
Rayhan kemudian menepuk kepalanya.
"Cepat pakai bajumu," kata Amanda sambil memberikan pakaian pada Rayhan. Mereka lalu mengenakan pakaian mereka lalu keluar dari apartemennya menuju ke basemen dan menghampiri Ela dan Kenzo yang sudah lama menunggunya.
"Kalian ini, mentang-mentang pengantin baru, susah sekali dihubungi," gerutu Ela saat mereka sudah sampai di depannya.
"Hahahaha, maaf ma tadi malam kami nonton televisi sampai malam."
"Nonton televisi apa ronda, Ray."
"Dua-duanya, hahahaha," jawab Rayhan sambil melirik Amanda. Amanda pun hanya tersenyum, dia kemudian mengambil Kenzo dari gendongan mama Rayhan.
"Bagaimana Kenzo, ma. Apa dia merepotkan mama?"
"Tidak Amanda, meskipun dia sangat aktif tapi dia juga sangat penurut."
"Syukurlah, ayo kita masuk ke dalam," kata Rayhan kemudian memeluk pinggang Amanda yang sedang menggendong Kenzo, sesekali Rayhan juga terlihat mencium dan meledek Kenzo.
Inara yang bersembunyi di balik mobil, merasa begitu hancur melihat semua yang ada di depan matanya.
"Kau terlihat sangat bahagia, mas. Sejak awal kita menikah, aku tidak pernah melihat raut kebahagiaan di wajahmu, kau juga tidak pernah memelukku saat berjalan, dan semua sikap yang kau lakukan padanya tidak pernah kau lakukan padaku," ucap Inara sambil meneteskan air matanya dan memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
"Aku sadar, sekuat apapun aku berlari mengejarmu kau tidak akan pernah tergapai karena aku tidak pernah ada di hatimu, selama ini aku hanya hidup dalam kesia-siaan karena memaksakan kehendakku pada laki-laki yang tidak mencintaiku, saat ini aku memang tidak bisa lagi merasakan hangatnya hembusan nafasmu lagi tapi kupikir ini jauh lebih baik daripada hidup dalam hubungan yang semu, huftttt," Inara lalu menghembuskan nafas panjangnya.
'Sebaiknya aku pergi sekarang,' gumam Inara, namun saat dia akan melangkahkan kakinya keluar dari persembunyiannya di balik mobil, tiba-tiba dia mendengar suara yang cukup dia kenal. Mereka kini pun tampak berdiri di sisi lain mobil, bersebrangan dengan tempat Inara bersembunyi, sehingga percakapan mereka pun terdengar jelas.
"Rayhan, kenapa kau mengajakku ke basemen dan beralasan ingin membeli makanan? Bukankah kita biasanya cukup memesan makanan online? Kita baru saja mengantar mama ke dalam apartemen lalu kita keluar lagi, ini benar-benar tidak sopan, Ray."
"Hahahaha Amanda, apa kau tadi tidak mendengar kalau mama akan menginap di apartemen kita sampai urusan kita selesai di kantor?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Jika mama menginap di apartemen kita, kita tidak punya waktu untuk bermesraan lagi, Amanda."
"Lalu?"
__ADS_1
"Kita bermesraan di sini sebentar," kata Rayhan kemudian mulai mencium bibir Amanda.
"Astaga Rayhan!!! Kau nakal sekali, ini di tempat umum." teriak Amanda sambil melepaskan ciuman Rayhan.
"Hahahaha, sebentar saja Amanda, lagipula di sini sangat sepi."
"Tidak Ray, lebih baik kita pergi sekarang membeli makanan untuk mama, nanti mama bisa curiga kalau kita pulang tapi tidak membawa makanan untuknya."
"Baik kalau begitu di mobil saja," kata Rayhan sambil terkekeh.
"Hahahaha Rayhan!!"
Mereka lalu berjalan menjauh dari tempat persembunyian Inara kemudian masuk ke dalam mobil Rayhan, sedangkan Inara yang melihat kejadian yang ada di depannya hanya bisa menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai basemen sambil menutup mulutnya, air mata pun begitu deras mengalir di wajahnya.
"Selama ini, kau begitu dingin padaku mas. Aku sampai tidak mengenalmu, kau ternyata bisa seromantis itu pada seorang wanita. Kehadiranku memang hanyalah menjadi benalu dalam hidupmu," kata Inara dengan isakan yang kini terdengar begitu menyayat hati. Dia kemudian bangkit lalu berlari masuk ke dalam mobilnya.
"AAAAAAAAAAAAAAA!!" teriak Inara di dalam mobil.
🍒🍒🍒
"Kau terlihat sangat tampan, Abimana," ucap sebuah suara yang kini berdiri di sampingnya. Abimana lalu membalikkan tubuhnya kemudian membelai wajah Ghea yang kini ada di hadapannya.
"Kau sudah siap kan, menjadi istri seorang pemilik salah satu perusahaan besar di negeri ini? Hahahaha."
"Tentu saja, Abimana. Bukankah itu yang kuinginkan? Keinginan kita akhirnya bisa tercapai hari ini, hahahaha."
"Ya, akhirnya yang kita perjuangkan selama ini terwujud, semua yang menghalangi usaha kita sudah kita singkirkan dan tunduk tak berdaya. Hahahaha, apalagi pengacara bodoh itu, dia pun tak dapat berkutik saat kita menghabisi Amanda, dan mulai saat ini kupastikan tidak akan ada lagi yang bisa menggangguku dalam menguasai perusahaan tersebut."
"Iya Abimana, lebih baik kita pergi sekarang."
"Iya Ghea."
Mereka lalu keluar dari dalam kamar, namun saat berjalan di halaman rumah, Abimana tampak melihat Vera yang masih bersantai sambil menikmati teh di salah satu bangku yang ada di halaman rumah tersebut. Abimana lalu mendekat pada Vera.
"Mama, kenapa mama belum bersiap? Hari ini ada pergantian CEO di kantor, ma."
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Mama bagaimana? Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup Abi, ma."
"Bersejarah? Memangnya apa yang akan terjadi dalam hidupmu Abi?"
"Mama, hari ini adalah hari pergantian CEO, nama papa akan diganti dengan nama Abi, ma."
"Heh, kau terlalu percaya diri, Abi. Lebih baik kau tidak usah datang ke kantor karena hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."
"Kenapa mama berbicara seperti itu? Kenapa mama selalu bersikap sinis dan antipati pada Abi, bukankah Abi adalah anak kandung mama?"
"Kau bilang kau anak kandung mama? Mama bahkan sangat malu memiliki anak kandung sepertimu!"
"MAMA!!" teriak Abimana disertai nafas yang begitu tersengal-sengal menahan emosi di dalam dadanya.
"Apa? Kau marah pada mama? Silahkan kau marah pada mama! Kau mau memukul mama? Silahkan pukul mama!"
"Sudahlah Abi, lebih baik kita berangkat sekarang, terlalu lama di rumah hanya akan merusak moodmu saja," kata Ghea sambil mengelus punggung Abimana. Abimana lalu mendengus kesal kemudian mulai berjalan meninggalkan Vera yang masih menatapnya.
"Sejahat apapun kau adalah putraku, Abi. Bagaimanapun juga aku adalah ibu kandungmu, aku tidak akan pernah sanggup melihatmu dipermalukan oleh mereka, meskipun kau pantas untuk mendapatkannya, semoga setelah kejadian ini dan kau jatuh pada titik terbawahmu, kau bisa sadar Abi," gumam Vera sambil meneteskan air matanya.
🍒🍒🍒
Rayhan melingkarkan tangannya pada perut Amanda yang sedang berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mereka.
"Kau sudah siap, CEO cantikku?" bisik Rayhan di telinga Amanda kemudian mencium bahunya.
"Ya, aku sudah sangat siap untuk melihat kehancuran Abimana, hari ini adalah hari yang sangat kunantikan sepanjang hidupku."
"Aku juga sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi Abimana saat tahu kau masih hidup."
"Dan juga bagaimana reaksinya jika hari ini ternyata tidaklah seperti yang dia bayangkan, hahahaha."
"Sudah, jangan terlalu banyak menghayal, lebih baik kita berangkat sekarang agar bisa lebih cepat melihat kehancuran Abimana,"
__ADS_1
"Iya, Ray."