
“ Halo Din…” ucap Nabila setelah panggilan telepon di terima Dini.
“ Maaf Bil,,, ini ada pasienku yang kritis “ ucap Dini tampak panik.
“ Jadi gimana? Kamu masih lama?” tanya Nabila lagi sambil menoleh pada Alexsa yang masih nunggu jawaban.
“ Hm,,,, aku kayaknya nyusul aja Bil,,, aku mau nyari darah golongan B ” kata Dini sebenarnya tidak tega karena sudah berjanji sebelumnya tapi karena pekerjaan harus di lakukan.
“ Yah uda deh,,,” kata Nabila mematikan sambungan telepon dengan suara ikut kecewa.
“ Gimana dok keadaan istri saya?” kata seorang laki-laki yang pakainya berlumuran darah.
Dini seperti tidak asing dengan wajah laki-laki yang ada di hadapannya.
“ Dia…” ucap Dini sambil berpikir keras.
“ Dikki..” ucap Dini setalah berpikir keras mengingat wajah itu karena dulu Dikki sering membeli obat saat Dini masih bekerja di apotik dekat apertemen tempat tinggal Alexsa dimana kejadian malam itu.
“ Jadi Wanita yang sekarat di dalam itu istri manusia kurang ajar ini” ucap Dini rasa kasihan tadi berubah menjadi dendam yang sudah lama dia pendam.
“ Pasien kehilangan darah sangat banyak dan stok darah golongan B di rumah sakit kami sedang sedang kosong.” Jawab dokter berpakaian putih itu keluar dari ruangan Aulia.
“ Mertua saya sedang di luar kota dok, golongan darah saya A” jawab Dikki frustasi.
“ Kami sarankan bapak secepatnya mencari pendonor sebelum semua terlambat” kata dokter.
Ucapan dokter seperti sambaran petir di siang hari untuk Dikki.
“ Saya akan mencari dok” kata Dikki dan pergi untuk mencari darah untuk sang istri.
Dret,,, ponsel Dini kembali berdering ternyata panggilan telepon dari Alexsa.
“ Alexsa..” ucap Dini sambil mengangkat telepon dan mengarahkan ponsel ke telinganya.
“ Ada apa Al?” tanya Dini sambil duduk karena lelah bekerja dari semalam.
__ADS_1
“ Aku di lantai lima kamu dimana?” tanya Alexsa yang baru saja keluar dari lift.
“ Ha,,, kamu mau ngapain?” tanya Dini sambil melihat ke arah lift ternyata benar Alexsa ada di sana.
Alexsa langsung berjalan lebih cepat untuk menemui Dini.
“ Kamu mau ngapain?” tanya Dini sambil memeluk sahabatnya.
“ Tadi Nabila bilang kamu cari pendonor darah B. nih ambil aja aku udah lama mau donorin darah” kata Alexsa dengan polos sambil mengulurkan tangan.
“ Kamu baik banget sih Al,,,” ucap Dini memegang tangan Alexsa.
“ Tapi Al” kembali Dini mengingat perlakuan Dikki dulu kepadanya.
“ Kenapa? Kamu takut aku ga sehat? Aku sehat kok” jawab Alexsa yang belum tahu kalau orang yang dia akan tolong adalah istri dari Dikki.
“ Sini kamu duduk dulu, ada yang perlu aku jelasin” ucap Dini menarik tangan Alexsa duduk di sebelahnya.
“ Aku bingung jelasin dari mana” kata Dini mencoba berpikir keras.
“ Pasien aku yang sekarat itu ,” kalimat Dini terhenti sejenak.
“ Dia istri Dikki Al mantan pacar kamu” ucap Dini akhirnya jujur sambil menatap mata Alexsa dalam.
Tapi respon Alexsa jauh dari eskpetasi Dini.
“ Siapa pun dia aku mau donorin darahku Din, sekalipun dia istri Dikki” jawab Alexsa seakan dia baik-baik saja.
Dini sejenak terdiam mendengar jawaban Alexsa barusan.
“ Kamu luar bisa Al ,,, padahal dia uda sangat jahat sama kamu ” kata Dini bangga punya sahabat sehebat Alexsa.
“ Lagian Wanita itu ga salah apa-apa” ucap Alexsa lagi tersenyum kecil.
“ Yah uda kalo kamu sudah yakin untuk keputusan yang kamu ambil, aku akan siapkan semua dan kamu harus di cek dulu” kata Dini dan membawa Alexsa ke lab.
__ADS_1
Setelah beberapa lama akhirnya Alexsa bisa mendonorkan darahnya untuk Aulia yang sudah keadaan sekarat.
“ Aku mau masuk sebentar boleh” tanya Alexsa melihat Aulia dari balik kaca yanga terbaring lemah di tempat tidur terbalut perban dan alat-alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
Dini mengangguk dan menemani Alexsa untuk masuk ke ruangan itu.
Alexsa masuk dengan langkah pelan dan kini matanya tertuju pada Aulia yang masih menutup mata.
“ Aku ga kenal dan ga tahu siapa kamu tapi aku berharap kamu cepat sadar,” kata Alexsa menyentuh tangan Aulia lembut.
“ Semoga darah yang aku kasih bisa berguna buat kamu” ucap Alexsa lagi tersenyum tulus.
“ Aku yakin kamu pasti kuat” ungkap Alexsa terakhir dan berjalan hendak keluar.
“ Kamu bodoh Dik lepas Wanita sebaik Alexsa” batin Dini mengikuti langkah Alexsa keluar.
“ Yah uda kita langsung nyusul mereka ya” kata Dini setelah keluar dari ruangan.
“ Mereka pasti uda bosan” kata Dini lagi mengingat Nabila dan yang lain.
“ Aku suruh mereka nunggu di café” jawab Alexsa melihat bekas jarum tadi.
“ Kamu harus minum vitamin ya Al” pasan Dini tidak ingin Alexsa kenapa-napa.
“ iya… aman Din” jawab Alexsa tersenyum.
“ Janji ya jangan kasih tahu mereka kalo aku yang mendonorkan darah untuk istri Dikki” kata Alexsa mengingatkan tidak ingin Dikki mengetahui dialah yang mendonorkan darahnya.
“ Iya,,, aku uda ngomong ke mereka “ jawab Dini.
Alexsa dan Dini langsung menaiki taksi menuju cafe di mana Nabila dan Mona menunggu.
" Ah... ga sabar liat kamu pake baju pengantin" kata Dini setelah masuk ke dalam taksi.
Alexsa hanya tersenyum malu-malu.
__ADS_1
" Aku doain kamu sama Nabila secepatnya menyusul" jawab Alexsa menggenggam tangan Dini
" Amin ,,,," kata Dini antusias.