Aku Menikah Karena Hutang

Aku Menikah Karena Hutang
Episode 11


__ADS_3

Sherly yang duduk dengan sangat gelisah di sebuah bangku taman. Sejak perkuliahan tadi usai ia tampak berfikir. Kenapa Andrew bisa datang tanpa memberitahunya.


kriing... kringg...!!


Suara handphone miliknya membuyarkan pikiran sherly, ia segera meraih telpon genggam miliknya itu. Disana tertera nama Tuan kejam calling...


" Ahh .. kenapa dia tiba-tiba menelpon ku. Apa yang ingin ia bicarakan lagi?" jawab Sherly gelisah.


Dengan perasaan yang ragu Sherly menjawab panggilan itu.


" H..hallo Tuan." Kata Sherly.


( " Dimana Lo.?") Jawab Andrew dengan nada ketus.


" Ahh... itu.. Tuan... S..saya lagi di kampus." jawab Sherly gugup bercampur takut.


Entah mengapa hari ini gadis itu sedikit merasa takut dengan Andrew apalagi dengan cara Andrew menatapnya, seolah-olah ia adalah gadis penjahat yang tertangkap basah.


(" Gue tau bodoh...!!! posisi Lo tuh dimana?") Tanya Andrew dengan kasar.


Jantung Sherly berdetak semakin kencang. Bahkan kali ini seluruh tubuhnya gemetar.


" Ss...saya di taman Tuan." jawab Sherly yang berusaha menguasai dirinya agar kembali tenang. Meskipun kenyataanya ia tidak bisa melakukan hal tersebut.


Mendengar jawaban Sherly sambungan telepon itu terputus begitu saja, membuat Sherly semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Andrew.


Apa yang dia inginkan saat ini. Itu yang terukir jelas di otaknya.


Sherly hanya bisa menghela nafas. Lalu ia hendak beranjak pergi dari tempat itu. Awalnya ia datang kesana untuk menenangkan nya, namun itu tidak ada artinya. Hatinya semakin gelisah bahkan takut sesuatu pasti akan terjadi padanya sejak kejadian tadi pagi.


Baru ia hendak melangkah sebuah tangan menarik tangannya kencang. Sehingga ia sama sekali tidak punya persiapan untuk menolaknya.


Andrew menarik tangan Sherly menuju sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari sana.


Sherly tidak berani menolak ataupun bertanya kepada Andrew yang sudah menariknya kasar bahkan tangannya terasa sakit karena genggaman itu.


Andrew meminta pak Budi untuk keluar dan naik taksi untuk pulang. Andrew memutuskan untuk menyetir mobilnya sendiri. Setelah memasukkan Sherly kedalam mobil Andrew mengitari mobil menuju kursi kemudi dan masuk kedalam. Setelah menyalakan mesin mobil itu melaju dengan sangat cepat. Sherly khawatir kalau ada yang melihatnya saat itu. Itu akan jadi musibah buatnya. Ia akan jadi serbuan media kampus, dan mereka pasti akan bertanya tentang apa hubungannya dengan Andrew. Secara tidak ada yang tahu tentang status nya sebagai nyonya muda Bastian.

__ADS_1


Sherly memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. Dia bertanya kepada yang sedang duduk di sebelahnya dengan ekspresi wajah yang menakutkan itu.


" Maaf Tuan saya lancang bertanya. Ini sedang di kampus. Dan kemana Tuan akan membawaku.?" tanya Sherly dengan sedikit ragu.


" Kenapa? apa Lo takut cowok Lo tahu klo Lo gue bawa pergi ah..?" Jawab Andrew dengan ketus.


Sherly menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang dikatakan Andrew.


" M.. maksud Tuan apa?" Tanya Sherly sedikit takut.


Andrew tersenyum miring penuh dengan misterius.


" Gue udah peringati Lo. Tapi Lo masih nggak mau denger apa kata gue. Trus buat apa Lo sok baik mau menerima pernikahan ini sementara lo udah punya kekasih. Lo jangan macem-macem deh " kata Andrew dengan nada ketus.


Sherly semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Andrew. mengapa ia selalu mengatakan hal tersebut.


Tapi percuma kalau harus terus mengatakan dan meminta penjelasan tentang hal yang sama sekali tidak Sherly mengerti.


Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota yang padat kendaraan.


Tidak ada sepatah katapun. yang terucap diantara mereka.


Sherly menatap kearah luar jendela. Matanya memang mengarah ke sebuah pemandangan hiruk pikuk suasana kota. Namun pikirannya terbang entah kemana. Pernikahan mereka baru seumur jagung. Namun sudah banyak masalah yang terjadi.


Kembali teringat akan sebuah kejadian dimalam pernikahan mereka. Malam pernikahan merupakan malam yang tidak akan pernah dilupakan oleh sepasang pengantin yang baru menikah. Namun Sherly tidak merasakan hal itu. Malam pernikahan yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan karena malam itu menjadi saksi bisu penghianatan suaminya sendiri.


Pikiran Sherly kembali saat matanya menangkap sebuah jalan yang sangat ia kenal.


" Tuan... kemana kau akan membawaku?" Tanya Sherly saat menatap jalan yang sangat ia kenal.


" Nanti Lo bakal tahu." jawab Andrew dingin.


Sherly menarik nafas panjang. Sherly semakin bertanya dalam hati kenapa Andrew mendadak membawanya pulang kerumah orang tuanya? Apakah ada hal penting yang akan terjadi?


🌷🌷🌷🌷


Mobil mewah itu berhenti di sebuah rumah mewah yang merupakan milik Bram dan Dina orang tua Sherly. Kemudian Andrew meminta Sherly untuk keluar dari mobil.

__ADS_1


Andrew melangkah cepat memasuki rumah Bram. Sherly yang masih bingung hanya bisa mengikuti kemana Andrew. Ia sama sekali tidak berani bertanya kepada Andrew kenapa dia membawanya kemari?


Andrew mengetuk pintu setelah berada tepat di depan pintu rumah Bram.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Tampak Dina dari balik pintu Yang terkejut melihat kedatangan Andrew dan Sherly. Karena sejak menikah ini pertama kalinya Andrew dan Sherly mengunjungi mereka.


Dina menyambut kedatangan menantu dan anaknya dengan perasaan bahagia.


" Selamat datang Nak Andrew" sapa Dina dengan senyum yang begitu hangat.


Namun Andrew tidak membalas ucapan Dina ia hanya melirik kemudian melangkah masuk. Sherly yang menyaksikan hal tersebut begitu sangat marah namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apapun. Sherly hanya bisa menelan nya sendiri. Ini sekian kalinya Andrew memperlakukan orangtuanya seperti ini.


Dina melirik Sherly yang tampak sedih akan tetapi Dina segera kembali tersenyum dan memeluk erat tubuh putri yang sangat ia rindukan itu.


Sherly sejak menikah tidak pernah menghubungi Dina. Walaupun hanya sekedar menanyakan kabar. Sherly sengaja melakukan hal tersebut agar Dina tidak mengetahui keadaanya yang sangat menyedihkan di pernikahannya.


Kini Sherly hanya. Isa berpura-pura bahagia dihadapan orang tuanya. Agar Bram dan Dina tidak merasa sedih.


" Hai... ma Apa kabar?" sapa Sherly saat pelukan meraka terlepas.


Dina tersenyum lebar. Senyuman yang membuat Sherly merasa lebih nyaman.


" Mama baik sayang. Bagaimana dengan mu nak?" tanya Dina yang masih tetap tersenyum


Sherly yang juga berusaha tetap tersenyum agar tidak menangis dihadapan Dina menjawab dengan anggukan kepala.


kemudian Dina mengajak Sherly masuk menyusul Andrew yang kini telah duduk dengan santai di ruang tamu.


Melihat kedatangan dua wanita itu Andrew segera menanyakan keberadaan Bram.


Dengan senyum yang masih setia bertengger di bibir Dina menjawab bahwa Bram sedang ada di ruang kerjanya.


Tanpa menunggu Andrew segera bangkit dan melangkah menuju ruang kerja Bram. Tanpa mengetuk pintu Andrew segera masuk dan alangkah terkejutnya Bram mendapati Andrew ada dihadapannya.


Bram tersenyum manis melihat Andrew ada dihadapannya.


Ia meminta maaf kepada Andrew karena tidak mengetahui kedatangan Andrew yang begitu tiba-tiba.

__ADS_1


Andrew hanya diam ia hanya tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan Bram. Tanpa banyak kata Andrew langsung menyerah Bram dengan berbagai pertanyaan.


Andrew mengatakan kalau Bram telah menipunya dan David demi kepentingan perusahaannya.


__ADS_2