
Anna kini telah menangis ia menatap sengit putra nya itu. Ia berfikir kalau Andrew adalah pria yang sangat cerdas. Namun kenapa ia masih saja bertahan dengan egois nya dan rasa takutnya itu. Ia terlalu terpengaruh terhadap orang yang selama ini menghasut dirinya.
"Andrew apa kau baik-baik saja" Tiba-tiba saja Helen datang dengan wajah yang dibuat sedemikian sedihnya.
Anna semakin geram dengan kedatangan Helen perempuan yang selama ini selalu bersikap baik namun kenyataanya adalah Helen wanita yang sangat licik. Ia akan mengunakan cara apapun untuk mendapatkan apa yang jadi keinginannya selama ini. Anna kembali teringat masa lalu dimana ia pernah mengalami hal yang sama Helen pernah merayu suaminya dengan tanpa sengaja ia ketahui namun David pria yang tegas maka dari itu ia tidak pernah tergoda dengan wanita rubah seperti Helen.
" Andrew aku mengerti perasaanmu. Lebih baik kau pergi bersamaku. Kau akan semakin terluka disini." Ajak Helen seraya mengelus punggung Andrew yang bergetar.
Andrew hanya diam menundukkan kepalanya Ia masih terisak seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.Ia sama sekali tidak peduli dengan kedatangan Helen, namun entah mengapa ia senang karena ada seseorang yang kini mengerti akan dirinya, ia tidak peduli siapa.
" Ayolah Andrew.. kau ikut denganku. Kau akan merasa tenang bila pergi dari sini. Apa kau mau terus menerus di pojokan oleh mereka yang merupakan keluarga mu sendiri, mereka semua jahat Andrew mereka semua lebih memilih menantu mereka ketimbang anak kandungnya." Bisik Helen yang masih terdengar jelas ditelinga Anna.
Wanita itu semakin geram dan kesal karena mendengar kata-kata Helen menghasut putranya.
" Apa maksudmu perempuan rubah." Kata Anna yang menarik keras lengan wanita itu agar menjauhi putranya.
" Akhh... Sakit Tante." Ringis Helen yang dibuat berlebihan, agar Andrew membantunya.
" HENTIKAN MA... !!!" Bentak Andrew dengan tatapan tajam kearah mamanya.
Anna terkejut dengan sikap Andrew.
" Kau lebih memilih wanita busuk ini. Kau lebih mendengarkan apa yang dikatakannya. " Jawab Anna tak kalah sengit.
__ADS_1
Andrew masih menatap tajam kearah Anna.
" Ya... Setidaknya ia mengerti perasaan ku ma. Daripada kalian yang selalu merasa san memojokkan ku. Kalian tidak ada yang mau mendengarkan aku." Jawab Andrew.
Anna mematung. Ia tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan putra nya itu.
" Baik... Kau memilih perempuan ini atau aku keluargamu dan istrimu. " tanya Anna pilu.
" Biarkan dia pergi bersama wanita yang mengerti akan dirinya ma. " Jawab Sherly yang sudah berada di ambang pintu dengan infus di tangannya. Suster membantunya mendorong kursi roda yang di duduknya.
Wajahnya terlihat sangat pucat. Bahkan wajahnya kini memancarkan dingin yang luar biasa. Tatapannya kosong ia bahkan tidak melirik suaminya yang berdiri tepat di sebelahnya.
" Sayang .. Kenapa kamu keluar. Istirahat lah. " Kata Andrew yang mendekati Sherly. Namun Sherly tidak menghiraukannya.
" Sherly... Sayang.. Aku ada disini." Pinta Andrew.
" Ma.. Plis.. Cepat bawa aku. Aku tidak ingin bertemu dengan pria yang telah membunuh bayiku ma." Kata Sherly dengan nada lemas.
" Sherly sebegitu sayangnya kau terhadap anak yang bukan anak dariku. Apa pria yang membuatmu seperti ini lebih penting daripada aku orang yang kau cintai. Kau benar-benar melukaiku Sherly. " Teriak Andrew pilu.
Bagaikan Sambaran petir di siang bolong, luka itu kembali disiram haram. Seperti itu rasa hati Sherly saat ini. Namun ia masih tetap tegar dan menahan air matanya agar tidak keluar. Hatinya sebenarnya sudah terkoyak habis.
Seisi ruangan itu pun terkejut terkecuali Helen. Ia bahagia dengan keadaan itu. Bahkan ia sudah merasa menang.
__ADS_1
Anna dengan cepat mengambil alih kursi dan sebelum meninggalkan tempat itu Anna memandang sengit kearah Helen yang hanya tersenyum licik. Ia bahagia melihat pertengkaran itu. Baginya ia berhasil menjauhkan Sherly dari Andrew.
Anna, Dina, dan Johan melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara Andrew hanya diam mematung. Hatinya kembali sakit dengan penolakan Sherly bahkan sikap Sherly yang semakin memojokkannya.
Helen tersenyum puas menyaksikan dram keluarga itu. Akhirnya keinginannya terkabul ia dapat memiliki Andrew seutuhnya. Kini hanya tinggal waktu. Ia akan terus menghasut dan menjauhkan Sherly agar pergi jauh dari hati Andrew.
" Kau lihat Andrew bagaimana wanita yang begitu kau puja. Apa dia memikirkan perasaanmu yang sebenarnya. Dialah yang egois, bukan kau Andrew. Akan tetapi semua keluarga mu telah terpengaruh terhadap perempuan Rubah itu." Kata Helen.
" Hentikan ucapanmu Helen. Sherly bukan perempuan seperti itu." Geram Andrew.
Helen terkejut dengan apa yang dikatakan Andrew padanya. Masih saja pria bodoh itu melindungi Sherly. Sebegitu besar itukah cinta Andrew kepada Sherly. Perih, kecewa, cemburu berbaur jadi satu di hati Helen. Ia berharap bisa berada di tempat dimana ia dipuja bagaikan dewi oleh Andrew. Namun kenyataanya itu masih dari keinginannya. Andrew masih saja membela wanita itu meskipun ia sudah bersikap menyakiti Andrew.
" T..tapi Andrew lihatlah sikapnya. Ia menyalahkan mu. " jawab Helen yang masih berusaha keras untuk menghasut pria itu.
" Wajar... Ia bersikap seperti itu. Ia pasti kecewa dengan ku, Karena ia harus kehilangan anak yang sudah dinantinya. Bahkan aku tidak kan pernah bisa memberikannya.Wajar ia kecewa. " Jawab Andrew dengan wajah sedih.
Helen semakin kesal mendengar hal yang menusuk hatinya tersebut. Andrew terus saja membela wanita itu. Bahkan sama sekali tidak membencinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di ruang inap VVIV milik Sherly kini wanita itu hanya memilih diam. Tatapan matanya kosong. hatinya benar-benar hancur karena sikap keras kepala Andrew yang tidak mengerti keinginan hatinya. Bahkan Andrew memilih mendengarkan wanita lain ketimbang dirinya. Kini buah hati yang selam ini ia nantikan telah pergi. Sherly menangis histeris. Ia sudah tidak bisa menahan nya lagi, dadanya terasa sesak. Hatinya hancur berkeping-keping dengan penolakan Andrew yang sampai saat anaknya pergi pun Andrew masih belum mau menerimanya.
Dina yang melihat itu segera memeluk erat tubuh Sherly, ia membiarkan putrinya itu menangis bahkan meluapkan perasaan sakitnya. Ia berharap esok Sherly akan kembali dan menerima semuanya. Dina dan Anna memutuskan untuk membiarkan wanita muda itu menangis dan mengambil keputusan. Apapun keputusan yang diambil Sherly nantinya. Mereka akan mendukungnya walaupun andai kata Sherly memilih untuk pergi Anna akan me dukungannya meski ada rasa tidak rela. Namun itu demi kebahagian putri mantunya yang telah banyak membuatnya bahagia bahkan mengembalikan kehidupannya yang telah hilang.
__ADS_1