
POV Dikki Kelvin
Sejak dua minggu lalu aku bertemu Alexsa di mall tidur malamku tidak pernah tenang, aku selalu memikirkan apakah anak yang ada bersama Alexsa itu adalah darah dagingku.
“ Sayang,,, ini kopinya” kata Aulia memberikanku segelas kopi seperti biasa.
“ Makasih sayang, “ ucapku meraih kopi dari tangan istriku dan meletakkannya di hadapanku.
“ Mama suruh kita ke dokter lagi” ucap Aulia pelan.
Seketika tatapan mataku langsung berubah padanya, rasanya setelah menikah dengan Aulia hidupku penuh dengan aturan dari orangtuanya.
“ Kamu ga capek ke dokter terus?” tanyaku menatap ke luar jendela.
“ Sayang,,, aku juga lelah di tanya kapan punya anak, kamukan tahu aku anak satu-satunya jadi harapan mama sama papa hanya sama aku” kata Aulia sudah sekian kalinya aku dan dia harus berdebat karena ini.
“ Aku kayak ga punya harga diri jadi suami kamu” ucapku bangkit berdiri hendak pergi untuk meninggalkan Aulia.
“ Sayang kamu mau kemana?” tanya Aulia ikut berdiri.
“ Lebih bagus aku ke restoran di rumah mumet yang dibahas tiap hari hanya anak anak dan anak” ucapku meraih kunci mobil dan pergi begitu saja.
Aku keluar dan membanting pintu cukup kuat dan langsung masuk ke dalam mobil mengemudi menuju restoran milikku dan Aulia pemberian orangtuanya.
“ Ah…..” aku membanting setir mobil kuat.
Sesampainya di restoran aku langsung duduk di salah satu meja yang menjadi tempat favoritku dan belum lama duduk seorang laki-laki berpakaian rapi datang menghampiriku.
“ Dikki,,,” katanya menunjukku dengan suara ragu-ragu.
Aku memutar kepala mencari sumber suara ternyata di sebelahku aku menatapnya mengingat siapa dia.
“ Burhan..” ucapku setelah mengingat laki-laki yang duduk tidak begitu jauh.
Aku langsung berdiri dan mendekatinya, Burhan adalah teman baikku dulu saat bekerja di perusaan dan bersama Alexsa juga.
“ Wah,,,, lama tidak bertemu,,, kamu apa kabar?” ucapku bersalaman dengan Burhan.
“ Baik Dik,,, kamu sendiri gimana? Lama ngilang kamu” ucap Burhan menepuk lenganku pelan karena kami sangat dekat dulu.
__ADS_1
“ Iya dulu aku buka usaha kecil-kecilan” jawabku berbohong karena yang sebenarnya aku menghilang karena menghindari Alexsa.
“ Oh,,, bagitu rupanya, jadi gimana? Kau sudah menikah?” tanya Burhan lagi dan aku ikut duduk di depannya.
“ Iya Aku uda menikah” jawabku tersenyum kecil.
“ Oh,,, yang pasti bukan sama Alexsa kan?” katanya seperti nada mengejek. Kenapa dia berkata begitu.
“ Aku ga paham maksud kamu?” tanyaku belum mengerti maksud perkataan Burhan.
“ Yah ga mungkin aja lo sama Alexsa secara dia baru aja di lamar” katanya sambil terus makan.
“ Ha… Dilamar? Jadi dia belum menikah?” tanyaku semakin penasaran yang berkaitan dengan Alexsa.
“ Satu minggu lalu dia di lamar sama CEO perusaan Mahasa Abadi, kebetulan gue ikut di undang di acara itu” kata Burhan menjelaskan.
“ C…E…O” ucapku sedikit terbata-bata.
“ Iya… mereka baru saja merayakan kesuksesan perusaan mereka dan sekaligus acara lamaran” tambah Burhan lagi.
“ Lo gimana sih,,, ga tau mantan lo” ucap Burhan.
“ Trus lo kesini sama siapa?” tanya Burhan lagi.
“ Iya kebetulan ini restoran punya gue, karena lo teman baik gue. Lo bisa makan sepuasnya tanpa bayar” kataku karena Burhan membawa jawaban dari semua pertanyaanku selama ini.
“ Wah,,, serius?” kata Burhan tidak percaya.
“ iya… sebelum gue berubah pikiran “ kataku dan tersenyum.
“ Yah uda lanjut makannya nanti gue bilangin sama pegawai” kataku dan bangkit berdiri menuju kasir.
“ Meja yang itu kasih makanan yang banyak dan ingat jangan minta uang sepeserpun” kataku pada pegawai yang sedang berjaga di kasir.
“ Baik pak..” jawabnya paham.
“ Han… gue duluan” ucapku melambaikan tangan kepada Burhan.
Burhan terenyum dan menunjukkan jempolnya.
__ADS_1
Segera aku keluar dan masuk ke dalam mobil menuju perusahaan Mahesa Abadi yang sudah cukup terkenal. Aku meneyetir mobil dengan kecepatan sedang karena keadaan jalan saat itu cukup ramai.
“ Aku harus mendapatkan jawaban dari Alexsa” ucapku dengan yakin.
Hampir 1 jam aku di perjalanan dan akhirnya sampai di perusaan besar yang dikatakan Burhan tadi.
“ Alexsa memang hebat memilih calon suami” batinku berdesis.
Belum sempat masuk aku melihat mobil hitam yang harganya mahal keluar dan aku cukup jelas melihat Alexsa duduk di sana.
“ Aku harus mengikuti mereka” kataku sambil mengikuti mobil yang baru saja keluar dari gedung besar itu.
***
Akhirnya mobil itu berhenti di salah satu gedung besar dan tertulis WEDDING DRESS.
“ Sepertinya mereka akan fitting baju pernikahan” kataku yakin dan tidak lama seorang laki-laki yang sebelumnya aku temui bersama Alexsa di lift.
Dia membukakan pintu untuk Alexsa dan tidak lama Alexsa keluar dan laki-laki itu membantunya.
Jujur aku marasakan cemburu meskipun masa lalu kami tidak baik-baik saja.
Mereka berjalan masuk dan laki-laki itu memegang pinggang Alexsa.
Aku memilih untuk menunggu di parkiran dan menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Alexsa.
Sudah hampir satu jam tapi Alexsa tidak juga keluar akhirnya aku memilih untuk masuk ke dalam.
Pertama kali aku masuk mataku tertuju pada sepasang kekasih yang sedang melakukan sesi foto.
" Seharusnya aku dan Alexsa yang ada di sana" entah kemana rasa cemburuku semakin membara.
" Selamat siang pak,,, ada yang bisa saya bantu?" kata seorang wanita berpakaian rapi menghampiriku.
Aku sedikit berbalik membelakangi mereka dan mencoba untuk menghindar.
" Saya mau lihat jas" kataku sambil mengusap rambutku.
" Mari pak ikut saya sebelah sini" ucapnya mempersilahkan dengan ramah.
__ADS_1
POV Dikki Kelvin off