
Abimana kemudian memejamkan matanya, bayangan masa lalu pun berkecamuk dalam benaknya.
"Dulu, saat papa dan mama belum menjadi orang tua angkat Amanda, kami pun tidak jauh berbeda dengan mereka. Papa hanyalah seorang karyawan biasa, menjelang akhir bulan, keluarga kami benar-benar harus memperhitungkan pengeluaran kami. Namun saat itu, aku yang masih berusia tujuh tahun begitu memiliki banyak keinginan, membeli makan-makanan enak, mainan model terbaru serta pakaian yang mahal, jika keinginanku tidak dikabulkan aku akan merasa sangat marah dan akhirnya kedua orang tuaku mengabulkan permintaanku hingga mereka sering menahan lapar demi mewujudkan semua keinginanku, papa sama seperti laki-laki itu yang mengorbankan rasa laparnya agar keluarganya tidak kelaparan. Itulah aku, aku yang begitu egois dan tidak pernah memikirkan orang lain demi memenuhi semua keinginan dan egoku saja."
Abimana lalu membuka matanya kemudian menghapus air mata yang kini sudah mengalir deras membasahi wajahnya. Perlahan, dia menaruh kepala Ghea yang sudah tidur dengan lelap ke atas tanah. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri laki-laki tersebut.
"Ini untuk bapak, tadi saya membelikan makanan ini untuk istri saya tapi ternyata dia sudah tidur."
"Tapi, bagaimana jika nanti istri anda bangun?"
"Saya bisa membelinya lagi, saya masih memiliki cukup uang untuk membeli makanan lagi."
"Tapi...."
"Tolong jangan menolak pemberian dari saya, bukankah tidak baik menolak rezeki?"
"Oh iya, terimakasih banyak."
"Sama-sama," jawab Abimana lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu kemudian kembali merebahkan tubuhnya di samping Ghea. Abimana lalu memandang wajah Ghea yang tertidur begitu lelap.
"Kau pasti sangat lelah kan? Maafkan aku Ghea," kata Abimana lalu mengecup kening Ghea.
🍒🍒🍒
Amanda keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di samping Rayhan yang sudah ada di atas ranjang.
"Kau bilang tadi kau sudah lelah?"
__ADS_1
"Hanya alasan saja, aku sedang ingin berduaan denganmu," jawab Rayhan sambil terkekeh.
"Dasar nakal. Rayhan, sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentang apa?"
"Tentang kematian papa. Apakah selama ini kau sudah menyelidiki tentang kematian papa?"
"Belum Amanda, bukankah selama ini aku sibuk mempersiapkan dirimu yang sekarang. Jadi aku belum sempat melakukan penyelidikan lebih jauh."
"Rayhan bagaimana kalau kita mengecek CCTV di rumah sakit tersebut? Bukankah kau pernah bilang jika Dokter David pernah mengatakan salah satu temannya yang menangani papa merasa aneh dengan kematian papa?"
"Ya, Kak David pernah mengatakan hal itu."
"Rayhan, bagaimana jika besok kita ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani papa?"
"Ya, termasuk di depan Inara?"
Rayhan pun tersenyum.
"Aku sebenarnya merasa sedikit sungkan saat bertemu dengannya tadi, apalagi saat kau menyebutkan jika aku adalah klienmu, klien yang selalu kau jaga saat aku sedang koma. Aku takut jika dia memiliki pemikiran buruk jika aku yang menjadi perusak rumah tangga kalian."
"Kau harus ingat Amanda, Inara sendiri yang merusak rumah tangga kami. Jika saja dia tidak berbohong padaku, tentu aku tidak akan menceraikannya."
"Tapi kau bilang jika kau sudah jatuh cinta padaku saat aku masih dalam kondisi koma."
"Ya, aku memang sudah jatuh cinta padamu meskipun saat itu belum terlalu dalam, tapi itu semua terjadi karena Inara yang memberikan ruang padaku untuk jatuh cinta pada wanita lain. Kami memang terikat pernikahan tapi aku begitu tersiksa dengan semua sikapnya, dia tidak menyadari jika keegoisannya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Saat itu aku sudah benar-benar lelah Amanda, aku sangat lelah dengan semua sikapnya. Karena itulah aku merasa nyaman saat sedang bersamamu dan akhirnya jatuh cinta padamu," ucap Rayhan sambil mengehembuskan nafas panjangnya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya sekarang Inara sudah berubah, Ray. Kau bisa lihat sendiri bagaimana tadi dia bersikap begitu ramah pada kita."
"Ya, semoga saja dia berubah dan bisa bertemu dengan jodohnya."
"Seperti kau yang bertemu denganku?"
"Ya, seperti kita," jawab Rayhan kemudian mulai me*umat bibir Amanda.
🍒🍒🍒
Bisingnya lalu lintas serta bunyi kendaraan dan klakson yang mulai bersahut-sahutan membuat Abimana terkejut dan perlahan membuka matanya.
"Ternyata sudah pagi," kata Abimana saat membuka matanya. Di saat itulah tiba-tiba terdengar teriakan bersahut-sahutan yang memanggil namanya. Abimana lalu membalikkan tubuhnya ke arah lampu merah yang ada di belakangnya. Abimana pun begitu terkejut melihat beberapa orang pengendara mobil yang sedang berhenti di lampu merah tersebut sambil tertawa dan memandang sinis ke arahnya.
"ABIMANA!! APA YANG KAU LAKUKAN? APAKAH SEKARANG KAU SUDAH MENJADI SEORANG GELANDANGAN?" teriak salah seorang laki-laki yang ada di dalam mobil sport berwarna merah.
"APA KAU TIDAK TAHU JIKA DIA SUDAH DIUSIR OLEH MANTAN ISTRINYA!" teriak salah seorang pengemudi yang lain di belakang mobil merah tersebut.
"KALAU SEBENARNYA MISKIN JANGAN TERLALU BANYAK TINGKAH, RASAKAN SENDIRI AKIBATNYA!"
"SUDAHLAH DIA MEMANG PANTAS MENDAPATKAN SEMUA ITU! LEBIH BAIK KITA PERGI SAJA SEKARANG!! AKU TIDAK MAU TERTULAR MISKIN GARA-GARA TERLALU LAMA BERSAMA DENGAN ABIMANA!!"
"AHAHAHHA... HAHAHAHA."
Beberapa pengendara mobil tersebut lalu pergi meninggalkan Abimana yang kini tampak begitu marah, namun dia tidak bisa berbuat apapun karena kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk membalas cibiran dari teman-temannya di masa lalu. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar lalu membalikkan tubuhnya bermaksud untuk mendekat kembali pada Ghea. Namun betapa terkejutnya dirinya saat melihat ke sekelilingnya dan melihat Ghea sudah tidak ada di tempat itu.
"GHEAAAA...GHEEEAAAAA!!"
__ADS_1