
"Andrew apa kau tidak tahu kalau Ayah kandung Sherly lah yang membuatmu harus kehilangan Bunda Anna. Dan parahnya lagi kau menikahi anak dari pria yang sudah menghancurkan keluargamu. Kenapa kau masih mempertahannya. Lepaskan dia Andrew." Kata Helen yang berhasil membuat Andrew mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapanya.
" Tutup mulutmu." Jawab Andrew dingin.
" Andrew sayang. Terima kenyataan kalau itu adalah yang sebenarnya. " Kata helen dengan nada manja. Kini ia sengaja duduk di sofa yang terletak di hadapan Andrew. Ia sengaja duduk dengan sangat seksi untuk memancing aura kejantanan Andrew agar muncul dan itu akan membuat keuntungan untuknya. Semakin Andrew merasa bergairah saat melihatnya itu akan sangat baik baginya.
Akan tetapi usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil. Andrew begitu dingin bahkan sangat sulit di sentuhnya. Helen merasa kesal. Ia ingin membalas perbuatan itu dengan menyakiti yang jadi kelemahan Andrew yaitu masa lalunya.
" Hentikan itu Helen. Kalau kau hanya untuk mengganguku lebih baik kau pergi" Kata Andrew dengan nada dingin.
" Ahhh.. Sayang... kenapa kau bersikap dingin padaku. Aku tulus mencintaimu." kata Helen dengan nada manja.
" Hentikan helen. Aku sudah berulangkali mengatakan padamu. Hatiku milik seseorang dan akan selamanya seperti itu." Kata Andrew dengan tetap tidak mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas di hadapanya.
Helen begitu kesal mendengar apa yang dikatakan Andrew, ia berjanji dalam hati kalau ia akan membuat Andrew merubah hatinya. Ia bertekad semakin kuat untuk merebut Andrew. Helen ingin Andrew bertekuk lutut padanya.
" Andrew sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku? Apa kau lupa aku bisa melakukan sesuatu yang bisa membuatmu sadar kalau aku satu-satunya wanita yang pantas berada disampingmu." kata Helen dengan nada kesal. Lagi-lagi ia menayakan hal yang sama padahal sudah jelas kalau ia pasti akan mendengar jawaban yang sama.
__ADS_1
( dasar meong๐ ๐ )
Andrew hanya bisa mengehembuskan nafas kasar. Ia sudah tidak tahan lagi dengan Helen yang begitu sangat menganggu kehidupannya. Kini Helen bukan lagi wanita yang bisa membuat Andrew tersenyum. Dahulu memang keberadaan Helen membuat Andrew merasa nyaman dan bahagia. Namun sekarang tidak lagi. Yang Andrew butuhkan adalah Sherly hanya gadis itu uang selalu menghantui hati dan pikirannya.
Helen mendekati Andrew dengan tatapan mata nakalnya.
" Andrew apa perlu aku hubungi istri tercinta mu itu, dan aku ceritakan segalanya." kicau Helen yang sontak membuat Andrew mengangkat wajahnya memandang geram kearah Helen yang masih tersenyum manis namun sukses membunuh keberania Andrew saat itu juga. Kan tetapi Andrew tidak menyerah dengan hal itu.
Andrew berdiri dan melangkah mendekati Helen. Kemudian dengan dengan kasar ia mencengkram dagu Helen. Sehingga wanita itu meringis kesakitan.
" Kau tak mengenalku Helen. Aku bukan Andrew yang dulu kau kenal. Aku taknakan membiatkn wanita yang aku cinta ikut merasa menderita. Sebaliknya aku akan buat kau merasa dunia ini tak pantas lagi kau pijak. " Bisik Andrew ditelinga Helen dengan aura dingin yang begiti menusuk. Sehingga membuat hati Helen sedikit merasa ketakutan dengan ancaman tersebut.
Mobil mewah Andrew telah melaju kencang menuju tempat yang seharusnya ia datangi tiap hari. Hatinya bergemuruh menantikan hal itu kini ia sudah tidak akan menahan diri lagi.
Suara decitan rem mobil menggema di parkiran Apartment miliknya. Setelah itu Andrew keluar dari mobil tersebut. Kemudian ia melangkah dengan cepat menuju lift yang langsung terhubung dengan areal tempat tinggalnya.
Tangannya terasa dingin, jantungnya berdetak kencang saat pintu lift terbuka. Di depannya terpangpang jelas pintu rumahnya yang masih tertutup rapat. Dengan berlahan ia melangkah menuju pintu tersebut. Ia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum tangannya meraih gagang pintu tersebut. Dengan memantapkan hatinya ia akhirnya membuka pintu itu. Ini seperti masuk dalam sebuah wahana hantu yang menyeramkan bagi Andrew. Nyalinya ciut saat melihat sosok yang selama ini ia rindukan sedang duduk di sebuah sofa dengan mata yang terpejam. Wajah cantiknya membuat hati Andrew merasa sejukm Ada angin sepoi-sepoi yang mendayu-dayu menyejukkan hatinya.
__ADS_1
Wati yang baru saja keluar dari dapur terkejut melihat Andrew sudah berdiri di depan pintu. Ia ingin menyapa namun di potong oleh Andrew agar ia diam. Andrew tak ingin Sherly tahu bahwa ia sedang ada di rumah. Dengan langkah pelan pria itu menggendong tubuh Sheryl. Andrew begitu takut kalau Sheryl sampai terbangun. Jantung nya tidak mau di ajak kerja sama. Andrew menarik nafas pelan dan menghembuskannya pelan untuk mengembalikan dirinya agar tetap tanang.
Sherly merasa tubuhnya semakin nyaman. Ia seperti bermimpi bertemu dengan Andrew karena wangi tubuh Andrew begitu jelas di penciumannya. Tubuhnya terasa melayang. Mimpi itu begitu indah. Ia merasa begiti dekat dengan Andrew. Bibirnya tersungging senyum manis yang dapat dilihat Andrew.
Langkah Andrew sampai di kamarnya. Ia berlahan meletakkan tubuh Sherly di ranjang king size miliknya. Mata Andrew tak lepas dari wajah cantik Sherly yang begitu tenang saat tertidur. Andrew berlahan ikut berbaring di samping Sherly. Ia menatap lekat wajah itu.
" Sayang... semua akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi. " Batin Andrew.
Seutas senyum terukir di bibir Andrew ia begitu ikut bahagia walaupun hanya sekedar memandang wajah cantik itu sedang tertidur. Kegelisahan dan kerinduan yang selama ini ia rasakan sirna dalam sekejap mata. Kini perasaan yang selama ini menyiksanya setalah hampir sebulan sudah ia menghindar dan menahan diri untuk menemuin sang penjaga hatinya. Andrew berniat tidak akan pernah lari lagi dan membiarkan Sherly untuk menagis seorang diri lagi. Ia berjanji akan selalu menjaga gadis itu dan mempertahannya apapun yang terjadi nanti.
Sherly adalah pelita di hidupnya. Yang mampu menerangi hatinya yang telah lama gelap. Sherly bagaikan kobaran api yang mampu mencairkan hatinya yang telah lama membeku. Andrew tidak tahu harus bagaimana kalau Sherly pergi dari hidupnya. Andrew tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Sherly adalah semangatnya. Bahkan Sherly adalah seperuh nyawanya. Tak ada yang bisa menggantikan Sherly lagi.
CEO yang terkenal dingin dan arogan itu kini bagaikan kucing yang manis dan begitu jadi penurut.
Andrew berlahan mencium kening Sherly begitu lama dan begitu dalam. Ia meluapkan rasa sayangnya melalui ciuman itu. Sherly semakin tenggelam dalam mimpi itu. Ia bahkan enggan untuk membuka matanya. Senyum Sherly tak hilang dari bibir cantiknya itu.
Dunia dan hari itu ikut turut bahagia menyaksikan dua insan yang sedang melepas rindu mereka.
__ADS_1
Akan tetapi tidak dengan seseorang yang begitu marah menyaksikan keindahan itu.