
Amanda kemudian menyadari air mata yang kini mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Astaga, kenapa aku menangis? Kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan seperti ini? Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Hubunganku dan Rayhan sebatas profesional, tidak lebih. Aku tidak boleh menggunakan perasaanku, tidak boleh, aku tidak mau jika harus merasakan sakit lagi, sakit yang teramat sangat karena cinta yang tak terbalaskan. Aku belum siap untuk itu," ucap Amanda sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Dia pun kemudian mencoba memejamkan matanya meskipun terasa begitu sulit karena berbagai pikiran yang begitu berkecamuk di dalam benaknya.
TOK TOK TOK
Sebuah ketukan pintu membuat Amanda terbangun, perlahan dia pun membuka matanya lalu melihat jam dinding yang ada di kamar tersebut.
"Astaga, sudah pukul delapan pagi. Aku benar-benar kesiangan."
TOK TOK TOK
"Amanda, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."
Amanda pun bergegas bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah pintu dan melihat Rayhan yang sudah berdiri di depan pintu tersebut.
"Maaf, aku bangun kesiangan. Tadi malam aku tidak bisa tidur, dan mungkin baru bisa tidur pagi hari, jadi maaf jika aku bangun sedikit kesiangan."
Rayhan lalu tersenyum. "Tidak apa-apa, Amanda. Selama ini kau sudah lama tidak tidur di rumah, mungkin kau perlu sedikit membiasakan diri."
"Iya Ray."
"Aku sudah membelikan makanan untukmu, ayo kita sarapan."
"Iya sebentar, aku mandi dulu."
"Ya, aku tunggu di meja makan."
Amanda pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia kemudian berdiri di depan wastafel dan mencuci wajahnya yang lengket karena air mata yang telah mengering.
"Astaga, Amanda. Kau tidak boleh seperti ini Amanda, kau harus fokus dengan apa yang menjadi tujuanmu sekarang. Ya, aku harus fokus, aku harus fokus untuk memperbaiki kehidupanku, aku ingin hidup bahagia bersama dengan putraku, dengan mama, dan tanpa ada Abimana, aku harus memberi pelajaran pada Abimana, akan kubuat kau membusuk di penjara, tapi sebelumnya, kau harus merasakan pembalasan yang begitu pedih dariku terlebih dulu!" ucap Amanda sambil mengatur nafasnya menahan emosi yang kembali hadir di dalam dadanya. Amanda kemudian menghembuskannya nafas panjangnya lalu mulai membasahi tubuh telan*angnya lalu meraba luka bekas jahitan di dadanya.
"Abimana, kau bahkan tidak tahu kan ada luka jahit seperti ini di tubuhku? Sebuah luka yang telah memberikan kehidupan baru dalam hidupku, kau tidak pernah tahu jika kini aku masih hidup, hidup dengan kehidupan baru yang akan menghancurkan kehidupanmu. Sekarang bersenang-senanglah terlebih dulu, Abimana. Tapi lihat saja beberapa bulan lagi, kau akan kubuat menangis darah, bahkan untuk sekedar mengehembuskan nafas pun akan terasa begitu sulit bagimu!"
"HAAAAAAHHHHH!!" teriak Amanda di bawah guyuran air yang membasahi tubuhnya.
🍒🍒🍒
Amanda keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke meja makan. Tampak Rayhan yang sudah menunggunya sambil memainkan ponselnya.
"Kau sudah selesai mandi, Amanda."
"Ya."
"Ayo makan."
Amanda lalu mengangguk kemudian memakan makanan yang ada di depannya.
"Kau terlihat jauh lebih segar, Amanda."
"Terimakasih."
"Kau juga terlihat cantik," ucap Rayhan sambil tersenyum.
"Tapi jauh lebih cantik Dokter Vallen."
"Vallen?" kata Rayhan sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya, bukankah jauh lebih cantik Dokter Vallen? Bukankah kau menginginkan aku untuk menjadi seperti cantik seperti Dokter Vallen? Dokter Vallen adalah wanita tercantik yang ada di dalam pikiranmu, itulah sebabnya kau memintaku untuk menjadi seperti dirinya. Iya kan Ray?"
"Amanda, aku hanya ingin merubah penampilanmu agar terlihat berbeda, itu saja. Vallen bukanlah patokan kecantikan."
"Tapi kau sangat mengagumi kecantikannya kan?"
"Kenapa kau berkata seperti itu, Amanda?"
"Karena dia adalah wanita yang menjadi masa lalumu, dan sampai saat ini belum bisa kau lupakan, makanya kau menyuruhku untuk berubah menjadi seperti Dokter Vallen, iya kan Ray?"
"Itu tidak benar, Amanda. Aku melakukan seperti itu karena keadaan, saat ini yang tahu kau masih hidup hanyalah Kak David, Vallen, dan Firman. Kami semua laki-laki, kami tidak mungkin bisa membantumu berubah, dan yang hanya bisa melakukan itu adalah Vallen."
"Tapi..."
Belum sempat Amanda menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara bel di depan pintu.
TETTTT TEEETTTTT
"Amanda, itu pasti Firman dan Vallen, aku bukakan pintu dulu untuk mereka, kau sudah siap kan?"
Amanda lalu mengangguk kemudian berjalan ke sofa, sedangkan Rayhan menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu apartemen tersebut. Saat pintu terbuka, suara Vallen pun mulai terdengar.
"Rayhan, dimana Amanda?"
"Ada di dalam."
Vallen lalu bergegas masuk ke dalam apartemen kemudian mendekat pada Amanda yang sedang duduk di atas sofa.
"Haiii Amanda, kau terlihat sangat cantik hari ini."
"Terimakasih Dokter Vallen."
"Ya."
"Kau sudah siap Amanda?"
"Iya Firman."
"Kita bisa mulai sekarang?"
"Ya."
Firman kemudian duduk di sofa di samping Amanda, sedangkan Vallen duduk di depan televisi menonton drama Korea favoritnya, sementara Rayhan asyik membaca buku di mini bar. Amanda melihat Vallen sambil tersenyum.
'Dia benar-benar wanita di masa lalumu yang pernah kau ceritakan padaku, Rayhan.'
Hingga dua jam lamanya, Amanda tampak begitu serius mempelajari semua yang diajarkan oleh Firman.
"Amanda, sepertinya hari ini cukup. Kondisi tubuhmu belum sepenuhnya sehat, kita lanjutkan besok."
"Iya, terimakasih banyak Firman. Penjelasan darimu sungguh mudah dipahami."
"Iya Amanda."
"Emhh Firman, bolehkah kutanyakan sesuatu?"
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
"Firman, apakah kau tahu masa lalu mereka berdua?"
Mendengar perkataan Amanda, Firman kemudian tersenyum.
"Tentu saja, aku dan Vallen bertemu di saat kami sedang patah hati. Saat itu mantan kekasihku baru saja menikah dengan laki-laki lain, sedangkan Vallen juga patah hati karena Rayhan dijodohkan dengan Inara."
"Oh, apa kau tahu berapa lama mereka berpacaran?"
"Tujuh tahun, Rayhan sudah menyukai Vallen sejak di bangku SMA."
"Ternyata mereka berpacaran sangat lama. Lalu bagaimana perasaanmu melihat mereka?"
"Biasa saja."
"Biasa saja?" kata Amanda sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, biasa saja, bagiku itu adalah bagian masa lalu yang pernah mereka jalani, itu tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari takdir, tapi takdir juga yang akhirnya memisahkan mereka hingga akhirnya mempertemukanku dengan Vallen. Amanda dengarkan aku, setiap orang memiliki masa lalu tapi itu tidaklah penting karena yang terpenting adalah saat ini dan masa depan. Tidak ada yang mampu menghindari masa lalu. Aku yakin, sudah tidak ada perasaan apapun diantara mereka."
Amanda pun hanya terdiam mendengar perkataan Firman.
"Ada apa Amanda? Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apa sesuatu telah terjadi padamu? Apa hatimu mulai tertaut pada Rayhan?"
"Ohhh.. E...E... Tidak Firman, tidak, aku hanya ingin bertanya saja padammu."
Di saat itulah Vallen mendekat pada mereka kemudian duduk di samping Firman.
"Kalian sudah selesai belum? Aku lapar," kata Vallen sambil meringis.
"Sudah selesai, Vallen. Kalian makan siang di sini saja."
"Tidak usah, Amanda. Aku sedang ingin makan makanan Thailand yang asam-asam,"
"Baiklah ibu hamil, tapi kapan-kapan kalian harus makan siang bersama kami."
"Ya tentu saja, kau tenang saja Amanda. Kami pergi dulu."
"Ya."
Mereka kemudian keluar dari apartemen Rayhan, di saat itu juga Rayhan keluar dari dalam kamar.
"Dimana Firman?"
"Oh mereka sudah pulang, tadi Vallen kelaparan."
"Oh."
"Rayhan."
"Ya,"
"Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Karena sudah cemburu pada masa lalumu." Jawab Amanda sambil berjalan meninggalkan Rayhan yang kini terlihat kebingungan.
NOTE:
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak, komen yang rame ya dear 🥰😘❤️