
"Astaga, pasti Amanda sudah menjebakku! Dia benar-benar wanita licik dan kurang ajar!" ucap Ghea sambil menutup wajahnya.
"Kenapa aku jadi bodoh sekali? Kenapa aku tidak sampai memiliki pikiran jika Amanda sudah menjebakku, oh tidak ini benar-benar bencana! Aku harus bisa lepas dari sini. Aku tidak mau dipenjara seperti Abimana, aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku di tempat terkutuk itu," gerutu Ghea sambil mengigit jari-jarinya.
'Apakah aku harus berpura-pura gila lagi? Ya mungkin hanya itu cara satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang, berpura-pura gila lagi," gumam Ghea, dia kemudian berjalan ke arah pintu jeruji besi.
"SIAPA YANG SUDAH MEMBAWAKU KE SINI? KALIAN BENAR-BENAR KURANG AJAR! LANCANG SEKALI KALIAN MENJEBLOSKAN AKU KE PENJARA SEPERTI INI! BEBASKAN AKU SEKARANG JUGA! BEBASKAN AKU SEKARANG JUGA!"
Ghea pun berteriak dengan begitu kencang tanpa henti hingga akhirnya salah seorang polisi pun mendekat padanya.
"DIAM!!"
"Kalau kau tidak mau diam, kau akan kubawa ke ruang investigasi sekarang juga dan akan kuberi hukuman struman listrik sekarang juga!"
Mendengar perkataan polisi tersebut, Ghea pun kembali berteriak.
"AAAAAAAAAA!!"
PRANG!!!
Polisi tersebut lalu memukul jeruji besi itu dengan sebuah pistol yang dimilikinya, Ghea pun akhirnya terdiam.
"Diam kau dan jangan coba-coba untuk berpura-pura gila di hadapanku! Aku sudah memiliki ini! Dan kau tidak mungkin bisa berkelit," kata polisi tersebut sambil memperlihatkan sebuah surat keterangan dari dokter yang menyatakan kesembuhan Ghea.
"BREN*SEK!! Pasti Amanda yang melakukan semua ini!" teriak Ghea di hadapan polisi tersebut.
"Lebih baik kau diam dan tidak usah banyak berteriak! Jika kau masih saja berteriak tidak jelas, maka kau akan kuberi struman listrik sekarang juga! Jangan pernah coba-coba bermain-main dengan kami semua disini!" kata polisi tersebut sambil menatap Ghea dengan tatapan begitu tajam. Melihat Ghea yang sudah mulai tenang, polisi tersebut lalu membalikkan tubuhnya bersiap untuk meninggalkan Ghea, tapi baru saja dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba Ghea sudah memanggilnya kembali.
"Tunggu Pak Polisi, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada anda?"
Polisi tersebut lalu membalikkan tubuhnya kembali. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana dengan Abimana? Bagaimana kabar Abimana? Hukuman apa yang dia dapatkan?"
"Oh Abimana? Dia saat ini sudah berada di lembaga pemasyarakatan dan tinggal menunggu waktunya untuk menjalani eksekusi."
"Eksekusi?" tanya Ghea sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
'Ya, dia tinggal menunggu waktu untuk menjalani hukuman eksekusi mati."
"Astaga," kata Ghea sambil menutup mulutnya.
"Kenapa?"
"Pak polisi, jika Abimana mendapatkan vonis hukuman mati apakah itu artinya aku juga akan mendapatkan hukuman yang sama?"
Polisi tersebut lalu tersenyum. "Kemungkinan seperti itu."
"TIDAKKKKK!!" teriak Ghea kemudian tubuhnya jatuh dan terkapar di atas lantai.
🍒🍒🍒
Saat Inara akan keluar dari sebuah masjid yang ada di dalam lembaga pemasyarakatan, tiba-tiba netranya tertuju pada seorang laki-laki yang ada di barisan jama'ah laki-laki tampak sedang khusyuk berdoa. Inara pun kemudian tersenyum lalu keluar dari masjid tersebut. Dia kemudian berdiri di depan masjid sambil mengamati satu per satu orang-orang yang keluar dari masjid tersebut. Inara pun kemudian tersenyum saat melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi keluar dari masjid tersebut, dia lalu menghampiri laki-laki tersebut.
"Kenapa kau berdiri di depan masjid?"
"Aku sedang menunggumu."
"Bagaimana? Kau sudah hafal doa-doa yang kuajarkan padamu?"
"Bagaimana perasaanmu?"
"Jauh lebih tenang, terasa begitu nyaman di hati. Semua yang kujalani dalam hidup ini sudah kupasrahkan semuanya pada Tuhan."
"Termasuk hukuman yang kau jalani?"
Abimana pun mengangguk.
"Kau ikhlas menjalani hukuman ini?"
"Tentu saja, aku memang pantas mendapatkannya."
"Kau yakin?"
"Kenapa kau selalu bertanya terus menerus Inara? Aku yakin dengan hukuman yang akan kujalani, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin mengajukan banding?"
"Saat aku menerima vonis itu, sebenarnya hakim menanyakan padaku apakah aku ingin melakukan banding atau tidak tapi aku menjawab tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku memang pantas dihukum mati, dosa-dosaku sudah tidak bisa lagi diampuni, Inara."
"Tuhan maha pengampun, apalagi pada hambanya yang sudah bertaubat dan menyesali kesalahan yang telah diperbuat olehnya."
"Tidak, dosaku sudah terlalu besar. Orang-orang di sekitarku saja tidak mau memaafkan aku, termasuk mama. Aku memang sangat jahat karena sudah membunuh ayah kandungku sendiri."
"Itu hanya masalah waktu, Abimana. Suatu saat pasti mamamu akan memaafkanmu dan mau bertemu denganmu lagi."
"Iya tapi entah kapan, mungkin saat aku sudah menjalani eksekusiku dia baru bisa memaafkan aku."
"Abimana, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Sebelum aku mengatakannya tolong berjanjilah untuk memenuhi permintaanku."
"Memangnya apa permintaanmu?"
"Berjanjilah terlebih dulu untuk memenuhi permintaanku dulu. Anggap saja ini sebuah permintaan sebagai seorang teman."
"Baik, aku berjanji akan memenuhi permintaanmu. Apa yang kau inginkan?"
"Biarkan aku mengajukan peninjauan kembali atas kasusmu."
"Tidak Inara, tolong jangan lakukan itu. Aku memang pantas dihukum mati Inara."
"Sayangnya kau sudah berjanji padaku, dan mulai hari ini aku akan mengurus semuanya," jawab Inara sambil tersenyum.
"Tidak Inara tolong jangan lakukan itu. Aku sudah ikhlas dengan hukuman yang akan kujalani."
"Tapi aku tidak, aku tidak ikhlas dengan hukuman yang akan kau jalani karena aku tidak pernah rela kehilangan dirimu."
__ADS_1
NOTE: Yang penasaran nasib Inara dan Abimana selanjutnya bisa intip bocorannya di novel sebelah"BED FRIEND" Othor mulai kasih bocoran di dua episode hari ini 😉
Othor ga bilang Abimana bebas ya, cuma bilang kasih bocoran nasib Abimana.