
"Tentang Amanda? Ada apa dengan Amanda?" tanya Vallen dengan tatapan curiga.
"Jangan berfikir yang macam-macam Vallen, aku tidak mungkin mencintai wanita lain. Kau tahu sendiri jika satu-satunya wanita yang kucintai hanya Stella."
"Ya ya aku tahu itu."
"Ini ruang operasi, kita jangan berbicara disini, kita bicara di ruanganku saja."
Vallen lalu menganggukkan kepalanya, dia kemudian bergegas keluar dari ruang operasi lalu berjalan di belakang David menuju ke ruangannya.
"Kak aku tidak punya banyak waktu, hari ini aku punya banyak janji dengan pasienku. Cepat katakan apa maumu. Kesepakatan apa yang kau maksud?"
"Kesepakatan untuk saling membantu satu sama lain, jika kau mau membantuku maka aku akan membantu hubunganmu dengan kekasihmu itu."
"Membantu hubunganku dengan Firman?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak usah berpura-pura bodoh, Vallen. Dia berasal dari desa kan?"
"Ya."
"Dia hanya seorang karyawan biasa kan?"
"Ya."
"Lalu dia seorang duda kan?"
"IYAAAA KAK DAVIDDDD!!! CEPAT KATAKAN SAJA!!!"
"Hahahaha, sabar Vallen. Hahahaha."
"Cepat!!"
"Kau tahu kan bagaimana sifat mama? Apa kau yakin mama mau menerima Firman dengan tangan terbuka?"
Vallen lalu menggelengkan kepalanya.
"Jika kau mau membantuku, aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkan restu dari mama sampai kalian menikah. Aku janji akan menikahkan kalian."
"Benarkah? Kau akan membantuku sampai kami menikah?"
"Ya sampai kalian menikah, aku janji akan menikahkan kalian tapi kau juga harus membantuku."
"Baiklah kalau begitu, aku akan melakukan apapun perintahmu, asalkan kau benar-benar menepati janjimu untuk membantuku agar bisa menikah dengan Firman."
"Ya, tentu saja. Dengarkan aku sekali lagi, aku akan membantumu agar bisa menikah dengan Firman."
"BAIKKKK KAKKKK!!" jawab Vallen dengan raut wajah berbinar. David pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Benar-benar memalukan." gerutu David.
"Sekarang cepat katakan apa yang harus kulakukan."
__ADS_1
"Vallen dengarkan aku. Saat kemarin Amanda datang ke rumah sakit ini, kondisinya sungguh memprihatinkan. Aku bahkan sempat berfikir selama ini dia tidak mengalami pengobatan sama sekali. Tapi anehnya dia mengatakan padaku jika dia selalu melakukan kontrol rutin dengan Dokter Anwar, dia juga rutin melakukan kontrol kandungan dengan Dokter Jeni."
"Lalu kenapa kondisi jantungnya sudah sangat parah jika dia rutin melakukan kontrol ke dokter Anwar?"
"Ya, karena itulah aku curiga padanya. Lalu aku pun melakukan tes laboratorium, dan kau tahu jika aku menemukan kandungan obat pelemah jantung dalam dosis yang cukup besar ada di dalam tubuhnya. Anehnya dokter kandungannya pun juga tidak mengatakan apapun pada Amanda, padahal itu sangat membahayakan bagi kondisi janinnya."
"ASTAGA!!! Jadi menurutmu Dokter Anwar dan Dokter Jeni bekerja sama dengan seseorang yang ingin menyakiti Amanda?"
"Iya Vallen, dan kemungkinan orang itu adalah suami Amanda sendiri."
"Apa??? Suaminya? Ba.. Bagaimana mungkin?"
"Ya, itulah kenyataannya. Dia seorang yatim piatu, sejak kecil dia sudah dititipkan pada teman ayahnya. Lalu dia menikah dengan anak dari teman ayahnya tersebut. Kemungkinan suaminya melakukan semua itu untuk merebut perusahaan milik Amanda."
"Astaga jahat sekali, untungnya Firman bukan orang yang seperti itu, dia sangat mencintai diriku."
"Vallen, kita sedang berbicara tentang Amanda tapi kenapa kau masih menyebut nama laki-laki itu? Kau seperti orang gila saja. Oh iya aku ingat sekarang, apakah laki-laki itu yang membuatmu seperti orang gila saat kita ke Anyer?"
Vallen pun mengangguk dengan cepat sambil tersenyum.
"Astaga kenapa aku harus memiliki adik seperti ini." kata David sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Kak, aku terlanjur jadi adikmu jika aku boleh memilih aku juga tidak ingin memiliki kakak seperti dirimu yang sangat kaku dan serius. Sekarang cepat katakan saja apa rencanamu?"
"Begini Vallen, aku yakin suami Amanda, Abimana pasti tidak akan tinggal diam."
"Ya, aku pun memiliki pemikiran yang sama denganmu, jadi kau memintaku untuk ikut menjaga Amanda agar Abimana tidak bisa berbuat jahat padanya?"
"Tapi aku yakin koma yang dialami Amanda tidak berlangsung lama, aku pernah menemukan kasus seperti Amanda saat masih melakukan co *** di London tapi kondisinya sedikit lebih parah dibandingkan Amanda, dan dia mengalami koma kurang lebih selama tiga bulan."
"Jadi menurutmu, dia bisa sadar dari komanya dalam waktu dekat?"
"Tadi sudah kukatakan padamu kemungkinan dia mengalami koma beberapa minggu saja, tapi itu hanya dugaanku saja. Yang terpenting kita tetap harus mengontrol keadaan Amanda."
"Ya, kita harus melakukan itu dengan pengawasan yang ketat."
"Lalu bagaimana dengan kedua dokter itu? Apakah kau akan memberinya pelajaran?"
"Tentu saja, tapi aku belum memiliki banyak bukti."
"Jadi kau meminta bantuanku untuk mendapatkan bukti kecurangan yang mereka lakukan?"
"Ya, tepat sekali. Kau tahu sendiri aku begitu sibuk Vallen, aku tidak bisa sebebas dirimu dalam mengawasi gerak-gerik dokter yang ada di rumah sakit ini. Bagaimana kau mau kan?"
Vallen pun tampak berfikir.
"Apa kau sudah lupa? Aku berjanji akan menikahkanmu dengan Firman. Sekali lagi menikah dengan Firman."
"IYA IYA IYA AKU MAU KAKKKKKK!!"
"Astaga apakah aku harus menyebutkan nama itu dulu agar kau bersemangat." kata sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Tapi, kenapa kau mau melakukan semua ini?"
David pun tersenyum. "Karena aku begitu membenci seorang dokter yang melanggar kode etik kedokteran, tugas seorang dokter adalah menyelamatkan nyawa pasiennya, bukan membahayakan nyawa pasiennya. Aku juga tidak mau rumah sakit ini kotor karena perbuatan mereka. Perbuatan yang sangat menjijikkan."
"Bagus sekali Kak, ternyata kau orang yang baik."
"Hanya kau yang menganggapku jahat, Vallen!"
"Hahahaha."
Saat Vallen sedang tertawa mendengar perkataan David tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Vallen kemudian melihat panggilan itu.
"Kak, ini panggilan dari ruang perawatan bayi, apakah ada sesuatu dengan bayi yang baru dilahirkan oleh Amanda?"
"Lebih baik kau angkat saja."
"Iya."
[Halo Dokter Vallen.]
[Iya ada apa suster?]
[Suami dari Nyonya Amanda, dia ingin bertemu dengan anda. Dia sekarang sedang menunggu anda.]
[Oh iya sebentar, aku akan ke sana.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan telepon itu. Dia kemudian memandang David yang duduk di depannya.
"Sepertinya permainan akan segera dimulai Kak."
"Apa maksudmu?"
"Abimana, saat ini Abimana sedang menungguku di ruang perawatan bayi. Dia ingin berbicara sesuatu padaku."
"Hati-hati Vallen, bisa saja dia ingin mencelakai bayi itu."
"Ya, aku juga berfikiran seperti itu."
"Lebih baik kau cepat temui dia sekarang, dan jangan sampai lengah."
"Iya Kak, aku pergi dulu." kata Vallen kemudian pergi dari ruangan David.
💜💜💜💜💜
Abimana tampak mengamati seorang bayi yang sedang mengeliat hingga mukanya pun tampak memerah.
"Putraku, putra kecilku, darah dagingku, tapi sayangnya nasibmu kurang beruntung Nak. Aku sangat tidak menginginkan kehadiranmu, bahkan aku begitu membencimu karena kau dilahirkan dari rahim wanita yang sangat kubenci. Wanita yang telah merebut kasih sayang kedua orang tuaku sejak kecil, wanita yang merampas kebahagiaanku itulah ibumu, Nak. Sekarang aku akan merampas semua yang dimiliki oleh ibumu dan itu termasuk dirimu, karena aku akan membuangmu sejauh mungkin. Hahahaha."
NOTE:
Yang belum kenal Vallen, karakter Vallen itu absurd biarpun dia seorang dokter.
Update novel ini dan novel sebelah jalan ceritanya aku samakan ya biar ga saling mendahului.
__ADS_1