Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Sedikit Pelajaran


__ADS_3

Inara pergi meninggalkan rumah sakit dengan begitu tergesa-gesa.


"Untuk saat ini, menghindari Mas Rayhan adalah pilihan terbaik daripada posisiku semakin terancam." kata Inara sambil berjalan ke arah mobilnya. Dia lalu membuka pintu mobil kemudian menghempaskan tubuhnya ke jok mobil sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaannya semakin tak menentu mengingat pertemuannya dengan Dokter Jeni, percakapan dengan Dokter Jeni yang membuatnya semakin kesal pun kini menari dalam benaknya hingga membuat emosi kian berkecamuk di dalam hatinya.


"Bagaimana Dokter Jeni? Anda mau menolong saya kan? Dokter, saya akan memberikan apapun yang anda inginkan, saya akan memberikan berapapun yang anda minta asalkan anda mau menolong saya."


Jeni pun hanya menatap Inara sambil tersenyum kecut.


"Maaf, saya tidak bisa Nyonya Inara."


"Kenapa tidak bisa? Salah satu teman saya mengatakan jika dia pernah dibantu oleh anda dengan kasus yang hampir mirip dengan yang saya alami, kenapa sekarang anda tidak bisa membantu saya?"


"Ya, itu dulu. Sekarang saya sudah tidak mau berbuat seperti itu lagi, dan saya sudah menyadari semua kesalahan saya. Saya sadar, saya telah banyak sekali merugikan orang lain, bahkan termasuk keselamatan pasien atas apa yang saya lakukan. Dan saya juga tidak mau lagi mengotori gelar dokter yang saya miliki hanya untuk kepentingan pribadi saya sendiri. Saya harap anda bisa mengerti Nyonya Inara."


"Tapi dokter, tolonglah. Tolong saya sekali saja."


"Tidak, sampai kapanpun jawaban saya tetap sama dan saya harap anda menghargai keputusan saya. Maaf, saya sedang sibuk karena harus mengontrol beberapa pasien, jadi lebih baik anda pulang saja sekarang, Nyonya Inara."


Inara kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Anda akan menyesal karena sudah menolak saya, Dokter Jeni." bentak Inara.


'Kau yang bodoh karena sudah membohongi suamimu dengan kehamilan palsumu, karena itu hal yang sangat fatal.' gumam Jeni sambil melihat Inara yang keluar dari ruangannya.


Inara kemudian membuka matanya, air mata pun kini mulai menetes membasahi wajahnya.


"Sekarang, apa yang harus kulakukan? Posisiku sudah sangat terpojok, suatu saat aku tetap harus menuruti keinginan Mas Rayhan untuk pergi ke dokter bersamanya. Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya? Oh tidak, jika Mas Rayhan tahu yang sebenarnya, dia pasti akan langsung menceraikanku. Dulu aku sudah bersusah payah sampai menjatuhkan harga diriku memohon pertolongan pada Vallen untuk membujuk Mas Rayhan agar mau kembali bersamaku, aku tidak akan membuang kesempatan ini. Aku harus berfikir kembali dengan kepala dingin untuk bisa mencari jalan keluar atas semua permasalahanku ini."


"Mungkin mama bisa membantuku, lebih baik aku pulang sekarang." kata Inara kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya.


💞💞💞

__ADS_1


CEKLEK


Pintu kamar perawatan Amanda terbuka. Rayhan pun masuk ke dalam ruangan tersebut lalu berjalan ke arah sofa mendekat pada Firman dan Vallen yang masih duduk di sofa tersebut.


"Kau sudah bertemu Kak David?"


"Belum, dia tiba-tiba ada rapat mendadak jadi dia memintaku untuk menemuinya nanti sore."


"Oh."


"Kalian sebaiknya pulang saja. Firman, sepertinya Vallen butuh istirahat. Wajahnya sangat pucat.


"Ya, aku memang belum terbiasa dengan keadaanku." gerutu Vallen.


Firman pun tersenyum.


"Nikmati saja, ini anak pertama kita."


Rayhan pun tersenyum.


"Rayhan, bagaimana keadaan anakmu yang ada di dalam kandungan Inara, bukankah sebentar lagi kehamilan Inara memasuki trimester ketiga? Kau pasti juga sudah tahu jenis kelamin anakmu kan?"


Rayhan pun begitu terkejut mendengar perkataan Vallen.


"Entahlah."


"Kenapa kau berkata seperti itu Ray? Apa kau masih menjadi suami yang dzolim seperti dulu yang tidak pernah memperhatikan istrimu?" kata Vallen sambil terkekeh. Firman pun kemudian memelototkan matanya pada Vallen.


"Tidak Vallen, selama ini aku selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk Inara. Aku selalu menuruti semua kemauannya, tapi tidak dengan dirinya."


"Apa maksudmu Ray? Bukankah sejak dulu kau yang selalu tidak bisa menerima kehadiran Inara menjadi istrimu?"

__ADS_1


"Itu dulu Vallen, tapi sejak kami pindah ke London aku selalu berusaha membuka lembaran baru dengannya, tapi apa kau tahu bagaimana sebenarnya sifat Inara? Dia tidak sebaik yang kalian pikirkan, semua sikap lugu dan lembutnya itu hanya di hadapan kalian saja, karena sebenarnya dia sangatlah kasar. Apa kau tahu, dia seringkali membentakku jika kami tak sepaham."


Firman dan Vallen kemudian saling berpandangan.


"Benarkah?"


"Ya."


"Jadi itu alasannya selama ini kau tidak pernah bisa mencintai Inara?"


"Iya Firman, dia sangatlah egois. Apa kalian tahu jika aku meminta dia memeriksakan kandungan bersama denganku, dia selalu menolaknya bahkan selalu membentakku. Sangat aneh bukan?"


"Ya, itu sangatlah aneh." gerutu Vallen sambil mengerutkan keningnya.


"Rayhan, aku jadi memiliki pikiran buruk pada Inara. Apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?"


"Ya, aku sudah lama memiliki pemikiran seperti itu, hanya saja aku sudah lelah berdebat dan bertengkar dengan Inara. Apalagi saat ini pikirkan dan tenagaku tercurah pada Amanda."


"Apa kau mau kubantu?" tanya Vallen sambil tersenyum nakal.


"Kau mau membantuku?"


"Tentu saja."


"Kau mau berbuat apa sayang?" tanya Firman karena melihat Vallen yang tersenyum dengan sangat nakal.


"Hanya sedikit pelajaran, Firman." kata Vallen sambil terkekeh. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Rayhan.


"Ray, besok malam bawa istrimu makan malam di apartemenku."


"Makan malam?"

__ADS_1


"Ya, makan malam." jawab Vallen sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2