Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Treat You Better


__ADS_3

"Selamat pagi, apakah anda salah satu keluarga Amanda?"


Rayhan kemudian menghembuskan nafas panjangnya.


'Aku baik-baik saja.' gumam Rayhan kemudian membalikkan tubuhnya.


"Selamat pagi Vallen, aku adalah pengacara Amanda." jawab Rayhan sambil tersenyum.


"Ka.. Kau? Bukankah kau ada di London?" kata Vallen dengan begitu terkejut.


'Oh tidak.' gumam Vallen dalam hati. Ingin rasanya dia melangkahkan kakinya dari ruangan itu namun keadaan mengharuskannya untuk tetap berada di ruangan itu untuk memeriksa keadaan Amanda.


Rayhan pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku diperintahkan oleh almarhum Om Raka untuk menjadi pengacara dari Amanda. Almarhum Om Raka adalah teman baik papa, aku akan sangat menyesal jika tidak bisa membantunya, jadi aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia."


"Oh. Bagaimana kabar Inara dan bayi yang ada di dalam kandungannya?"


"Baik, mereka semuanya sehat."


'Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi, jadi setelah ini kemungkinan aku akan sering bertemu dengannya.' gumam Vallen dalam hati.


"Aku kemarin juga sudah bertemu dengan Firman saat pemakaman Om Raka. Apa dia tidak mengatakan apapun padamu?"


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun padaku karena kami jarang sekali membicarakan pekerjaan saat sedang bersama."


"Oh. So he can treat you better Vallen?" tanya Rayhan sambil menahan sesak di dadanya.


Vallen pun hanya tersenyum.


"Maaf, aku sebenarnya tidak bermaksud mengatakan itu."


"Tidak apa-apa."


"Sekali lagi maafkan aku, aku akan bersikap lebih profesional, aku tidak sengaja mengatakan itu."


"Iya Rayhan."

__ADS_1


"Apakah kau ingin mengontrol keadaan Amanda?"


Vallen pun mengangguk.


"Silahkan."


Vallen pun melangkahkan kakinya mendekat pada Amanda. Saat akan melakukan pemeriksaan, betapa terkejutnya Vallen karena melihat Amanda yang masih menggenggam tangan Rayhan.


"Rayhan, dia sudah bisa menggenggam tanganmu?"


"Ya, sejak kemarin dia sudah bisa melakukan itu. Dia juga sudah bisa mengedipkan matanya."


"Syukurlah, ini benar-benar perkembangan yang bagus, kuharap syaraf yang lain pun juga mulai bisa melakukan respon yang sama. Jadi dia sudah melakukan itu sejak kemarin?"


"Ya, sejak kemarin siang, aku juga sudah membicarakan itu pada Kak David saat kemarin kami bertemu."


"Jadi Kak David juga sudah bertemu denganmu?"


"Ya, jadi dia juga belum menceritakan itu padamu? Emh maksudku tentang perkembangan Amanda?"


"Oh, jadi kau sudah tidak serumah dengan orang tuamu dan Kak David?"


Vallen pun mengangguk disertai dengan sebuah senyuman sambil memeriksa keadaan Amanda dengan sedikit salah tingkah.


"Kau tidak perlu sungkan, aku tahu kau sudah menikah dengan Firman."


Vallen lalu memandang Rayhan.


"Darimana kau tahu? Apa Kak David yang memberitahumu?"


"Bukan, bukan Kak David yang memberitahu padaku. Semua orang di kantor sudah tahu jika Firman sudah menikah, Pak Yanuar yang mengatakannya padaku karena aku dengar jika di kantor banyak karyawan yang menyukainya jadi dia mengatakan yang sebenarnya karena tidak ingin memberikan harapan pada mereka. Dia memang laki-laki yang tampan, Vallen."


'Kenapa Firman tidak pernah mengatakan itu?' gumam Vallen dalam hati sambil menahan rasa kesal di dadanya. Melihat raut wajah Vallen, Rayhan pun tersenyum.


"Apa kau cemburu karena aku mengatakan itu?"


"Tidak." jawab Vallen sambil menahan perasaan kesal di dalam hatinya.

__ADS_1


"Vallen, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Ini tentang keadaan Amanda."


"Iya kenapa?"


"Kemarin Kak David sudah mengatakan bagaimana keadaan Amanda yang sebenarnya, mengenai obat pelemah jantung itu, juga mengenai dokter kandungan sebelumnya yang sudah berkonspirasi dengan Abimana."


"Lalu?"


"Sebagai pengacara Amanda tentu aku ingin menyeret mereka ke jalur hukum karena telah merugikan bahkan membahayakan nyawa seseorang."


"Jadi kau memintaku untuk membantumu mencari bukti dari dokter-dokter itu?"


"Ya, tolong bantu aku untuk mendapatkan bukti tambahan jika mereka bekerja sama dengan Abimana melakukan konspirasi di belakang Amanda."


"Kak David juga sudah menyuruhku untuk melakukan itu tapi akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, lalu kemarin aku sakit jadi aku belum sempat melakukan penyelidikan kembali. Tapi aku janji mulai hari ini aku akan menyelidikinya lagi. Aku juga ingin kedua dokter itu mendapat hukuman karena telah melanggar kode etik profesinya."


"Terimakasih banyak Vallen."


"Ya, aku juga ingin Amanda segera sembuh secepatnya, aku sungguh kasihan melihat keadaannya saat ini."


"Ya, dia benar-benar wanita yang malang." kata Rayhan sambil menatap Amanda dengan tatapan sendu.


"Jangan menatapnya terlalu dalam Rayhan, nanti kau bisa jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa membayangkan jika Inara sampai cemburu pada wanita yang sedang koma." kata Vallen sambil terkekeh.


Rayhan lalu menatapnya sambil tersenyum.


"Kau memang tidak pernah berubah, kau masih saja aneh seperti dulu."


"Hahahaha, aku permisi dulu Rayhan. Aku sudah ada janji dengan beberapa pasien, pasti mereka sudah menungguku. Nanti jika aku sudah mendapatkan bukti tambahan kau akan segera kuhubungi."


"Iya Vallen, terimakasih banyak."


"Ya." jawab Vallen kemudian keluar dari ruang perawatan Amanda.


Rayhan menatap kepergian Vallen dengan perasaan yang begitu berkecamuk, dadanya terasa begitu sesak dan hatinya seakan teriris.


"He can treat you better, Vallen?" kata Rayhan sambil meneteskan air matanya. Tanpa Rayhan sadari Amanda pun melepaskan genggaman tangannya lalu setetes air mata mengalir di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2