
Rayhan lalu membalikkan tubuhnya kemudian tersenyum pada mamanya yang berteriak padanya.
"Maaf aku lupa," jawab Rayhan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Amanda, malam ini biar Kenzo tidur bersama mama saja, besok mama antarkan ke apartemen kalian."
"YESSS TERIMAKASIH MA!!" teriak Rayhan.
"Rayhan, kau ternyata lebih memalukan dibandingkan dengan diriku," ucap Vallen sambil terkekeh.
Amanda pun hanya bisa tersenyum.
"Bagaimana Amanda, boleh kan?"
"Ya, tentu saja ma. Apa ini tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak, Amanda."
"Terimakasih ma."
"Kalau begitu kami pulang dulu, ini sudah malam, tidak baik bagi Kenzo jika terlalu lama di luar." kata Dewanto.
"Iya Pa, terimakasih banyak."
"Kami juga pulang dulu, Ray, Amanda."
"Iya, terimakasih banyak Firman. Hati-hati Vallen perutmu sudah besar." kata Rayhan.
"Iya, aku tahu itu, Ray." gerutu Vallen.
Tamu yang lain pun ikut undur diri, menyisakan Rayhan dan Amanda yang masih ada di taman tersebut.
"Ayo kita juga pulang, Ray."
"Sebentar."
"Kau mau apa?
Rayhan kemudian mengangkat dagu Amanda lalu mulai mendekatkan wajahnya.
"Melanjutkan tadi yang sempat tertunda."
"Rayhan, ini di tempat umum, lebih baik kita pulang ke apartemen saja."
"Jadi kau juga sudah tidak sabar?" tanya Rayhan yang hanya dibalas senyuman oleh Amanda.
"Baiklah ternyata kau begitu sudah tidak sabaran, ayo kita pulang sekarang saja," kata Rayhan kemudian mendekatkan tubuhnya pada Amanda.
"AAAAWWWW, RAYHAN! kau mengagetkanku!!" teriak Amanda karena tiba-tiba Rayhan sudah mengangkat tubuhnya.
"Hahahahaha, terlalu lama jika menunggumu berjalan, apa kau tak lihat gaunmu itu terlihat menyusahkanmu untuk berjalan, jadi lebih baik kugendong saja." kata Rayhan sambil membawa tubuh Amanda masuk ke dalam mobilnya.
"Terserah kau saja," jawab Amanda sambil menahan senyum di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di apartemen milik mereka. "Apa mau kugendong lagi?"
"Tidak usah, Ray. Aku bisa sendiri."
__ADS_1
"Apa gaunmu tidak menggangumu berjalan?"
"Tidak, karena sebenarnya kau yang menggangguku."
"Jadi menurutmu aku menggangumu?"
"Ya,"
"Baiklah jika menurutmu seperti itu," kata Rayhan kemudian mengangkat tubuh Amanda lagi ke gendongannya.
"Hahahaha, Rayhan!"
"Bukankah kau yang bilang jika aku mengganggumu?" kata Rayhan sambil berjalan masuk ke dalam lift.
"Rayhan, saat pertama kali kita masuk ke apartemen ini kau juga menggendongku seperti ini?"
"Ya, tapi semuanya sedikit berantakan karena Vallen."
"Hahahaha, lalu apakah saat itu kau sudah menyukaiku?"
"Kau sudah tahu jawabannya sayang."
"Lalu sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"
"Sejak kau selalu menggenggam tanganku jika aku ada di sampingmu."
"Aku menggenggam tanganmu? Saat aku koma?"
"Ya, kau selalu menggenggam tanganku jika aku ingin pulang, kau yang membuatku duduk terus menerus menunggumu seharian di dalam kamar perawatanmu."
Amanda lalu tersenyum.
"Hanya mengajakmu bercerita, terkadang aku juga menceritakan dongeng untukmu."
"Dongeng putri tidur maksudmu? Karena itulah kau memanggilku dengan sebutan putri tidur, lalu setiap aku tidur kau selalu mencium keningku agar aku bangun?" tanya Amanda sambil tersenyum.
"Darimana kau tahu, padahal aku tidak pernah bercerita pada siapapun? Jangan-jangan kau sering berpura-pura tidur agar aku mencium keningmu?" tanya Rayhan sambil mengerutkan keningnya.
Amanda pun hanya tersenyum.
"Dasar nakal," gerutu Rayhan.
"Rayhan, tahukah kau jika beberapa saat setelah pertama kali kau mencium keningku, disaat itulah aku sadar dari tidur panjangku. Setelah kau keluar dari kamarku, itulah saat pertama kalinya aku membuka mataku."
"Benarkah? Darimana kau tahu semua itu?"
"CCTV yang juga tersambung di ponsel Vallen. Apa kau tidak mengecek CCTV di ponselmu?"
"Saat itu hubunganku dengan Inara begitu rumit, memang di saat kau sadar aku tidak mengecek CCTV itu."
"Oh, aku mau turun Ray, kita sudah sampai."
Rayhan lalu mengangguk kemudian menurunkan Amanda dari gendongannya. Amanda kemudian berjalan ke kamarnya diikuti Rayhan di belakangnya.
"Aku mandi dulu." kata Amanda sambil berjalan ke arah kamar mandi. Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh Rayhan, dia kemudian menarik tangannya hingga tubuh Amanda jatuh ke dalam pangkuannya.
"Nanti saja, aku sedang ingin bersamamu." bisik Rayhan di telinga Amanda yang membuat Amanda tersipu malu.
__ADS_1
"Tapi..."
Belum sempat Amanda meneruskan kata-katanya tiba-tiba Rayhan sudah mencium bibirnya dengan begitu bergairah.
"Rayhan, kau mengagetkanku."
"Astaga, aku lupa kau masih memakai lipstik." gerutu Rayhan sambil menghapus lipstik Amanda yang kini menempel di bibirnya.
"Biar aku saja yang menghapusnya," kata Amanda sambil mendekatkan wajahnya.
"Kau mau apa?"
"Menghapus lipstik di bibirmu," jawab Amanda kemudian mencium bibir Rayhan.
"Ternyata kau juga bisa nakal," kata Rayhan saat melepaskan ciuman mereka.
"Hahahaha, Ray bagaimana kalau sekarang lebih serius sedikit."
"Serius? Baik, aku akan memulai lebih serius."
Rayhan lalu mendekatkan wajahnya lagi pada Amanda lalu mulai menciumi tengkuk dan perlahan membuka pakaian Amanda.
"Bagaimana, ini jauh lebih serius kan?"
"Ini sangat serius," jawab Amanda dengan sedikit mende*ah.
Rayhan kemudian membuka gaun yang dikenakan oleh Amanda hingga menyisakan pakaian dalam berenda warna merah yang membungkus dua aset milik Amanda. Perlahan dia pun mulai membuka pakaian dalam tersebut lalu mulai me*emas b*ah da*a Amanda yang mulai menegang sambil mencium bibir merahnya.
"Rayyyy..." de*ah Amanda saat Rayhan mulai men*ulum b*ah da*a milik Amanda kemudian menciumi seluruh bagian lekuk tubuhnya.
"Kau menikmatinya sayang?"
"Ya, sangat menikmatinya."
"Kita lakukan lebih jauh," kata Rayhan kemudian mulai memasukkan asetnya lalu mulai menindih Amanda dan memainkan pin*gulnya di atas tubuh Amanda. De*ahan dan e*angan pun kini mulai menggema di seluruh bagian sudut kamar, hingga akhirnya mereka mencapai pun*ak kenik*atan.
"Aku mencintaimu, Amanda," bisik Rayhan sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Amanda.
"Aku juga mencintaimu, Ray," jawab Amanda sambil menc*umi dada Rayhan dan meninggalkan tanda merah di beberapa bagian dadanya.
🍒🍒🍒
Abimana tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
"Kau kenapa Abi?" tanya Ghea yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ghea, ini sudah mendekati batas waktu kesepakatan antara aku dengan pengacara bodoh itu mengenai balik nama perusahaan serta aset milik Amanda menjadi milik Sharen, tapi kenapa dia juga belum menghubungiku untuk melakukan berbagai persiapan, bahkan aku mendengar gosip yang beredar di kantor jika dua hari lagi akan ada pergantian CEO yang selama ini masih atas nama papa. Tapi kenapa pengacara bodoh itu belum menghubungiku?"
"Abimanaaaa jadi menurutmu, sebentar lagi kau akan menjadi CEO di perusahaan milik Amanda?"
"Kemungkinan seperti itu karena perusahaan itu sebentar lagi menjadi milik Sharen, sedangkan perwalian Sharen ada padaku sebagai ayah kandungnya, jadi kemungkinan aku akan diangkat menjadi CEO di perusahaan milik Amanda, hahahaha."
"Hahahaha, bagus sekali. Abimana bagaimana jika kau menghubungi pengacara itu terlebih dulu, mungkin dia tidak menghubungimu karena dia sungkan padamu."
"Mungkin saja. Lebih baik aku menghubunginya sekarang juga." kata Abimana kemudian mengambil ponselnya.
NOTE:
__ADS_1
Ga suka skip, kalo suka wajib tinggalin jejak.
Makasih banyak buat yang udah mampir, love you ❤️🥰😘