
Kicau burung bernyanyi dengan sangat merdu nya, mentari pagi bersinar dengan sangat indah menyapa dunia yang siap akan berputar untuk hari ini.
Pagi ini banyak mahasiswa sedang berlalu lalang di koridor kampus. Sherly yang tengah melangkah dengan lemas hanya bisa menarik nafas berulang kali. Ia juga sering menatap layar ponselnya berulang kali. Seakan sedang menunggu seseorang menghubunginya.
Hatinya merasa sedikit hampa, sepi dan kosong. Seakan ada yang telah hilang dan pergi darinya. Entah kenapa? Sherly tidak mengerti.
Sejak kejadian di villa Andrew memutuskan untuk kembali ke Singapura untuk melanjutkan pekerjaannya. Sherly sama sekali tidak bertanya kepada pria itu saat Andrew menurunkan nya di depan areal apartemen tempatnya tinggal selama ia menikah. Sherly tidak bertanya ataupun mengatakan sesuatu kepada suaminya itu. Hanya kebisuan dan keheningan yang tercipta selama perjalanan dari villa ke apartemen mereka.
Andrew pun demikian, ia sama sekali tidak bergeming wajahnya tetap datar dan tenang selama perjalanan itu. Andrew tidak berani melakukan apapun meskipun itu hanya sekedar melirik gadis yang terlihat diam dan wajahnya tampak menggambarkan ketegangan yang luar biasa.
Andrew sendiri bingung harus mengatakan apa untuk memecah keheningan dan kecanggungan yang terjadi. Akhirnya ia memilih untuk tetap dengan mode diam dan dingin. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyembunyikan rasa bersalah dan tidak keberdayaannya.
Setelah menurunkan Sherly Andrew meminta Steven untuk mengantarnya ke bandara. Ia memutuskan untuk kembali ke Singapura. Kalau tidak ia kan mati dengan rasa yang sama sekali tidak ia sukai. Ia berlahan pasti akan merasa terbunuh kerena sebuah rasa bingung dan canggung. Andrew akhirnya terbang kembali ke Singapura, karena baginya kembali melakukan pekerjaan akan membuatnya melupakan sedikit rasa canggung itu. Andrew akan melakukan sesuatu nantinya untuk meminta maaf dan memecah kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
Kini yang bisa ia lakukan hanyalah bekerja. Untuk mengulur waktu sampai ia merasa siap untuk membuat gadis itu kembali seperti semula terhadap dirinya. Andrew juga dapat merasakan kecanggungan yang terjadi dengan Sherly ia terlihat tidak berani mengatakan sepatah katapun kepadanya. saat tahu hal itu Andrew benar-benar merasa sangat bersalah kepada gadis itu. Akan tetapi kembali terasa gengsi dan egonya menjulang tinggi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Seharian Sherly memilih untuk tetap diam. Ia sama sekali tidak bersemangat menjalani hari ini. Sherly juga tidak bisa berkonsentrasi pada perkuliahan yang ia ikuti. Pikirannya terbang terlalu jauh dan enggan untuk kembali lagi.
Ia bagaikan layangan putus yang pasrah akan di bawa kemana oleh angin yang sedang bertiup.
Sherly juga tidak mempedulikan bagaimana sahabatnya kali ini bertanya mengapa ia seperti itu. Sandra dan Lusi sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sejak lama Lusi ingin bertanya kepadanya. Karena ia merasa Sherly sedang menyembunyikan sesuatu yang begitu penting. Akan tetapi sejak ia kembali Sherly memilih untuk selalu menghindarinya. Lusi tahu kalau Sherly sedang selalu menghindarinya. Tiap kali ia akan memulai bicara dan bertanya kepadanya Sherly selalu beralasan capek dan akan segera pulang. Lusi pun kadang menawarkam diri untuk mengantar gadis itu selalu menolak dengab alasan ia membawa mobil sendiri lah... atau akan di jemput supir.
Sherly juga selalu menolak saat kedua sahabatnya itu akan bertamu kerumahnya. Sherly selalu menemukan alasan untuk menghindari mereka.
Lepas dari dua sahabatnya itu, Sherly kadang hatus terjerat Alex yang selalu ingin dekat dengannya. Sherly kadang harus terpaksa bersembunyi saat melihat sosok Alex dan teman-temannya yang lain.
Sungguh ironis hidup Sherly ia seperti buronan yang harus menghidari polisi. Sherly merasa seperti berada di dunia yang asing.
" A..ap..apa yang kau lakukan kak Stev? mengapa kau menghubungi Andrew?" kata Sherly dengan wajah paniknya.
Steven hanya tersenyum melihat wajah gadis itu.
" Memang kenapa kalau aku menghubungi boss ku? Ada sedikit pekerjaan." jawab Steven yang masih setia menatap jalan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Sherly hanya menganggukan kepala saja saat mendengar alasan Steven kali ini.
Sebuah suara pun terdengat dari seberang sambungan sana. Itu adalah suara Andrew. Sherly memilih berusaha tenang walaupun kenyataanya ia begitu tegang saat mendengar suara pria yang mebuatnya melakukan hal aneh sejak beberapa hari ini. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tangannya bergetar, nafasnya mulai tidak beraturan. Tangan nya mencengram tas yang ada di pangkuannya untuk mengurangi kegugupan yang sedang menerjang dirinya.
" Mmm... kenapa!" jawab Andrew dari seberang sambungan.
" Gue kengen bro." Kata Steven yang membuat Sherly hampir tertawa. Steven hanya menoleh sekilas melihat gadis itu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Wajah cantiknya berlahan memerah.
" Stev... Gue manusia normal woi... !!" Bentak Andrew dengan nada yang jelas terdengar kesal.
" Seriuss bro Gue bener- bener kangen sama Lo." Ledek Steven lagi.
" Sial Lo. Serius ingin robek mulut Lo. " Bentak Andrew yang membuat Steven menutup mulutnya.
Sherly ikut tertawa kecil dengan apa yang dikatakan Andrew kepada Steven. Mereka memang bukan hanya punya hubungan sebagai atasan dan bawahan namun mereka benar-benar seperti sahabat yang telah lama kenal.
Andrew akhirnya mulai meminta Steven untuk melaksanakan tugasnya menjaga Sherly dengan baik. Andrew juga mengatakan kalau ia tidak ingin Sherly merasa kesepian. Andrew mengijinkan Steven untuk menemani istrinya itu asal jangan mencari kesempatan. Andrew juga mengancam Steven kalau ia sampai berani berbuat yang macam-macam kepada istrinya itu.
__ADS_1
Andrew juga meminta Steven untuk mempersiapkan segala keperluan Sherly ,dan tak lupa Andrew meminta Steven untuk memberikan salah satu kartu black card miliknya kepada Sherly. Andrew juga mengatakan kalau password nya adalah tanggal lahirnya. Andrew juga meminta kepada Steven untuk menyampaikan pesan nya itu. Sherly boleh mengunakan kartu itu sesuka hatinya. Karena kartu itu tanpa batas limit. Andrew ingin Sherly lebih menikmati hidup menjadi nyonya muda Bastian. Andrew juga mengatakan kalau ia benci sikap Sherly yang selalu bertingkah sederhana. Apa lagi masalah penampilannya. Andrew ingin Sherly terlihat lebih luar biasa sebagai Nyonya Muda Bastian.
Sherly mendengar semuanya berubah jadi terharu. Ternyata Andrew begitu sangat memperhatikannya. Dibalik sikap dingin dan cueknya ia adalah laki-laki yang bertanggung jawab bahkan pria penyayang yang begitu hangat. Hanya saja Andrew tidak pernah mau mengekspos nya. Apa lagi memperlihatkannya kepada Sheryl istrinya sendiri.