Lea susah sekali dihubungi, sudah hampir satu jam aku menunggu di sini, ah lebih baik aku pergi saja dari sini," gerutu Inara sambil menghembuskan nafas panjangnya kembali, namun saat akan bangun dari tempat duduknya tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki dan perempuan yang masuk ke dalam cafe tersebut.
"Astaga, oh tidak," ucap Inara sambil menutup mulutnya. Dia kemudian menutup wajahnya dengan daftar menu yang ada di depannya tapi seorang laki-laki yang dia hindari melihatnya terlebih dahulu. Akhirnya, Inara pun tersenyum pada dua orang yang sudah ada di depannya tersebut.
"Apa kabar, Inara?"
"Oh.. E.. Baik Mas."
"Perkenalkan dia Amanda, Amanda yang dulu menjadi klienku."
Amanda lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan disambut uluran tangan kembali oleh Inara.
"Senang bisa bertemu denganmu, Inara."
"Ya, aku juga Amanda."
'Astaga, jadi yang menjadi istri dari Mas Rayhan adalah Amanda yang dulu koma? Astaga, pantas saja secepat itu kau sudah berpaling pada wanita lain. Aku benar-benar tidak menyangka jika Amanda secantik ini, pantas saja Mas Rayhan tergila-gila padanya, jadi saat sedang menjaga Amanda koma kau sudah jatuh cinta padanya, Mas? Tapi bukankah dia sudah mati? Ini benar-benar penuh misteri,' gumam Inara dengan menahan perasaan yang begitu sakit.
"Amanda?" tanya Inara sambil mengerutkan keningnya.
"Oh ya, kau pasti bingung karena mengira Amanda sudah meninggal kan? Amanda sebenarnya belum meninggal Inara, itu semua kami lakukan untuk melindungi Amanda dari mantan suaminya."
"Oh iya. Lalu sekarang kalian sudah menikah?"
"Darimana kau tahu?"
"Kemarin aku ke rumahmu, Tante Ela menceritakan jika kau sudah menikah kembali, bahkan aku juga bertemu dengan putramu Amanda, dia bayi yang sangat lucu," kata Inara sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak Inara. Kau disini sendirian? Kalau kau sendirian, lebih baik kita makan malam bersama saja."
__ADS_1
"Oh.. E... Iya, sebenarnya aku sedang menunggu temanku tapi tiba-tiba dia membatalkan janjinya jadi aku berniat untuk pulang karena tiba-tiba mama menghubungiku untuk menemaninya pergi ke rumah temannya."
"Jadi kau tidak bisa makan malam bersama kami?"
"Maaf, sepertinya malam ini tidak bisa. Emh... E.. Mas Rayhan, Amanda aku harus pulang sekarang semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan."
"Oh iya Inara, hati-hati di jalan," jawab Rayhan dan Amanda bersamaan. Inara kemudian tersenyum lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan Amanda dan Rayhan untuk menutup air mata yang sudah mengalir di wajahnya.
"Rayhan, sepertinya dia tidak seburuk yang kau ceritakan," kata Amanda sambil melihat Inara yang keluar dari cafe.
"Mungkin sekarang dia sudah berubah."
"Ya, semoga saja."
Sementara Inara kini berjalan keluar dari cafe sambil terus terisak.
'Kenapa aku harus bertemu mereka kembali, kenapa aku harus mengalami rasa sakit seperti ini lagi, kenapa harus terulang lagi? Aku bahkan belum bisa melupakan rasa sakit saat melihat mereka berciuman, lalu sekarang aku harus merasakan sakit lagi,' gumam Inara sambil terisak.
Inara kemudian melihat keadaan sekitar.
"Oh di depan ada minimarket, aku ke minimarket saja sambil membeli minum," kata Inara kemudian berjalan ke arah minimarket.
🍒🍒🍒
"Jadi kita benar-benar akan tidur di bawah kolong jembatan?"
"Ya."
"Oooohhh TIDAKKK!!" teriak Ghea, kemudian tubuhnya pun jatuh terkapar di atas tanah.
"ASTAGA GHEA!!" teriak Abiman lalu mengguncang-guncangkan tubuh Ghea.
__ADS_1
"Kau merepotkanku saja," gerutu Abimana. Dia pun memandang ke arah sekelilingnya.
"Astaga, tidak ada siapa-siapa di sini. Kami juga tidak punya tempat tinggal, bagaimana ini?" kata Abimana sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Akhirnya, Abimana pun membopong tubuh Ghea ke pos satpam yang ada di depan gedung.
"Pak Satpam, bolehkah saya titip istri saya sebentar, dia pingsan, saya mau membeli air minum dan minyak kayu putih dulu ke minimarket di depan."
"Oh iya, silahkan."
"Terimakasih," jawab Abimana lalu menaruh tubuh Ghea di depan pos satpam kemudian bergegas menuju ke minimarket yang ada di depan gedung kantornya. Abimana pun bergegas masuk ke dalam minimarket dan membeli minuman dan obat untuk Ghea, namun saat baru saja sampai di depan minimarket tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang sedang tarik-menarik tas dengan seorang laki-laki bertampang preman. Abimana kemudian pun mendekat ke arah mereka.
"Hai, kau jangan kasar pada wanita! Tas itu bukan milikmu!"
"Lebih baik kau tidak usah ikut campur, ini bukan urusanmu!" teriak preman tersebut kemudian bersiap untuk memukul Abimana, tapi Abimana dengan cekatan menghalau pukulan tersebut dan menghajar preman tersebut hingga terkapar di atas tanah.
"Jangan coba-coba mengganggu seorang wanita apalagi mengambil barang yang bukan menjadi hakmu! Lebih baik kau pergi dari sini sekarang!"
Preman tersebut pun kemudian bangkit lalu berlari meninggalkan Abimana dan wanita tersebut.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saja. Terimakasih banyak."
"Ya. Lebih baik kau pulang sekarang, ini sudah malam, daerah di sekitar sini memang tidak aman."
"Oh iya terimaksih banyak, aku banyak berhutang budi padamu."
"Oh tidak, sudahlah jangan dipikirkan. Lebih baik kau pulang sekarang," kata Abimana kemudian berjalan meninggalkan wanita itu.
"Hai tunggu aku belum mengenalmu, siapa namamu?"
"Aku Abimana."
__ADS_1
"Oh, aku Inara."