
“ Saya benar-benar serius mencintai Alexsa om” jawabku.
Dia cukup punya keberanian untuk mengatakan itu berbeda dengan Dikki …. Batin Papa Herman.
Dari arah dapur tante Diana datang, sebentar percakapan kami berhenti.
“ Ini papa minum dulu” ucap tante Diana meletakkan air putih hampir penuh di hadapan om Herman.
“ Sebentar tante panggilkan Alexsa dulu ya Ken,” kata tante Diana dan menaiki tangga.
“ Iya tante” jawabku dengan tetap berusaha tersenyum di situasi sekarang.
Om Herman menatapku tajam seperti elang yang akan memangsa, melihat itu aku hanya menelan air liur. Entah apa yang sedang om Herman pikirkan.
“ Saya hanya ingin putri saya bahagia sudah cukup penderitaan yang dia alami selama ini” kata om Herman tampak raut kesedihan di sana yang aku jelas melihat itu.
“ Iya om, saya akan secepatnya mengenalkan Alexsa pada keluarga besar saya” kataku sambil mengangguk kepala.
“ Baiklah saya pegang omonganmu” kata Om Herman meneguk air putih pemberian tante Diana.
Aku sedang berpikir keras, apa keluarga besarku akan menerima hubungan ini atau sebaliknya.
Dari lantai atas terdengar suara Langkah yang ternyata itu adalah tante Diana sambil memangku Viona.
“ Alexsa sudah hampir selesai” kata tante Viona mendekati aku dan om Herman.
“ Viona “ sapaku pada bayi cantik putri kekasihku.
“ Om Ken…” katanya kegirangan sambil mengulurkan tangan seakan memintaku memangkunya.
Aku langsung berdiri dan mengambil Viona dari tangan tante Diana.
Bayi mungil dan cantik itu sekarang ada di pangkuanku, aku sudah benar-benar jatuh hati dengan keluarga ini.
“ Viona uda makan?” tanyaku dan duduk kembali begitu juga tante Diana duduk di sebelah om Herman.
" Uda om, tadi makan naget sama mama” jawab Viona dengan suaranya yang sangat menggemaskan.
Beberapa kali aku mencium pipinya yang putih mulus.
“ Viona bentar lagi tidur ya, “ kata tante Diana sambil tersenyum.
“ Iya oma” jawabnya memelukku.
" Pinter banget sih kamu" kataku mencium Viona gemas.
“ Eh itu Alexsa sudah selesai” kata tante Diana menoleh ke arah tangga.
Mendengar itu aku ikut menoleh ke arah tangga, Alexsa menuruni tangga dengan senyum di wajahnya. Berkali-kali aku jatuh cinta pada Alexsa, kecantikannya yang natural.
__ADS_1
Malam ini dia menggunakan dress merah dan anting yang sangat cocok dia kenakan.
“ Mama…”kata Viona menyambut seperti padaku tadi.
“ Maaf ya lama” kata Viona tersenyum.
“ Yah sudah kalian mau langsung pergi, sini sama oma” ucap tante Diana mengajak Viona.
“ Iya oma” jawab Viona turun dari pangkuanku dan berjalan pada tante Diana.
“ Om tante saya pamit mau ajak Alexsa makan malam di luar” kataku berdiri.
“ Iya iya hati-hati ya “ ucap Om Herman ikut berdiri.
Alexsa tersenyum melihat om Herman dan berjalan menuju pintu utama dan aku juga mengikutinya dari belakang. Aku benar-benar mala mini selain dapat mengajak Alexsa makan malam di luar, tapi bisa bertemu langsung dengan papa Alexsa.
Aku langsung berjalan lebih cepat dan membuka pintu mobil untuk Alexsa.
“ Makasih Ken” ucap Alexsa tersenyum dan masuk kedalam. Dengan samangat aku berlari kecil dan duduk di bangku pengemudi.
“ Kamu sangat cantik” pujiku menatap Alexsa lekat.
Pipi Alexsa tiba-tiba merona mendengar pujianku, dengan malu-malu dia memukul lenganku.
“ Kita berangkatnya kapan?” kata Alexsa tertawa kecil.
Aku langsung menyalakan mesin dan mulai mengemudi mobil meninggalkan rumah Alexsa.
“ hm… tidak om hanya bilang aku harus bahagiakan putrinya” jawabku sambil terkekeh.
Alexsa mengerutkan kening dan menatap jalan.
“ Bohong,,, papaku mana pernah sejarahnya ngomong gitu. Papa orang yang tegas “ protes Alexsa merasa ada yang salah dengan ucapanku barusan.
“ Ah tidak juga, tadi om Herman tidak begitu” ucapku.
“ Benarkah? Aku ga percaya” kata Alexsa lagi.
“ Iya sayangku,” ucapku menarik kepala Alexsa dan mencium keningnya.
“ Ken,,, kita lagi di jalan “ kata Alexsa menarik kepalanya.
Aku mengelus ujung kepala Alexsa penuh sayang dan memegang tangannya seperti biasa mengemudi menuju restoran.
“ Om Herman hobbynya apa sayang?” tanyaku penasaran.
“ Papa suka mancing “ jawab Alexsa sesekali menoleh padaku.
“ Mancing??? Sangat membosankan lebih baik beli , ga capek-capek nunggu” kataku sedikit jengkel dengan hobbi om Herman yang menurutku sangat membosankan menunggu ikan memakan umpan.
__ADS_1
“ hahaha memang, tapi kata papa memancing itu melatih kesabaran dan yang paling papa suka ikan hasil pancingan sendiri dan di beli itu rasanya beda. Ada rasa puas tersendiri” kata Alexsa menjelaskan.
Aku berpikir sebentar mungkin aku akan mulai belajar menyukai itu untuk mengambil hati om Herman.
“ Kita makan malam dimana?” tanya Alexsa kemudian.
“ Uda sayang, kamu nanti pasti tau” jawabku mempercepat laju mobil.
Akhirnya kami sampai di salah satu restoran kesukaanku, aku segera memarkirkan mobil tepat di depannya.
“ Wah keliataanya mewah banget” kata Alexsa sambil membuka sabuk pengamannya.
“ Bentar jangan keluar dulu biar aku yang buka pintu untuk pacar tersayang” kataku sambil keluar.
Aku membukakan pintu mobil dan memegang tangan Alexsa membantunya keluar.
Aku langsung mengandeng pinggang Alexsa dengan mesra dan masuk ke dalam restoran yang sudah aku pesan sebelumnya khusus malam ini untukku dan Alexsa.
Restoran sudah di hias seromantis mungkin dan beberapa sudut di beri bunga mawar putih kesukaan Alexsa. Satu meja yang sudah di hias dan terdapat lilin.
“ Ini kamu yang siapin” kata Alexsa dengan berseri-seri meskipun penerangannya kurang, tapi aku dapat melihat Alexsa sangat bahagia.
“ Iya sayang, ini malam ini khusus untuk kamu” kataku menatapnya.
Aku dan Alexsa berjalan mendekati satu meja.
Dengan sigap aku menarik kursi untuk Alexsa dan mempersilahkannya duduk.
“ Makasih sayang” ucapnya tersenyum.
Aku juga ikut duduk di depannya, tak berselang lama terdengar alunan musik romantis yang menambah suasana romantis malam itu.
Beberapa pelayan datang membawakan makan yang sudah aku pesan dan tidak lupa membawakan anggur seperti yang aku pesan.
“ Selamat menikmati makan malam tuan dan nona” katanya bersiap untuk pergi meninggalkan aku dan Alexsa.
“ Terimakasih” ucapku tersenyum.
Aku dan Alexsa menikmati makan malam romantis.
“ Kamu ga minum anggur ?” tanyaku yang sejak tadi tidak melihat Alexsa sama sekali tidak menyentuk gelas anggur miliknya.
“ Tidak Ken, itu akan merusak asi untuk Viona” katanya ragu-ragu.
Aku sontak kaget jadi ternyata Viona masih minum asi pentas dia pintar.
“ Oh begitu yah sudah aku akan memesan jus saja untukmu” kataku memahami Alexsa yang menjaga diri dari minuman beralkohol.
Segera aku memanggil pelayan dan meninta segelas jus untuk Alexsa.
__ADS_1
Jujur aku sangat kagum dengan Alexsa yang sangat mementingkan putri kecilnya.