
Mungkin ini adalah penyesalan terdalam yang akan selalu membekas di hati Maya,apalagi yang bisa dia lakukan untuk menembus kesalahan ini.
Tanpa sadar Maya meneteskan air mata, merasa perbuatannya sudah berlebihan.
Sejenak Maya membuka tas dan mengambil handphone dan mencoba untuk menghubungi Mona.
Maya kembali menuju pintu dan menyalakan mesin mobil.
Beberapa kali menelpon tapi tidak ada jawaban dari Mona.
Maya akhirnya melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.
" Kantor pasti punya alamat Alexsa" batin Maya kembali mengotak-atik handphonenya.
Maya kembali menelpon Jaka yang sudah pasti menyimpan data seluruh karyawan.
" Halo Jaka tolong kirimkan alamat rumah Alexsa" pinta Maya dengan satu tangan menyetir mobil.
" Siap Bu Maya secepatnya akan saya kirim" jawab Jaka mengerjakan tugas yang diberikan Maya.
Tidak lama handphone Alexsa menerima pasan yang tidak lain adalah dari Jaka.
Setelah mendapat alamat Alexsa segera Maya menuju ke sana berharap dapat memperbaiki semuanya.
Maya sudah menyadari kesalahannya pada Alexsa, seharusnya dia tidak mengatakan hal itu.
...***...
Maya sudah sampai di depan alamat sesuai dengan alamat yang di kirimkan Jaka.
__ADS_1
" Ini rumahnya" kata Maya berkali-kali mengecek alamat dan menyesuaikan dengan alamat di pagar.
Karena sudah tidak sabar bertemu Alexsa, tanpa ragu Maya keluar dari mobil dan mencoba menekan bel.
Beberapa saat kemudian pak Abdi datang menemui Maya.
" Ada apa ya mbak?" tanya pak Abdi membuka pagar seperlunya.
" Saya Maya, apa Alexsa ada di rumah" kata Maya langsung menanyakan Alexsa.
" Maaf Bu, nona Alexsa baru saja pergi menuju bandara" jawab pak Abdi menjelaskan.
" Kalau boleh saya tahu Alexsa pergi ke mana ya pak?" tanya Maya mencoba mencari informasi.
"Masalah itu saya tidak tahu " jawab pak Abdi.
Tidak ada pilihan lain Maya kembali ke mobil.
Berpikir sebentar untuk menyelesaikan masalah ini dan berharap sang mama akan memaafkan dirinya.
" Aku harus ke mana lagi" kata Maya sudah putus asa.
Di tempat lain Alexsa, Viona dan Mona sedang dalam perjalanan menuju bandara internasional Soekarno-Hatta untuk pergi ke Medan.
Alexsa memilih untuk pergi sementara dari ibukota untuk menenangkan diri.
" Kak saya minta maaf sudah membuat ibu di pecat" kata Mona duduk di sebelah Alexsa.
" Tidak... ini bukan kesalahanmu Mona" jawab Alexsa tersenyum meskipun matanya masih sembab karena menangis tadi.
__ADS_1
Mama Diana yang duduk di depan hanya diam sambil memangku cucunya Viona dan di sebelahnya Papa Herman menyetir mobil.
" Sampai kapan kalian di sana kak?" tanya papa Herman.
" Liat nanti aja pa, Kita ga lama kok" jawab Alexsa.
" Yah sudah mama akan tunggu kalian pulang" jawab mama Diana mencium Viona tidak rela berpisah walaupun tidak lama.
Akhirnya mereka sampai juga di bandara Soekarno-Hatta karena waktu penerbangan sudah dekat Alexsa dan Mona langsung check on seperti biasa.
" Ma jaga kesehatan ya, papa juga jangan terlalu banyak minum kopi" kata Alexsa memeluk kedua orangtuanya bergantian.
" Iya kak,, kamu nanti di sana di jemput om Dika, papa uda kabari mereka tadi" kata papa Herman mencium pucuk rambut putrinya penuh kasih sayang.
" Selalu kabari mama ya kak" kata mama Diana memeluk Alexsa.
" Iya ma, kakak titip toko sama mama ya, Alexsa janji di sana ga akan lama kok" kata Alexsa sedikit berbisik pada mama Diana.
" Iya iya kak" jawab mama Diana.
" Mon kalo ada apa-apa kamu hubungi ibu" kata mama Diana kini pada Mona.
" Siap Bu" jawab Mona sambil memangku Viona yang sudah tertidur pulas.
Mama Diana mencium Viona tidak rela berpisah karena hampir setiap hari Mama Diana yang menjaga cucu kesayangannya.
" Mama sama papa hati-hati pulangnya" ucap Alexsa hendak pergi.
Alexsa dan Mona mulai mengikuti antrian untuk melakukan check in dan segera menuju pesawat
__ADS_1