
" Apa?" kata Sherly sedikit membuka lebar matanya.
Andrew tertawa lebar melihat ekspresi wajah sang istri. Merek berdua larut dalam perbincangan mereka. Meski jauh Dimata tapi hati mereka tatap terikat dengan erat.
Dina tersenyum senang melihat peristiwa itu. Ia bersyukur putri kesayangannya bisa menemukan pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Ada rasa perih yang menjalar dalam hatinya saat mengingat semua kejadian silam yang pernah menimpanya. Cinta dan sayang yang ia miliki untuk seseorang tidak pernah hilang. Selama ini Dina diam-diam menangis mengingat hal itu.
" Mama... ada apa?" tanya Sherly yang membuat Dina terkejut karena Sherly sudah ada di hadapannya.
Dengan cepat Dina memalingkan wajahnya, ia tidak ingin sang putri tahu kalau ia sedang bersedih.
" Ma... berhenti sembunyikan semuanya lagi. Katakan padaku ma!" Pinta Sherly menggenggam tangan Dina.
Dengan berat hati Dina menatap wajah sendu sang putri.
Sherly semakin memohon kepada sang mama untuk mau berbagi bebannya selam ini. Banyak hal yang ternyata Dina sembunyikan darinya.
Sherly mengajak Dina untuk duduk di teras belakang. Mereka akhirnya mau bicara seperti layaknya Anak dan ibu. Sherly tidak menyangka kalau kejadian itu begitu menyakiti Dina selama ini. Sherly semakin ingin bertemu dengan sang ayah yang selama ini tidak ia ketahui seperti apa wajahnya. Nama pun baru ia tahu kalau ayahnya bernama Johan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Hari semakin gelap. Dering telepon Sherly berbunyi. Ia merasa sangat sedih setelah mendengar semua dari sang ibu.
Dina akhirnya mau menceritakan semuanya kepada sang putri.
" Kenapa sayang? Ada apa denganmu?" tanya Andrew yang membombardir Sherly dengan berbagai pertanyaan saat melihat wajah Sherly yang tampak sangat sedih di di layar handphone miliknya. Ada rasa khawatir yan. menyelimuti hati Andrew ia tidak ingin ada sesuatu yang kembali mengusik pernikahan mereka.
Sherly tersenyum meski Andrew tahu senyum itu benar-benar terpaksa ia tunjukkan padanya.
" Ceritakan sayang... apa yang membuatmu seperti ini. Jangan buat aku khawatir. " kata Andrew.
__ADS_1
Sherly menarik nafas dalam-dalam ia berusaha untuk tidak bercerita karena ia tidak ingin menambah beban pikiran Andrew. Ia ingin menyelesaikannya sendiri ini adalah masalah nya dan ibunya. Andrew sudah cukup banyak beban yang ia pikul. Sherly tahu Andrew pasti sangat stres dengan pekerjaannya. Sherly sudah sangat berterima kasih dengan Andrew karena mau menampung Dina bersamanya.
" Baiklah.. aku tidak kan memaksamu untuk cerita sayang. Aku harap kau baik-baik saja. Dan bila nanti kau sudah siap untuk cerita kau boleh berkeluh kesah denganku." Kata Andrew dan mengakhiri panggilan itu karena ia harus segera rapat dengan investor penting.
Sherly menarik nafas dalam-dalam. Ia meminta maaf pada Andrew karena telah menyembunyikan sesuatu yang penting kali ini. Ia tidak mampu mengucapkan semuanya. Itu lebih baik ia simpan dalam hatinya. Ia tidak ingin membuat Andrew khawatir dengan yang lain selain pekerjaannya. Sherly ingi. Andrew segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena ia begitu merindukan pria itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
" Selamat datang" sapa Dina kepada seorang pengunjung yang baru saja memasuki butik.
Mata mereka bertemu. Dina menatap heran kepada wanita yang sedang menatapnya.
" Dina apakah itu kau?" kata perempuan yang mungkin usianya tidak jauh dari Dina.
Dina mengerutkan kedua alisnya. Ia berusaha mengingat siapa wanita yang tahu namanya itu.
" Anda siapa?" tanya Dina yang akhirnya menyerah setelah membuka lembar demi lembar memori di otaknya namun tak satupun ada nama yang keluar dengan wajah tersebut.
" Bisa kita bicara Dina?" kata Sang wanita.
Dina akhirnya menyetujui apa yang jadi keinginan sang wanita. Kemudian ia meminta sang wanita untuk menunggu di sebuah taman belakang yang memang di rancang khusus untuk bersantai di butik yang kini telah berpindah tangan menjadi milik Sherly. Butik tersebut adalah hadiah pemberian dari Andrew sebagai rasa kasih sayangnya kepada Sherly. Andrew sangat tahu apa yang jadi keinginan Sherly yaitu memiliki butik dengan namanya sendiri.
Dina membawa dua cangkir teh. Wanita tadi sudah duduk dan senyum ya mengembang setelah melihat kedatangan Dina dengan Nampan dan di cangkir teh di tangannya.
Dina duduk tepat dihadapan Sang wanita.
" Aku senang akhirnya kita bisa bertemu." Kata sang wanita.
Dina hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Mama kau disana?" suara Sherly yang memanggil namanya.
Sherly tersenyum saat melihat Dina sedang duduk bersama dengan seseorang di taman belakang. Sherly menghampiri sang mama.
Sherly menoleh kearah sang wanita yang sedang bersama dengan Dina. Sherly tersenyum bahagia ternyata wanita itu yang pernah ia jumpai di toilet tanpa sengaja waktu itu.
" Anda?" kata Sherly.
" Wah... gadis manis ternyata kau rupanya. Aku senang kita bertemu kembali." Kata wanita tersebut dengan senyum bahagia. Ia berdiri dari duduk nya dan memeluk erat penuh kasih tubuh Sherly.
Dina semakin penasaran dengan wanita tersebut. Kenapa ia begitu kenal dengan Sherly.
" maaf kejadian waktu itu nyonya." kata Sherly dengan sopan dan ikut duduk di sebelah wanita tersebut.
" Sudah lah itu sudah berlalu. Kau jangan panggil aku nyonya. Panggil saja aku Anna. Kalau kau mau." kata Anna yang memperkenalkan dirinya kepada Sherly.
Dina dan Sherly begitu terkejut mendengar nama tersebut. Ternyata dia adalah wanita yang sudah merebut ayahnya dari ibunya di malam pernikahan mereka.
" kau...!" kata Dina menggantung saat sebuah suara tiba-tiba memanggil Anna dengan sebutan Mama.
Andrew tiba-tiba berdiri di ambang pintu. ia terkejut dengan kehadiran sang mama di sana bersama dengan Istri dan juga ibi mertuanya. Andrew tidak tahu apa yang sudah terjadi. Rasa takut kembali menyeruak dalam diri Andrew.
Sherly dan Dina secara bersamaan menoleh arah suara tersebut. Begitupun Anna yang menutup mulutnya karena terkejut saat melihat sang putra berada di sana. Anna benar-benar tidak mengira akan bertemu dengan sang putra di tempat itu secara kebetulan. Pertemuan yang Tuhan rencanakan untuknya setelah sekian lama ia berusaha untuk menemui sang putra. Namun Andrew selalu menolak kehadirannya. Rasa rindu itu menumpuk bagaikan gunung tinggi yang menjulang tinggi.
" Andrew apa kau mengenal wanita ini?" tanya Sherly.
Andrew menganggukkan kepalanya.
" Dia adalah mamaku." Jawab Andrew dengan tatapan sedih, matanya mengisyaratkan sebuah kepedihan untuk wanita yang kini berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
Sherly dan Dina begitu terkejut mendengar fakta tersebut.Dina berfikir ini adalah sebuah kebetulan Sherly dan Andrew disatukan dengan anak dari perempuan yang telah merebut calon suaminya. Entah hutang apa yang membuat mereka harus membayarnya dengan cara seperti ini.
Kadang cinta dan takdir dapat membuat seseorang harus pasrah.