
Mendengar apa yang dikatakan Andrew, Helen merasa tidak puas. Ia kembali kesal karena Andrew begitu mencintai Sherly meskipun Sherly telah mengkhianatinya. Helen berusaha keras memancing kemarahan Andrew namun untuk saat ini Andrew masih bisa diam.
" Sayang. ada apa?" panggil Sherly yang mendapati suaminya tengah diam di depan jendela.
Andrew berusaha tetap tersenyum dihadapan Sherly.
" Aku baik-baik saja sayang.. Kenapa kau kemari ada apa bukannya istirahat." Kata Andrew yang segera membantu Sherly untuk berbaring.
" Andrew aku baik-baik saja. Jangan perlakukan aku seperti bayi. " Rengek Sherly.
" Tidak sayang, Awal kehamilan kau pasti akan sangat kesulitan. Aku harap anak papa tidak menyusahkan mami mu ya." Kata Andrew yang berkata kepada sang bayi yang ada dalam perut Sherly. Meski perut Sherly belum terlihat namun entah mengapa Andrew merasa nyaman melakukan itu. Hatinya sebenarnya berperang karena kenyataan yang ia harus rahasiakan dari orang yang paling ia sayangi. Ia tidak ingi Sherly terluka dan merasa menderita dengan ingatan menyakitkan sebulan yang lalu.
" Andrew apa kau bahagia akan menjadi seorang ayah?" tanya Sherly yang spontan membuat Andrew terdiam sejenak. Hatinya berkecamuk kembali.
" Andrew kenapa kau diam. Apa kau merasa ini terlalu cepat ." Kata Sherly yang mendapati Andrew diam tidak menjawab pertanyaannya.
" Ah.. Tidak sayang. Apa maksud pertanyaan mu itu. Hal apa yang kau tanyakan tentu saja aku orang yang paling bahagia karena sebentar lagi ada anak yang memanggilku papi." Jawab Andrew dengan wajah yang bahagia.
Dalam hati ia selalu meminta maaf kepada Sherly karena sebenarnya ia telah berbohong kepadanya. Dan Ia tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya kepada Sherly. Yang terpenting baginya saat ini adalah kebahagiaan Sherly hanya itu yang Andrew butuhkan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
" Apa kau bahagia sayang." tanya Anna yang tiba-tiba saja masuk ke ruang kerja Andrew dan mendapati putra kesayangannya itu tengah termenung.
Andrew mengangkat wajahnya dan sekuat tenaga mengembalikan ceria di wajahnya.
" Apa maksud mama?" tanya Andrew kepada wanita paruh baya yang kini telah kembali padanya.
" Lalu mengapa akhir-akhir ini mama melihatmu selalu diam dan termenung. Mama merasa kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan. " Kata Anna yang begitu yakin dengan naluri keibuannya.
" Tidak mama, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya lelah. Aku harus menemui Sherly ma." Kata Andrew dan memilih beranjak pergi. Ia tidak ingin Anna terus menerus menerjangnya dengan berbagai pertanyaan yang takutnya akan membuka kenyataan.
Anna menarik nafas dalam-dalam ia tahu ada sesuatu yang Andrew sembunyikan darinya.
" Ada apa sayang.?" tanya Andrew yang melihat Sherly sedang diam dengan wajah yang sedih.
" Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Tanya Andrew saat melihat gadis itu hendak duduk di ranjang.
Sherly menggelengkan kepalanya, ia masih tetap tersenyum bahagia meski wajahnya terlihat sangat pucat.
" **** .. kenapa anak ini buat Sherly menderita. Aku telah mengijinkan dan menerimamu ada di rahim istriku. Setidaknya jangan buat dia menderita." Batin Andrew kembali berkecamuk.
Andrew tampak sangat tidak berdaya kali ini. Entah apa yang harus ia lakukan. Hatinya memilih untuk menolak sejujurnya. Namun Kebahagiaan keluarga besarnya tidak mungkin ia patahkan begitu saja.
__ADS_1
Sherly menatap heran dengan aura yang muncul di wajah tampan itu. Sherly merasa ada yang salah dengan suaminya. Sejak ia di beti kejutan yang luar biasa ini dari Tuhan, Andrew tampak tidak sepenuhnya bahagia. Sherly dapat merasakan hal itu. Namun ia berusaha menepis jauh-jauh perasaan itu. Sherly berusaha berfikir positif, mungkin hal itu terjadi begitu tiba-tiba. Setelah banyak masalah yang menimpa mereka belakangan ini. Kini ia dapat sebuah kejutan. Sherly mengerti kalau Andrew pasti akan sangat terkejut dengan kedatangan anak diantara mereka setalah hampir 1 tahun menikah. Secara mungkin Andrew belum siap atau mungkin ada hal lain yang membuat pria itu sedikit berubah.
Sherly bangkit dari tidurnya. Ia berjalan kearah Andrew yang kini memilih untuk diam di depan jendela.
" Ada apa Andrew? apa ada masalah?" Tanya Sherly yang memeluk erat tubuh atletis milik Andrew dari belakang. Andrew sedikit terkejut karena ia berfikir kalau Sherly sudah istirahat di ranjang. Andrew berusaha kembali mengembalikan mimik wajahnya ke mode hangat.
" Sayang.. kenapa kau tidak istirahat? apa ada sesuatu yang kau inginkan biar aku bantu." Kata Andrew mengalihkan pikirannya.
Sherly menggelengkan kepalanya. ia bahkan semakin erat memeluk pria itu.
" Aku hanya butuh kamu suamiku." jawab Andrew pelan.
Mendengar hal itu hati Andrew serasa tertusuk ribuan belati. Antara sakit dan perih. Entah kekuatan apa yang membuat perkataan Sherly begitu menusuk hatinya. Harusnya hal itu membuat Andrew bahagian Karena Sherly inginkan dirinya ada di dekatnya kali ini.
" Sherly andai aku bisa nyata membaurkan kebahagiaan ini padamu.Aku akan senang dan bahagia mendengar hal itu. Namun kenyataanya tidak. Kepahitan menjalar di diriku. Aku adalah pria pengecut yang tidak bisa memberikan kebahagiaan dunia padamu." Batin Andrew.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Hari lepas hari. Malam berganti siang dan tanpa terasa 1 bulan sudah berlalu. Andrew selalu menjadi pria yang sigap saat Sherly membutuhkan sesuatu di masa awal kehamilannya ini. Ia masih tetap menyimpan rahasia itu. Yang ada di benaknya kali ini hanyalah senyum Sherly dan keluarganya saat melewati tiap detik kehamilan Sherly. Namun tidak dengan Andrew sejujurnya tiap detik peria itu merasa berlahan seperti terbunuh oleh kenyataan yang masih ia simpan dengan rapat dalam hatinya.
Pagi ini Andrew meminta ijin kepada Sherly untuk kembali bekerja karena banyak pekerjaan yang ia tinggalkan demi mengurus Sherly. Sherly memang sering kali meminta Andrew untuk tidak meninggalkan pekerjaannya namun keras kepala pria itu membuat Sherly hanya bisa menerimanya.
__ADS_1
Sherly menyiapkan segala keperluan suaminya sebelum ia bekerja. Awalnya Andrew tidak ingin meninggalkan gadis itu seorang diri di rumah meskipun ia kini telah menambah pekerja rumah tangga untuk membantu sherly. Akan tetapi tetap saja Andrew tidak bisa tenang meninggalkan Sherly seorang diri di rumah itu.
" Pergilah Andrew jangan tunda lagi, pekerjaanmu sudah menunggu. Aku baik-baik saja di rumah. Ada bibi yang membantuku, dan aku bukan anak kecil yang selalu kau awasi." Kata Sherly kepada sang suami dengan wajah pucat.