
" Andrew apa kau mau menerima usulan mama sayang?" tanya Anna via telefon.
Andrew tampak menghembuskan nafas kasar.
" Ma... Berulang kali aku katakan ke mama. Aku sudah ikhlas ma menerima bayi itu. Aku akan menganggap nya sebagai anakku sendiri. Kenapa mama harus kembali menoreh luka yang hampir mengering ini ma." Jawab Andrew dengan nada yang dibuat sesabar mungkin.
" Andrew... Mama ingin hasil yang jelas. Dan kau tidak menyesalinya nanti." Bentak Anna
" Ma...apa kenyataan yang terjadi bukan hal yang paling jelas ma. Mama sendiri melihatnya hasil cek kesehatan yang aku lakukan. Aku telah terlalu banyak bersabar kali ini ma. Plis.. Jangan paksa aku ma." Pinta Andrew.
" Tidak sayang .. Ini demi anak itu dan juga Sherly ia tidak terima kalau kau berfikir ia mengkhianatimu." Kata Anna
" Kenapa hanya perasaan Sherly saja yang mama pikirkan. Kenapa mama tidak memikirkan perasaanku yang begitu akan sangat terluka mengetahui hasilnya untuk kedua kalinya. Aku sudah mengatakan berulangkali bahkan jutaan kali aku tidak mempermasalahkan hal itu. Semuanya aku terima karena aku mencintai dia ma." Jawab Andrew dengan nada sendu.
" Menerima dan menghadapi kebenaran berbeda Andrew. Kau selalu melarikan diri dari kenyataan yang sebenarnya Andrew. Kau takut karena ego bukan karena takut kehilangan Sherly." jawab Anna lagi.
" Kenyataan dan realita apa yang harus aku hadapi. Apa penderitaan hatiku setelah mengetahui hasilnya tetap sama akan membuat kalian bahagia." bentak Andrew yang sudah tersulut emosi.
" Ma... Jawabanku tetap sama ma." kata Andrew lagi
" Baiklah... Silahkan pertahankan egoismu asal suatu hari kau jangan menyesal. " kata Anna dan mengakhiri pembicaraannya di telepon.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dalam kesendirian di sebuah kamar yang dulu menjadi tempat yang nyaman bagi Sherly kini menjadi tempat yang begitu menyedihkan. Bagaimana tidak ia sangat merindukan sosok suaminya ada di sampingnya saat ia mengalami pagi yang menyiksa dan malam yang kesepian.
__ADS_1
Sherly masih belum mau menemui suaminya itu. Meskipun dengan hati yang sedih ia menatap layar ponselnya yang menampilkan nama suaminya tercetak jelas di layar. Andrew setiap saat berusaha ia hubungi namun Sherly masih bersikeras meminta Andrew untuk melakukan cek kesehatan ulang yang tidak pernah Andrew setujui. Ia masih berfikir kalau Andrew menganggapnya sebagai pengkhianat di hubungan mereka. Rasa itu menyakitkan. Meski sebenarnya Andrew tidak mengatakannya langsung. Sherly masih yaki dengan kesalahan yang tak mau Andrew perbaiki.
Sherly yakin kalau anak ini adalah darah dagingnya. Karena hanya dengan Andrew Sherly pernah melakukan hubungan intim. Sherly selalu berusaha keras untuk mempertahankan harga dirinya. Karena baginya hanya suaminya yang telah terikat sebuah hubungan pernikahan dengannya yang berhak atas dirinya.
Tanpa di sadari air matanya mengalir begitu saja. kedua tangannya memeluk erat perutnya yang masih rata. Ia memberikan kekuatan untuk sang cabang bayi agar terus kuat dan sabar. Sherly meyakinkan pada dirinya bahwa Tuhan akan memberikan hal yang terbaik padanya dan juga calon anaknya yang ada dalam perutnya tersebut.
" Andrew betapa aku merindukan kamu. Kapan kau akan mau melakukan hal yang menjawab keraguanmu. bagaimana aku meminta mu lagi hanya kau yang bisa menjawab sendiri keraguanmu itu. " Gumam Sherly pelan.
Air bening kini telah membasahi pipinya, hatinya terasa pilu.
BRAKKK..
Tiba-tiba pintu kamar Sherly terbuka dengan paksa.
" Sayang... sampai kapan kau akan menghukum ku seperti ini. Kau tak tahu betapa tersiksanya aku sayang.." Rengek Andrew dengan wajah lelahnya. Penampilannya tampak sangat kacau. Wajah terpancar jelas begitu banyak beban yang sedang ia hadapi.
Bagaimana ia tidak terkejut. Baru beberapa menit ia mengharapkan suaminya ada di dekatnya kini Tuhan seolah-olah menjawab panggilan hatinya itu. Ikatan batin mereka begitu kuat. Sehingga Andrew juga merasakan harus bertemu dengan Sherly apapun yang terjadi. Ia sudah tidak peduli lagi dengan hal lain selain bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah hampir 2 Minggu lebih membuatnya tersiksa bagaikan di neraka.
" Apa itu caramu menyambut suami yang tengah dilanda kerinduan Sherly." Jawab Andrew merubah raut wajahnya menjadi sedikit datar.
" Aku tidak ingin bertemu dengan suami yang tak pernah mau mewujudkan keinginanku.". Kata Sherly memalingkan wajahnya.
Andrew tampak menarik nafas dan menghembuskan ya dengan cepat. Ia berusaha mati-matian untuk tetap menjaga ketenangan hatinya agar tidak tersulut emosi. Karena ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi bila ia tersulut amarah, segalanya yang ia lakukan akan di luar kendalinya.
" Sherly berhenti memancing amarahku" Kata Andrew dengan nada yang masih berusaha sabar.
__ADS_1
" Kau yang memancing amarahku Andrew. Ribuan kali aku katakan agar kau melakukan cek ulang kesehatanmu. Tapi kau tidak pernah mau. Betapa terlukanya aku dengan pikiran mu yang berfikir kalau ini bukan darah dagingmu. Kau tak pernah mau mengerti perasaanku." Terik Sherly yang kini telah terisak.
" Kau yang tak mengerti ribuan kali juga aku katakan padamu, kalau aku tak pernah mempermasalahkan hal itu itu tulus mencintaimu bagaimanapun kau Sherly. " Jawab Andrew di tak mau kalah.
Sherly tersenyum getir.
" Apa itu namanya kau tulus mencintai aku Andrew. Hanya rasa egomu yang mencintaimu bukan hatimu." Jawab Sherly dengan tatapan dingin.
" Apa sih maumu Sherly." Jawab Andrew yang kini telah tersulut emosi. Ia menggenggam erat tangan Sherly. Sehingga gadis itu meringis.
" Andrew kau menyakitiku."
Andrew tak peduli dengan rintihan Sherly. Ia sudah dikuasai amarah.
" Aku sudah berusaha sabar dan sabar untuk menghadapi mu. Namun kau terus memancing emosi yang mati-matian aku redam. Apa kurangnya aku bagimu. Apa aku kurang menerimamu, apa aku kurang percaya kau. " Bentak Andrew yang membuat Sherly hanya diam menatap suaminya dengan tatapan tidak menyangka.
Sherly menepis tangan Andrew dengan kasar.
" Pikirkan Sendiri Tuan Muda. Apa yang aku lakukan demi kebaikan keluarga kecil kita. Aku tidak ingi kau berfikiran anak ini buka. Darah dagingmu"
" Tapi itu kenyataanya Sherly. Aku mandul. Apa kurang jelas." Bentak Andrew yang sudah sangat kecewa dengan. Sherly yang terus mendesaknya.
Sherly terdiam. Ia semakin terisak.
" Kau tidak mandul Andrew. Ada yang salah dengan pemeriksaan yang kau lakukan." Lirih Sherly di sela tangisannya.
__ADS_1
" CK... Apa kau lebih tahu dari dokter yang memeriksaku. Apa kau lebih pintar darinya. Apa kau cenayang atau dukun yang tahu betul kalau dokter itu melakukan kesalahan. Plis... Sherly Margaretha hentikan sikap mu ini. Semua yang aku lakukan demi kita. Demi hubungan pernikahan kita. Aku tidak ingin hanya hal kecil seperti ini membuat kau harus mendesak ku seperti ini. " Kata Andrew dengan wajah yang sudah dikuasai iblis. Nafasnya memburu bahkan jantungnya kini berdetak 1000 kali lebih cepat.