
Di rumah sakit Dikki yang sudah mengetahui ada pendonor untuk istrinya mulai bertanya kepada pihak rumah sakit siapa yang sudah dengan suka rela membantu.
Dikki mengikuti langkah suster yang baru saja membersihkan Aulia.
“ Sus,,, ada yang ingin saya tanyakan,” ucap Dikki mengikuti langkah wanita berpakaian putih itu.
“ Ada apa pak Dikki? “ tanya suster yang belum sempat keluar dari ruangan.
“ Saya ingin tahu siapa yang sudah mendonorkan darah pada istri saya?” ucap Dikki dengan suara hati-hati.
Suster kemudian meletakan baskom bekas membersihkan Aulia.
“ Maaf pak kami tidak bisa memberi tahu bapak, karena permintaan beliau untuk merahasiakannya” jawab suster dengan wajah datar.
“ Tapi saya suami pasien sus,,,” kata Dikki ingin tahu yang sebenarnya.
“ Sekali lagi saya minta maaf pak Dikki, kami tidak bisa memberi tahu siapa pun identitas yang sudah mendonorkan darah kepada istri pak” jawab suster bersiap untuk pergi.
“ Saya berhak tau sus,,,” kata Dikki masih bersikeras mendesak suster.
Kali ini suster hanya diam dan membuka pintu bersiap untuk meninggalkan ruangan tempat Aulia di rawat.
Melihat suster yang pergi begitu saja, kini Dikki berbalik menatap istrinya yang berbaring lemak karena ulahnya. Dia berjalan mendekati Aulia dan duduk memegang tangannya yang tersambung dengan selang infus.
“ Sayang,,, aku minta maaf selama ini hanya bisa buat kamu sedih” ucap Dikki merasa sangat bersalah kepada sang istri yang selama ini sangat mencintai dia.
“ Gimana kalo nanti dia cerita sama papa dan mama penyebab dia jatuh” batin Dikki seketika mengingat kejadian itu.
Dikki menghela nafas panjang dan menatap wajah Aulia.
“ Aku ga mau kehilangan ini semua terutama kamu” kata Dikki khawatir semua kemewahan yang dia rasakan akan terampas setelah papa mama Aulia tau kebohongan Dikki.
Beberapa hari kemudian Aulia semakin membaik dan Dikki tidak pernah meninggalkan Aulia.
“ Dik… kamu pulang dulu biar mama yang temani Aulia” ucap mama Aulia yang baru saja datang bersama asistennya.
“ Tapi ma saya mau temani Aulia aja disini, dia pasti butuh saya disini “ jawab Dikki tanpa sedikit pun berpaling dari Aulia.
“ Lihat penampilan kamu, kamu pulang dulu nanti mama yang akan jaga disini” ucap mama Aulia karena sudah beberapa hari Dikki tidak berganti pakaian karena menemani Aulia di rumah sakit.
__ADS_1
Dikki menghela nafas kemudian mengusap wajah Aulia lembut.
“ Sayang… aku pulang dulu ya,,, ada mama yang akan nemenin kamu disini” kata Dikki dan mencium pipinya.
“ Suruh Asep antar Dikki “ perintah mama Aulia pada asistennya.
“ Baik nyonya” cepat-cepat dia keluar kemudian meninggalkan mereka, Dikki juga mengikuti langkah asisten mama Aulia.
Saat berjalan Dikki tidak sengaja melihat Dini berjalan bersama Nabila menuju parkiran.
“ Nabila,,,” ucap Dikki mempercepat langkah mengikuti Dini dan Aulia.
“ Di sini pak” ucap asisten menunjukkan mobil mama Aulia.
Dikki hanya bisa mengikuti asistem mama Aulia menuju tempat mobil parkir. Mobil hitam milik mama Aulia mulai meninggalkan area rumah sakit.
“ Pak,,, saya izin mampir isi bensin” kata supir melihat bensin yang sudah mulai habis.
“ Yah,,, silahkan “ jawab Dikki kemudian membuka handphone mencoba menghubungi sahabatnya Riswan. Dikki masih saja memikirkan pertemuannya dengan Nabila dan Dini tadi.
“ Halo wan… “ kata Dikki setelah sambungan telepon tersambung.
“ Sialan lo,,, yah masih hiduplah? Dimana sekarang?” tanya Dikki sambil bersandar dengan nyaman menatap jalanan ibukota yang begitu macet.
“ Lagi di kantor, lo apa kabar?” tanya Riswan balik bertanya.
“ Baik gue,,, “ jawab Dikki kemudian.
“ Ada apa nih? Ga biasanya nelpon gue” kata Riswan yang sebenarnya sedang sibuk di kantor.
“ Gue mau cerita Wan, bisa ga kita ketemu di café dekat kantor lama” tanya Dikki yang saat ini butuh teman cerita.
“ Hm.. sebenarnya gue sibuk Dik,, tapi karena lo sahabat gue yah uda. Jam makan siang kita ketemu disana” kata Riswan menatap layar computer.
“ Yah uda sampai jumpa nanti Wan…” ucap Dikki kemudian menutup telepon.
Sesampainya di café tempat Dikki dan Riswan janjian dengan wajah lesu dan pakaian berbeda Dikki duduk di salah satu meja.
“ Ada masalah apa lagi? Lo ingat sama gue pas ada masalah aja” kata Riswan menepuk pundak Dikki.
__ADS_1
Melihat sahabatnya yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri, Dikki langsung bangkit dan memeluk Riswan.
“ Ada apa Dik? Ada masalah apa lagi? “ tanya Riswan melihat kondisi Dikki yang tidak baik-baik aja.
“ Istri gue masuk rumah sakit Wan, ini semua karna gue” ucap Dikki kemudian melepas pelukannya dan kembali duduk di ikuti Riswan.
“ Maksudnya gimana? Gue ga paham Dik, coba lo cerita dari awal kenapa sampai Aulia masuk rumah sakit?” tanya Riswa kemudian meletakkan handphone dan kunci di atas meja.
“ Aulia uda tau gue punya anak Wan” jawab Dikki sambil menghela nafas panjang.
“ Hah… anak maksud lo gimana? Anak Alexsa itu anak lo sama dia?” tanya Riswan yang masih belum paham yang sebenarnya.
“ Iya Wan… pertama kali gue lihat anak itu gue langsung ngerasa berbeda,” kata Dikki menambahkan.
Flashback on
5 tahun yang lalu
“ Lo mabuk Dik?” tanya Riswan yang baru saja kembali dari kantor.
“ Gue stress Wan, Alexsa hamil gue uda gugurin kandungan,,, itu anak gue” jawab Dikki sambil meneguk minuman keras kesekian botol.
“ Hah… hamil? Gila lo Dik” kata Riswan yang masih belum percaya teman baiknya melakukan itu.
“ Iya Wan,,, padahal gue ngelakuin itu hanya sekali” ucap Dikki sambil meletakkan botol berisi minuman keras yang sudah hampir habis.
“ Trus sekarang lo mau gugurin bayi yang ga ada salah itu? Lo mikir ga sih Dik,,, lo uda ngerusak dia sekarang dengan enak lo suruh di gugurin kandungan itu ” kata Riswan dengan suara meninggi.
“ Gue belom siap jadi bapak Wan, “ jawab Dikki sudah setengah sadar pengaruh minuman keras yang dia minum.
“ Dik lo bisa bahayain nyawa pacar lo? Alexsa bisa mati “ kata Riswan sambil melempar jaket Dikki yang ada di atas sofa.
“ Habis mau gimana lagi Wan,, gue terpaksa ngelakuin ini semua. Gue uda kasih Alexsa minum obat penggugur kandungan” kata Dikki kemudian mengambil minuman keras dan meneguknya.
“ Ga waras lo Dik,,, bangsat lo” ucap Riswan atas perbuatan sahabatnya yang sudah kurang ajar.
" Kalo sampe Alexsa kenapa-kenapa bisa masuk penjara lo Dik " ucap Riswan memukul kepala Dikki membuat Dikki meringis kesakitan.
" Perempuan sebaik Alexsa lo rusak begitu aja, sekarang lo main tinggal gitu aja? ga ada otak lo dik. Lo punya adik perempuan gimana kalo adek lo ada di posisi Alexsa" kata Riswan yang sudah begitu marah dengan perbuatan Dikki
__ADS_1
Flashback off