
Alexsa mendekati Ken yang masih menutup mata, dia duduk di sebelah Ken barbaring.
Alexsa mengusap rambut Ken pelan, tiba-tiba Ken membuka mata dan membuat Alexsa terperanjak keget.
“ Ken…. Kamu ngangetin aja ” Ucap Alexsa mencubit Ken pelan.
“ Hahaha kamu khawatir sekali sama saya” ucap Ken tersenyum memainkan mata pada Alexsa.
“ Hm… bapakkan atasan saya “ kata Alexsa menutupi wajahnya yang merona.
“ Saya baik-baik saja, punggungku yang masih terasa sakit” ucap Ken sambil duduk dan menggerakkan punggungnya yang terhantam balok tadi.
“ Biar saya bantu pak” ucap Alexsa membantu Ken untuk duduk.
“ Aduh,,,, pelan..” rintih Ken kesakitan.
“ Maaf pak”kata Alexsa menahan tawa.
Pintu di buka dari luar ternyata seorang perawat membawakan obat.
“ Ini ada obat untuk menguragi rasa nyeri suami ibu” ucapnya memberikan beberapa obat pada Alexsa.
“ Baik terimakasih mbak” ucap Alexsa mengambil obat yang di berikan perawat itu.
“ Saya permisi” katanya dan keluar.
“ Wah sekarang kamu uda ngaku-ngaku jadi istri saya” kata Ken tersenyum melirik Alexsa.
“ Saya sama sekali tidak ngaku-ngaku jadi istri bapak. Perawatnya yang langsung ambil kesimpulan bapak suami saya” kata Alexsa tidak terima dengan tuduhan Ken.
“ Itu pasti karena perawat itu liat kamu panik serasa kehilangan suami” ucap Ken membuat Alexsa hanya diam sebentar.
“ Uda pak, ini obatnya di minum dulu” kata Alexsa berjalan mendekati Ken dan membantunya minum obat.
“ Drert…. Dret… “ dering handpone Alexsa dari tas yang sedari tadi tergantung di lengannya.
Buru-buru Alexsa mengambil ponsel yang ada di tas ternyata panggilan telepon dari Rama.
“ Iya pak Rama?” ucap Alexsa membuka percakapan sambil meletakkan gelas berisi air putih Ken.
“ Al... kalian dimana rapat sudah hampir mulai. Kemana pak Ken? Dari tadi saya telpon tapi tidak di angkat?” ucap Rama.
Belum sempat menjawab Ken memegang tangan Alexsa seakan meminta handpone agar dia bicara dengan Rama. Alexsa langsung paham dan memberikan ponselnya pada Ken.
“ Halo Ram, ini gue sama Al masih di proyek bentar lagi kita ke sana. “ ucap Ken langsung mematikan sambungan.
“ Bapak yakin kita kesana ? bapak belum pulih” ucap Alexsa mengingatkan.
“ Saya sudah baik-baik lagian ada kamu” ucap Ken tersenyum pada Alexsa dan mengembalikan ponselnya.
Alexsa mengambil ponselnya dari tangan Ken dan hendak memanggil perawat untuk membuka infus yang cairannya masih hampir penuh.
Karena ruanggannya tidak begitu jauh Alexsa datang bersama perawat itu sambil membawa perlengkapan.
“ Bapak yakin infusnya di buka?” tanya perawat memastikan.
“ Iya,,, saya masih ada pekerjaan yang penting” jawab Ken.
“ Wah suami ibu sangat pekerja keras” puji perawat tersenyum pada Alexsa yang berdiri di samping ranjang Ken.
__ADS_1
“ Maaf mbak saya bukan istrinya” ucap Alexsa akhirnya.
“ Tapi kalian sangat cocok yang satu tampan dan satu lagi cantik” kata perawat yang dari wajahnya berusia 30 tahun. Menoleh pada Ken dan Alexsa bergantian. Ken tersenyum mendengar ucapan perawat itu.
“ Yah sudah saya akan buka selang infusnya” ucapnya kemudian dan berjalan ke sebelah tangan Ken yang di infus.
Ken menggenggam tangan Alexsa dengan tangan satu lagi.
“ Bapak takut jarum suntik?” tanya Alexsa tersenyum licik.
Ken hanya mengangguk mengiyakan.
“ Gagah tapi takut jarum” sindir Alexsa terseyum.
Perawat mulai membuka perban dan membuka infus pelan-pelan.
Melihat wajah Ken yang berubah seperti ketakutan Alexsa mengusap tangan Ken mengalihkan perhatiannya.
“ Sudah selesai, bapak bisa pulang” ucap perawat itu.
“ Terimakasih” kata Ken sambil melihat bekas jarum infus tadi.
“ Mari saya bantu pak” Alexsa membantu Ken untuk menggunakan sepatu yang terletak di lantai.
“ Tidak Al saya bisa” tolaknya tidak ingin Wanita yang dia cintai melakukan itu.
Tapi Alexsa sama sekali tidak peduli dia tetap membantu Ken.
Perawat itu hanya tersenyum geleng-gelang melihat tingkah mereka.
“ Maaf saya merepotkan kamu” ucap Ken tidak enak hati.
“ Ini untuk ibu” ucap Ken memberikan uang pada Perawat yang sudah membantunya.
“ Tidak perlu pak, pelayanan disini gratis” tolak perawat itu.
“ Ibu anggap saja sebagai terimakasih saya” ucap Ken menyodorkan.
“ Terimaksih bapak, semoga kalian berjodoh” ucap perawat itu akhirnya mengambil pemberian Ken.
Mekera berjalan menuju parkiran yang tepat di depan ruangan itu.
“ Biar saya yang mengemudi Pak” kata Alexsa membuka pintu mobil sebelah pengemudi.
“ Biar saya saja Al, saya sudah baik-baik saya” kata Ken bersikeras.
“ Kalo bapak yang mengemudi saya tidak ikut” ancam Alexsa.
“ Oke kamu yang mengemudi” ucap Ken pasrah.
Sebenarnya punggung Ken sudah tidak begitu sakit, tapi melihat Alexsa yang sangat khawatir Ken memilih berpura-pura.
Alexsa mengemudi menuju salah satu hotel untuk rapat hari ini jaraknya tidak begitu jauh dari puskesmas. Ken mengarahkan jalan yang sudah biasa dia pergi bersama Rama. 10 menit kemudian mereka sudah sampai di hotel, Alexsa memarkirkan mobil di bantu satpam yang sedang bertudas.
“ Sebentar saya bukakan pintu untuk bapak” ucap Alexsa cepat-cepat keluar.
Tidak lupa Ken juga memakai jas yang sempat dia titipkan pada Alexsa sebelum tertimpa balok.
“ Saya sudah baik-baik saya Al, “ kata Ken menyakinkan.
__ADS_1
Ken turun dari mobil dengan gerakan pelan-pelan.
Alexsa merapikan dasi Ken yang sedikit berantakan.
Ken di buat gugup melihat wajah mereka begitu dekat.
“ Makasih Al” kata Ken sambil berjalan masuk ke hotel.
Rapat segera di mulai setelah Ken datang, tapi sejak rapat di mulai Ken tampak begitu gelisah.
“ Bapak baik-baik saja?” tanya Alexsa sedikit berbisik.
Ken hanya menggangguk mengiyakan pada Alexsa dan mencoba fokus pada rapat.
Akhirnya rapat selesai Ken duduk di restoran untuk makan siang.
“ Punggung saya sangat perih ” keluh Ken pada Alexsa.
“ Saya tidak mungkin mengecek disini pak” ucap Alexsa kasihan.
“ Lalu gimana? Tolong pesan kamar “ perintah Ken membuat mata Alexsa melotot.
“ Heh kenapa kamu liatin saya seperti itu, saya tidak secabul itu” ucap Ken memahami tatapan maut Alexsa.
“ Saya tidak mungkin buka baju saya disini” ucap Ken menjelaskan.
“ Sebentar saya pesan dulu kamarnya” ucap Alexsa dan berjalan menuju resepsionis.
Setelah mendapat kamar Ken langsung menuju kamar sendiri dan Alexsa menunggu di restoran.
Ken segera membuka kemeja biru laut dan tampak punggung kekar Ken memerah dan sedikit darah.
Ken segera menghubungi Alexsa,
“ Punggung saya lecet dan ada sedikit darah pantes pedih” ucap Ken.
Alexsa langsung mematikan sambungan telepon.
Karena Alexsa sudah tau kamar Ken dia langsung berjalan kesana.
Tok… tok…
Pintu langsung di buka dari luar ternyata Alexsa.
Ken kaget melihat kedatangan Alexsa apalagi dia masih bertelanjang dada.
“ Maaf pak saya ga sopan” ucap Alexsa.
“ Saya mau bantu bapak kasih salep yang sudah saya minta dari pihak hotel tadi” ucap Alexsa menunjukkan selep putih di tangannya.
“ Makasih Al lagi-lagi saya harus merepotkan kamu” kata Ken tidak enak hati.
Alexsa mendekat dan mengoleskan salep pelan-pelan ke luka Ken yang sebenarnya tidak begitu banyak.
Alexsa terpana melihat kulit dan otot Ken yang kekar.
“ Pelann…” teriak Ken membuat Alexsa sedikit kaget.
“ Maaf maaf pak” ucap Alexsa sambil meniup luka Ken lembut.
__ADS_1