
'Apa yang harus kulakukan? Astaga, Rayhan kau benar-benar nekat, aku ingin melepas ciuman ini namun kenapa aku terasa begitu menikmatinya, oh tidak jika seperti ini terus menerus aku bisa hanyut dalam ciuman ini.'
Amanda pun berusaha melepaskan bibirnya namun Rayhan kian melu*at bibirnya dengan begitu rakus.
'Oh tidak, oh tidak aku benar-benar hanyut, aku tidak bisa menolak ini lagi, hasratku pun semakin menggebu.' gumam Amanda sambil mulai membalas ciuman Rayhan. Rayhan pun sedikit tersenyum ketika mulai merasakan balasan ciuman dari Amanda. Hingga akhirnya setelah begitu lama mereka berciuman, Amanda pun melepaskan ciuman itu. Dia kemudian memandang Rayhan sambil memegang bibirnya.
"Lancang sekali, kenapa kau lancang sekali menciumku begitu saja, padahal aku belum menjawab apapun padamu."
"Aku tidak memerlukan jawaban apapun karena aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku juga tahu kau pasti sangat mencintaiku, itulah sebabnya kau marah padaku karena aku selalu memberi harapan palsu padamu kan?"
"Kau terlalu percaya diri, Rayhan. Padahal aku membalas ciumanmu itu karena kau sudah memaksaku."
"Bukan itu pointnya, Amanda."
"Sudahlah aku lelah, aku mau tidur," kata Amanda sambil melangkah kakinya menuju ke kamarnya.
"Amanda, dengarkan aku, aku sangat mencintaimu, aku tahu saat ini kau masih marah padaku, tapi aku akan menanti jawabanmu."
"Bagaimana jika aku tidak mau menjawabnya?"
"Maka aku akan menunggu jawaban itu seumur hidupku," jawab Rayhan yang membuat Amanda tersenyum sambil berjalan menjauhi Rayhan.
'Sudah dua bulan ini kau memberikan harapan palsu padaku, Ray. Sekarang rasakan balasan dariku, memangnya itu tidak melelahkan? Itu sangat melelahkan, Rayhan.' gumam Amanda sambil terus tersenyum, senyum yang tidak diketahui oleh Rayhan.
Melihat Amanda yang sudah masuk ke kamarnya, Rayhan pun berjalan ke arah balkon apartemen lalu mengambil ponselnya.
[Halo Firman, aku sudah melakukan seperti apa yang kau sarankan, aku sudah menciumnya tapi kenapa dia belum juga memaafkanku? Padahal tadi dia juga membalas ciumanku.]
[Sabar Ray, dia masih butuh waktu. Yang penting kau jangan putus asa untuk mengejarnya. Tunjukkan semua rasa cintamu padanya, kau jangan terlalu dingin padanya, lakukan semua yang tadi kukatakan padamu.]
[Kau yakin semua itu akan berhasil?]
[Tentu saja.]
[Aku juga ingin seperti dirimu, Vallen begitu tergila-gila padamu, aku juga ingin Amanda tergila-gila padaku, aku ingin hanya ada aku yang ada di hatinya, saat aku membuka kebenaran tentang Amanda jika dia sebenarnya masih hidup, aku yakin pasti banyak laki-laki yang menyukai dan mengejarnya, apalagi saat ini dia sangat cantik dan juga pemilik perusahaan, pasti akan banyak laki-laki yang mengejarnya, aku tidak mau dia menyukai laki-laki lain, Firman. Apa kau mengerti?]
[Hahahaha, ya karena itulah tunjukkan rasa cintamu padanya, jangan terlalu kaku, Ray. Hahahaha.]
__ADS_1
[Ya, aku mengerti. Terimakasih.]
Rayhan lalu menutup teleponnya sambil menatap gelapnya malam. "Amanda, maafkan aku. Tolong buka hatimu untukku."
🍒🍒🍒
"TOLONGGGG!!" teriak Ghea saat sudah sampai di rumah.
"TOLONG PAK SATPAM, TOLONG BAWA ABIMANA KE DALAM." perintah Ghea pada satpam yang ada di rumah tersebut.
Satpam itu lalu memapah tubuh Abimana ke dalam rumah, sedangkan Ghea berjalan di belakangnya, namun saat akan berjalan ke kamarnya tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.
"Tunggu dulu Pak Satpam."
"Iya Nyonya."
"Taruh Abimana di sofa saja."
"Tapi Abi sedang sakit, ma."
"Pak Satpam, taruh Abimana si sofa."
"Kau, sebaiknya kau pergi ke kamar Sharen! Aku ingin berbicara dengan Abimana! Jika tidak kau akan kuusir sekarang juga dari rumah ini karena rumah ini masih atas nama Amanda, dan perwalian Amanda adalah mama!"
Satpam tersebut lalu menaruh tubuh Abimana yang tampak begitu lemas di atas sofa. Wajahnya terlihat begitu pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Sedangkan Ghea berjalan ke kamar Sharen sambil mendengus kesal.
"Mama, ada apa ini ma? Abi sedang sakit, kenapa mama menyuruh Abi untuk tidur di sini?"
"KAU BELUM BOLEH KE KAMARMU SEBELUM KAU MENJELASKAN INI SEMUA!" teriak Vera sambil melemparkan satu satu bendel kertas ke wajah Abimana.
"Apa ini ma?"
"Tagihan kartu kredit yang membengkak! Kau lihat sendiri berapa nominalnya! Lima ratus juta, Abi!! Lima ratus juta!!! Darimana kita memiliki uang sebanyak itu, bukankah gaji bulananmu hanya sebesar tujuh puluh juta saja, itu pun karena Firman sudah berbaik hati padamu, padahal kinerjamu di kantor itu tidak jelas."
"Ma, bukannya tidak jelas, tapi karena langkah Abi dijegal oleh almarhum papa, semua keputusan perusahaan masih ada di tangan Firman, itu juga atas persetujuan Rayhan. Mereka berdua membuat Abi jadi seperti ini, ma."
"Sudah itu adalah keputusan almarhum papamu, dan mama yakin itu adalah keputusan terbaik, karena mama pun tidak percaya padamu. Entah bagaimana nasib perusahaan Amanda jika kau yang memegang perusahaan tersebut."
__ADS_1
'Sebentar lagi aku juga akan memegang perusahaan tersebut ma, karena sebentar lagi kepemilikan perusahaan itu akan berganti menjadi milik Sharen, karena pengacara bodoh itu tidak bisa berkutik lagi. Lihat saja, kemalangan yang kualami beberapa bulan terakhir ini pasti akan segera berakhir.'
"Abimana, kenapa mau diam? Lebih baik sekarang kau pikirkan bagaimana cara membayar cicilan kartu kreditmu yang membengkak!"
"Mama, seharusnya mereka mengirimkan tagihan kartu kredit itu ke kantor, mengapa mereka malah mengirimkannya ke rumah?"
"Pihak kantor menolak tagihan kartu kreditmu, Abimana!"
"Mereka menolak kartu kredit ku?"
"Ya."
"Pasti semua ini terjadi karena Firman dan pengacara bodoh itu! Mereka benar-benar BRENGS*KKKKK!!!"
"Abimana! Kau yang seharusnya tahu diri, barang-barang yang kau beli adalah kepentingan pribadimu! Kenapa kau limpahkan keperluan pribadimu pada perusahaan? Kau harus membayar semua itu sendiri! Enak saja kau melimpahkan semua itu pada perusahaan! Memangnya kau pikir perusahaan itu milikmu, Abimana."
"Apa mama lupa, jika hak waris perusahaan itu akan jatuh ke tangan Sharen, sedangkan Sharen adalah putriku jadi akulah sebenarnya pemilik perusahaan milik Amanda, itu hanya tinggal masalah waktu."
"Jangan bermimpi Abimana, lebih baik sekarang kau pikirkan bagaimana melunasi tagihan cicilan kartu kreditmu itu! Mama tidak mau tahu, kau harus melunasi kartu kreditmu itu secepatnya!"
"Tapi bagaimana Abi akan membayar tagihan itu ma? Abi juga tidak memilki uang sebanyak itu."
"Itu bukan urusan mama, Abi! Bukankah kau memiliki mobil? Jual saja mobilmu!"
"Tapi ma, jika Abi menjual mobil, bagaimana Abi akan melakukan aktivitas Abi, ma."
"Jual mobilmu lalu beli mobil yang lebih murah, mama tidak mau tahu, yang terpenting kau melunasi semua hutang-hutangmu! Jika kau tidak melunasi hutang itu secepatnya, maka kau juga akan mama usir dari rumah ini!"
"Tapi Ma..."
"Tidak ada tapi-tapian Abimana! Cepat lakukan yang mama perintahkan atau kau kemasi barang-barangmu sekarang juga!" kata Vera sambil berjalan meninggalkan Abimana.
"BREN*SEK!! Gara-gara Firman dan pengacara sialan itu aku jadi seperti ini! Aku harus menemui pengacara itu, ya aku harus mencari tahu dimana tempat tinggal pengacara sialan itu sekarang juga," ucap Abimana kemudian mengambil ponselnya.
NOTE:
Maaf baru update lagi ada acara di sekolah bocil & othor kebetulan ketua paguyubannya jadi sedang sangat sibuk beberapa hari terakhir 🤭
__ADS_1
Wajib tinggalin jejak ya, komen yang rame. Love you dear 🥰😘❤️